Minggu, 24 Mar 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Ribuan Hektare Terserang Hama

Produktivitas Panen Menurun Drastis

12 Maret 2019, 11: 17: 21 WIB | editor : Adi Nugroho

Panen

TERANCAM GAGAL PANEN: Suyono, petani di Desa Sombron, Loceret menunjukkan tanaman padinya yang terkena penyakit potong leher. Padi yang telah menguning itu bulirnya kosong sehingga terancam merugi. (Anwar Basalamah - radarkediri.id)

NGANJUK–Produktivitas padi di musim tanam tahun ini terancam merosot. Sebab, ribuan hektare padi diserang jamur prycularia yang menyebabkan penyakit potong leher. Dampaknya, para petani di sejumlah kecamatan mengalami gagal panen alias puso.

          Salah satunya diungkapkan Sumadi, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sri Sedono Desa Sombron, Kecamatan Loceret. Dia mengatakan, dari total 76 hektare sawah yang ditanami padi, sekitar 90 persen terkena potong leher. Meski bisa dipanen, namun produktivitasnya menurun drastis. “Bisa dianggap gagal panen,” ujarnya.

          Dia lantas mencontohkan lahan miliknya seluas dua hektare. Dengan kondisi sekarang, Sumadi mengungkapkan, produktivitas padi hanya sekitar lima ton per hektare. Padahal, biasanya, panen bisa mencapai delapan ton per hektare.       

          Sumadi mengatakan, sebenarnya tanda-tanda penyakit potong leher sudah diketahui saat padi berumur 20-40 hari. Saat itu, banyak tanaman padi di desanya diserang jamur. “Ada bintik-bintik hitam di daunnya,” tutur pria berusia 70 tahun ini.

          Memasuki umur 55-70 hari, lanjut dia, tanaman langsung terkena potong leher. Meskipun berbuah, namur bulir padinya banyak yang kosong. Karena itulah, sejumlah petani terpaksa panen lebih awal agar kondisi tanaman tidak semakin parah.

            Berdasarkan pengalamannya, Sumadi menerangkan, jamur disebabkan udara yang lembap. Pasalnya, di musim tanam pertama tahun ini, intensitas hujan sangat tinggi. “Kebanyakan hujan. Jadi malam hujan, tapi paginya kurang sinar matahari,” ungkap pria asli Dusun Sombron.

          Hal yang sama juga dikeluhkan Suyono, petani lain asal Sombron. Dia mengatakan, total tanaman padi yang terkena penyakit potong leher seluas 250 ru. Dengan serangan penyakit tersebut, pria 54 tahun ini memperkirakan hasil panen hanya 99 kuintal. “Tidak sampai satu ton. Biasanya bisa sampai 2,5 ton,” keluh Suyono.

          Suyono mengakui, sebenarnya sudah mengantisipasi penyakit tersebut saat tanaman padi berumur 15 hari. Saat terkena jamur, dia sudah memberikan obat sebanyak empat kali. “Ternyata tidak membuah hasil,” terangnya.       Terpisah, Koordinator Pengendali Organisme Penggangu Tumbuhan (POPT) Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Nganjuk Gunawan mengatakan, selain di Kecamatan Loceret, penyakit potong leher juga menyerang tanaman padi di enam kecamatan. Yakni Kecamatan Lengkong, Baron, Pace, Nganjuk, Kertosono, dan Gondang. “Ini laporan bulan Februari. Yang Loceret, kami laporkan 1-15 Maret,” kata Gunawan.

          Dari enam kecamatan itu, dia menyebut, potong leher menyerang total 1.560 hektare tanaman padi. Yang terluas ada di Kecamatan Baron seluas 636 hektare. Yakni, di Desa Mabung, Jambi, dan Gebangkerep.  Sejak terjadi serangan dispertan sudah membantu pengendalian dengan fungisida. Namun, serangan jamur tidak terkendali.

          Dia menerangkan, penyakit potong leher pada tanaman dipicu jamur pyricularia. Serangan itu terjadi saat tanaman berumur 30 hari. Penyebabnya, udara yang lembap di sekitar tanaman. “Karena hujan atau bisa juga ditularkan dari rumput gajah yang tumbuh di sekitar tanaman padi,” urai pria asal Desa Salamrojo, Berbek ini.

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia