Minggu, 24 Mar 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Ditinggal ke Sawah, Rumah Ambruk

Tak Bisa Ditempati, Mengungsi di Rumah Kerabat

13 Maret 2019, 12: 10: 25 WIB | editor : Adi Nugroho

Roboh

RAPUH: Tim BPBD Nganjuk dan relawan LPBPI NU mengecek kondisi rumah Sopiah yang ambruk. Hingga kemarin, material berupa genting dan reruntuhan dinding belum dibersihkan. (Rekian - radarkediri.id)

NGANJUK-Sopiah, 52, dan Jufri, 59, harus mengungsi ke rumah kerabat sejak Senin (11/3) lalu. Pasalnya, rumah yang ditempati oleh pasangan suami istri (pasutri) ini mendadak ambruk di siang bolong. Diduga, bencana itu terjadi akibat kondisi rumah yang keropos.

          Informasi yang dihimpun koran ini menyebutkan, rumah Sopiah ambruk sekitar pukul 11.30. “Saat itu saya dan suami sedang ada di sawah. Jadi tidak tahu langsung kejadiannya,” ujar perempuan tua itu ditemui di rumahnya, kemarin.

          Lebih lanjut Sopiah mengatakan, sejak pagi dia dan suaminya sudah pergi ke sawah. Dia sibuk menanam padi. Sedangkan Jufri mendapat tugas mencabut benih padi yang baru disemai. Sopiah baru mengetahui jika rumahnya roboh setelah diberi tahu Mujib, 59, tetangganya.

          Kepada koran ini Mujib mengatakan, saat kejadian dirinya tengah berada di belakang rumah Sopiah. “Tidak ada angin atau apa. Tiba-tiba saja rumahnya ambruk,” tutur Mujib.

          Suara benturan yang keras langsung mengagetkan dirinya. Tak ayal dia langsung mengecek kondisi rumah Sopiah yang ambruk di bagian ruang tengah dan kamar tidur itu. “Ada banyak peralatan rumah tangga yang tertimpa batu bata dan genting,” lanjut Mujib.

Hanya dalam hitungan detik, warga sekitar yang mendengar suara benturan juga ikut mendatangi rumah Sopiah. Setelah mengetahui bangunan dalam kondisi kosong, mereka langsung mencari sang pemilik rumah di sawah.

          Bencana yang menimpa Sopiah itu jadi perhatian badan penanggulangan bencana daerah (BPBD). Kemarin, tim BPBD bersama relawan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdatul Ulama (LPBPI NU) mengecek kondisi rumah. “Sebelum rumah ambruk, Minggu (10/3) sempat terjadi hujan deras,” terang Plt Kabid Kedaruratan dan Logistik Agus Sulistyono.

          Hujan deras itu, diprediksi Agus menjadi salah satu penyebab terjadinya rumah roboh. Selain tidak kuat menahan beban setelah terjadi hujan, bangunan rumah juga diduga sudah keropos.

Sebab, saat tim BPBD mengecek kondisi dinding rumah, terlihat jika batu bata merah tidak lagi menempel dengan pasir bercampur semen yang jadi perekatnya.

Hal itu pula yang diduga membuat rumah ambruk. Apalagi, rumah pasutri lansia itu juga sudah cukup tua. “Dibangun pada 1957 lalu,” tandas Agus yang kemarin memberikan bantuan sembako.

Lebih jauh Agus mengungkapkan, bencana yang terjadi di rumah Sopiah kemarin tidak tergolong bencana alam. Karenanya, penanganan lanjutan merupakan kewenangan dinas sosial.

          Dalam kesempatan kemarin, Agus juga langsung berkoordinasi deengan perangkat desa. Mereka diminta melaporkan kejadian tersebut ke Pemkab Nganjuk.

(rk/rq/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia