Minggu, 24 Mar 2019
radarkediri
icon featured
Features

Supiyem, Korban Rumah Ambruk asal Desa Pace Wetan 

Masih Trauma setelah Tertimpa Atap Dapur

11 Maret 2019, 16: 40: 55 WIB | editor : Adi Nugroho

Korban Rumah Ambruk

BELUM PULIH: Supiyem masih terbaring di ruang Nusa Indah RSUD Nganjuk, kemarin. (Anwar Bahar Basalamah - radarkediri.id)

Supiyem terkena musibah. Dia mengalami gegar otak karena tertimpa atap rdapur umahnya di Desa Pace Wetan, Kecamatan Pace setelah banjir menerjang, Rabu lalu (6/3). Kini, perempuan yang juga menderita katarak itu masih dirawat di RSUD Nganjuk.

REKIAN

Jarum jam menunjukkan pukul 13.30. Kemarin siang, Supiyem hanya bisa berbaring di ruang Nusa Indah RSUD Nganjuk. Tatapan matanya yang kosong hanya mengarah ke atap ruangan tersebut.

          Selang infus masih menancap di tangannya. Jauriyah, 40, anaknya, dan Dina Rahayu, 12, sang cucu, kemarin menunggui di samping perempuan yang rambutnya sudah memutih itu. Keduanya menjaga Supiyem sejak masuk ke rumah sakit (RS) plat merah itu sejak Rabu lalu (6/3). Padahal, mereka juga menjadi korban rumah roboh. “Ini sudah hari keempat,” kata Jauriyah kepada koran ini.

          Dibanding sebelumnya, kondisi Supiyem sudah mulai membaik. Meskipun, dua jahitan masih menempel di kepalanya. Saat pertama kali masuk ke RS, nenek 65 tahun itu selalu mengeluh sakit kepala, dan nyeri di pinggang. Diagnosa awal adalah gegar otak ringan.

          Kemarin, keluhan sakit itu berangsung menghilang. Bahkan, nenek dua cucu yang juga mengalami rabun katarak itu mengaku sudah tidak merasakan sakit lagi. “Sudah tidak sakit,” kata perempuan asal Desa Pace Wetan, Kecamata Pace ini.

          Meski sudah tidak merasakan sakit, Supiyem tetap harus dipapah ketika ke toilet. Kata Jauriyah, ibunya belum kuat berjalan. Dia terlihat seperti orang bingung setelah ditimpa kuda - kuda atap rumahnya. “Ibu saya juga sering merasa mual dan ndredeg,” kata ibu dua anak anak ini.

          Karena itulah, menurut Jauriyah, ibunya masih trauma dengan peristiwa empat hari lalu itu. Selain kejadian rumah ambruk, sang ibu juga kepikiran bagaimana membangu kediamannya itu seperti sediakala. “Terus memikirkan keadaan rumah,” katanya.

          Jauriyah menganggap, masalah yang dipikirkan oleh ibunya itu bisa mengganggu kesehatan. Sebagai anak, dia berupaya menghibur Supiyem agar tidak memikirkan masalah rumah. “Saya ingin ibu saya cepat sehat,” ucap Jauriyah.

          Sementara itu, cucunya yang menjadi korban rumah ambruk juga setia merawat neneknya. Kemarin, dia mengaku hanya merasakan kesulitan saat bersandar. “Sakitnya di punggung,” katanya. Walaupun merasa sakit saat bersandar, Dina mengaku tak masalah bila posisi tubuhnya berbaring sambil tiduran. Rencananya, Jauriyah dan Dina akan ke sangkal putung lagi setelah Supiyem diperbolehkan pulang.

Sementara itu, Koordinator Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Nganjuk, Aries Trio Effendi mengatakan, dari dua orang dilarikan ke RS, hanya Supiyem yang masih dirawat. “Kami ingin Mbah Supiyem ini benar-benar sembuh,” katanya. Setiap pagi, tim Tagana selalu mengkontrol korban rumah ambruk ini.

          Untuk diketahui, rumah ambruk itu terjadi pada Rabu (6/3) lalu, sekitar pukul 08.30. Saat itu, rumah Supiyem dikelilingi genangan air hujan. Meski baru pertama kali air tergenang di sekitar rumah, dampaknya cukup parah. Bangunan lama itu tidak kuat menahan beban atap yang baru direnovasi satu tahun lalu.

Nahasnya, saat ketiganya berada di dapur, justru bagian itu yang ambruk.

Kala itu, Jauriyah dan Dina sedang memasak, sedangkan neneknya hanya duduk di dapur. Peristiwa terjadi sangat cepat sehingga mereka tidak sempat menyelamatkan diri.

(rk/rq/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia