Minggu, 24 Mar 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Tak Ada PH, Sidang Pembunuhan Banyakan Tertunda

Ali Terancam Seumur Hidup

12 Maret 2019, 12: 55: 58 WIB | editor : Adi Nugroho

sidang pembunuhan banyakan

BATAL SIDANG: Terdakwa Ali Muhson saat berjalan menuju mobil tahanan usai sidang perdana kasus pembunuhan Banyakan. Sidang ditunda menunggu Ali mencari penasehat hukum. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

KEDIRI KABUPATEN – Sidang kasus pembunuhan yang terkenal dengan sebutan ‘Pembunuhan Banyakan’ seharusnya mulai bergulir kemarin (11/3). Hanya saja sidang di Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Kediri tersebut tak bisa dilangsungkan hingga tuntas. Penyebabnya adalah sang terdakwa, Ali Muhson, 36, belum didampingi penasihat hukum.

Hakim pun memutuskan sidang ditunda. Sembari memberi kesempatan warga Dusun Nglaban, Desa Maron, Kecamatan Banyakan itu mencari PH. Rencananya sidang lanjutan akan berlangsung Senin (11/3) mendatang.

“Sidang ditunda karena terdakwa belum didampingi penasihat hukum. Padahal melihat materi dakwaan dia terancam hukuman berat,” kata Herjuna Wisnu Gautama, ketua majelis hakim, yang ditemui setelah berlangsungnya sidang.

Pembunuhan Banyakan

Pembunuhan Banyakan

Masih menurut Wisnu, terdakwa Ali menegaskan bakal mendatangkan PH sendiri. Karena itu terdakwa diberi kesempatan mencari pengacara yang akan membela dirinya selama persidangan. Seandainya terdakwa Ali tak sanggung mendatangkan pengacara, negara yang akan memberi fasilitas itu.

Ali adalah terdakwa dari kasus pembunuhan yang berlangsung di Dusun Nglaban. Peristiwa berdarah itu terjadi Kamis (22/11) tahun 2018. Dengan korban masih warga Desa Maron bernama Baidhowi, 40. Korban tepatnya adalah warga Dusun Geneng. Insiden berdarah itu dipicu faktor perselingkuhan antara korban dan istri terdakwa.

Sikap hakim yang meminta terdakwa didampingi pembela itu sangat beralasan. Sebab, melihat pasal yang disiapkan jaksa penuntut umum (JPU) di kasus ini, terdakwa Ali bisa terancam pidana seumur hidup. Yaitu berdasarkan pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Pasal itu terkait dengan pembunuhan berencana. Bila terbukti pasal ini mengancam pelakunya dengan ancaman tertinggi hukuman seumur hidup.

Sebelumnya, selama berlangsungnya penyidikan polisi, laki-laki yang bekerja sebagai buruh tani tersebut mengaku sadar dengan perbuatannya. Ali mengaku ketika melakukan pembunuhan terhadap Baidhowi dalam kondisi sadar sepenuhnya.

Selain itu, berdasarkan data di situs Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) milik PN Kabupaten Kediri, Ali juga dijerat pasal berlapis dalam kasus tersebut. Selain pasal 340 itu JPU masih menambahkan pasal 338 dan pasal 351 ayat 3.

Pasal pelapis pertama berisi tentang tidak sengaja menghilangkan nyawa orang lain. Ancaman hukumannya 15 tahun penjara. Sedangkan pasal 351 ayat 3 menjerat dengan tindakan penganiayaan. Dengan hukuman paling lama tujuh tahun penjara.

“Melihat tingginya ancaman hukuman itu maka terdakwa harus didampingi penasihat hukum,” tegas Wisnu.

Sementara itu, sidang kemarin sempat berlangsung sebentar di Ruang Cakra. Sekitar 15 menit. Begitu mengetuk palu tanda dimulainya sidang, Ketua Majelis Hakim Herjuna Wisnu Gautama langsung membuka sidang. Namun, sebelum meneruskan dengan agenda pembacaan dakwaan oleh JPU Agus Kurniawan, Wisnu mengarahkan pertanyaan terlebih dulu kepada terdakwa.

“Bagaimana terdakwa untuk penasihat hukum, mau menunjuk sendiri atau dari pengadilan?” tanya Wisnu.

Ali kemudian menjawab bahwa akan mendatangkan sendiri pembela dirinya. Setelah mendengar jawaban itu hakim memutuskan menunda sidang.

Insiden Berdarah di Banyakan

-         Kasus terjadi 23 November 2018. Saat itu terdakwa Ali membunuh korban dengan sabetan sabit. Korban meninggal di lokasi kejadian, di Dusun Nggeneng.

-         Sehari sebelumnya terdakwa mendapat pengakuan dari istrinya yang menyukai korban. Dari pengakuan itu terdakwa menjebak korban dengan mengirim pesan WA dari HP istrinya,  mengajak korban bertemu.

-         Usai melaksanakan aksi sadisnya, pelaku pulang ke rumah. Istrinya yang mengetahui tindakan Ali sempat meminta pelaku menyerahkan diri ke polisi.

-         Polisi yang mendapat laporan mendatangi rumah pelaku. Menangkap pelaku tanpa perlawanan.

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia