Minggu, 24 Mar 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Bandara Kediri: Warga Belum Sepakat Harga Tanah

Sindir Lewat Spanduk

11 Maret 2019, 15: 34: 31 WIB | editor : Adi Nugroho

bandara kediri

SUARA HATI: Spanduk yang dipasang warga di Desa Jatirejo, Banyakan. (Didin Saputro - radarkediri.id)

KEDIRI KABUPATEN - Warga pemilik lahan pertanian di Desa Jatirejo, Kecamatan Banyakan melakukan aksi pemasangan spanduk di jalan desa mereka. Puluhan spanduk yang dipasang sejak Kamis (7/3) tersebut tertulis sindiran terkait harga yang ditawarkan pihak pembeli lahan untuk kepentingan pembangunan Bandara Kediri. Warga menolak harga yang diberikan terlalu rendah dan tidak sesuai dengan penawaran awal.

Penolakan itu diakui oleh salah satu petani Nur Said. Menurutnya warga beramai-ramai memasang spanduk berisi keluhan akan harga yang ditawarkan terlalu rendah. “Satu meter persegi hanya dihargai Rp 350 ribu,” katanya kemarin.

Warga Dusun Bedrek Selatan, Desa Grogol itu menyampaikan bahwa pihak pembeli yang datang ke sana telah melakukan sosialisasi. Sosialisasi itu membahas terkait pembelian lahan pertanian yang ada di Desa Jatirejo, Banyakan. Memang di lahan tersebut tak hanya warga Desa Jatirejo saja. Namun ada sejumlah warga luar desa yang memiliki lahan di sana. Totalnya ada sekitar 20 lebih petani yang rata-rata menanam padi.

Dari keterangannya, sosialisasi sudah dilakukan dua kali. Pertama adalah akhir Desember. Dan terakhir pada akhir Januari. Itu dilakukan di Kantor Balai Desa Jatirejo. “Kalau terlalu murah kami ya belum setuju. Karena lahan ini adalah satu-satunya matapencaharian kami,” jelasnya.

Namun dia menyangkal apabila tidak menyetujui dibangunnya bandara di Kediri. Hal tersebut juga tertulis di salah satu spanduk. Di sana warga menyebut bahwa “Warga Jatirejo mendukung pembangunan Bandara Internasional Kediri. Asalkan tidak merugikan kami sebagai pemilik lahan terdampak pembangunan bandara,” sebut pada salah satu spanduk.

Dari sejumlah keterangan, sebelum ditetapkannya Bandara Kediri sebagai proyek strategis nasional (PSN) pihak pembeli menawarkan harga tanah non produktif Rp 750 ribu. Padahal itu untuk lahan non-produktif. Sementara saat ini setelah PSN untuk lahan produktif seperti areal persawahan saja hanya dibeli dengan nominal yang jauh dari layak.

“Kalau tanah itu dijual pasti hasilnya tidak bisa untuk menutupi kekurangan kami, karena harga yang sangat rendah,” keluhnya.

Petani mengaku tidak tahu pembeli tersebut langsung dari pihak PT Gudang Garam Tbk atau pihak lain. Yang jelas menurut keterangan warga, pihak pembeli juga datang bersama wakil dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri dalam melakukan sosialisasi.

Sementara Kabid Humas GG Ihwan Tricahyono menyampaikan bahwa pembebasan lahan sudah terbentuk sendiri. Untuk informasi terkait hal tersebut dia belum bisa memberikan komentar, sebab itu bukan kewenangannya. “Nanti kalau ada info dan berkenan akan kami sampaikan,” katanya saat dikonfirmasi wartawan koran ini melalui pesan singkat Whatsapp.

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia