Minggu, 24 Mar 2019
radarkediri
icon featured
Features

Tertimpa Pohon Tumbang, Candi Mini Rusak

Disparporabud Siap Amankan di Museum

12 Maret 2019, 16: 26: 58 WIB | editor : Adi Nugroho

penemuan candi

RETAK: Beberapa bagian candi mini rusak setelah tertimpa pohon tumbang Minggu (10/3) lalu. Tim disparporabud yang mengecek lokasi lantas memutuskan memotong pohon agar bisa dibersihkan. (Rekian - radarkediri.id)

NGANJUK - Candi mini di Desa Ngepung, Patianrowo rusak. Ini setelah kompleks candi berukuran kecil-kecil itu tertimpa pohon tumbang pada Minggu (10/3) lalu. Kemarin tim dari dinas pariwisata, pemuda, olahraga dan kebudayaan (disparporabud) mengecek lokasi situs di tanah milik warga itu.

          Menurut Kasi Sejarah, Seni Tradisi, Museum dan Kepurbakalaan Disparporabud Amin Fuadi yang kemarin mendatangi lokasi bersama juru pelihara (jupel), mendapati sebagian candi tersebut retak. “Karena tertimpa pohon. Kami baru menerima laporan kalau pohonnya tumbang lagi Minggu kemarin,” ujar Amin.

          Pantauan koran ini, salah satu pohon yang tumbang di kompleks candi adalah pohon sengon berdiameter 20 sentimeter dengan ketinggian delapan meter. Dahan-dahan pohon itu menimpa beberapa bangunan candi kecil yang ada di sana.

Situs Candi Mini (rekian - radarkediri.id)

          Untuk menyisihkan pohon yang tumbang tersebut, kemarin tim disparporabud membawa gergaji mesin dan memotongnya. “Kami minta agar semua pohon di sekitar candi dipotong. Jadi, terlihat lebih bersih dan terang,” lanjutnya.

Melihat kondisi kompleks candi yang tidak terawat, Amin lantas berkoordinasi dengan pihak desa dan pemilik lahan. Dia menegaskan agar mereka bisa merawat benda purbakala tersebut. “Jika memang enggan untuk merawat, benda purbakala ini akan diamankan di Museum Anjuk Ladang,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Desa Ngepung, Patianrowo Hendra Wahyu mengatakan, pihak desa mengalami kendala perawatan lantaran tanah tempat lokasi candi merupakan milik pribadi warga. Saat ini, tanah tersebut dalam penguasaan ahli waris.

Jika memang ada instruksi dari Pemkab Nganjuk untuk merawat candi tersebut, Hendra menyebut pihaknya siap melaksanakan. “Akan dijadikan destinasi sejarah. Tetapi kami minta agar pihak dinas menjabarkan alur sejarah benda purbakala itu,” pinta Hendra.

          Dia khawatir, langkah yang akan diambil desa bisa menimbulkan kegaduhan di masyarakat. Sebab, candi yang dilaporkan pada 1990 lalu itu berada di tanah pribadi warga.

          Terpisah, Subandri, pemilik lahan tempat candi mini yang tinggal di Desa Katerban, Baron mengaku tidak keberatan jika candi di tanahnya jadi destinasi sejarah. “Selama ini saya ingin tempat ini dipagari dan dirawat, tapi tidak ada uangnya,” aku pria yang bekerja sebagai petani itu.

          Untuk diketahui, bangunan candi berukuran kecil-kecil itu sudah ada di pekarangan Subandri sejak puluhan tahun silam. “Sejak saya kecil sudah ada di sana dan tempatnya tidak pernah berubah,” imbuh Subandri.

          Diduga, candi mini yang terbuat dari batu itu dahulu digunakan untuk peribadatan umat Hindu. Ada pula yang menyebut candi mini merupakan petilasan Gajah Mada. Hingga saat ini masih belum ada petunjuk resmi kapan candi yang menyerupai pura berukuran kecil tersebut dibuat.

(rk/rq/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia