Sabtu, 20 Apr 2019
radarkediri
icon featured
Events
Dialog Jumat

Orang yang Mencari Nafkah dengan Meramal

08 Maret 2019, 10: 35: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

dialog jumat

Dialog Jumat Radar Kediri

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Kami ingin menanyakan bagaimana hukumnya seorang yang mencari nafkah dengan meramal nasib orang lain?

(Nurul, 081335673xxx)

Jawaban:

Saudari Nurul yang berbahagia, saya ucapkan terima kasih atas pertanyaan Saudari mengingat maraknya acara dan perhatian sebagian masyarakat terhadap ramalan. Beberapa ramalan dilakukan oleh peramalnya melalui kartu, firasat, maupun gejala bumi dan benda angkasa.

Bahkan pada masa lalu, para peramal dapat memprediksi suatu kejadian yang sesuai dengan kenyataannya. Lebih dari itu, Alquran juga menceritakan hal-ihwal ramalan  pada zaman Nabi Yusuf dan Nabi Musa. Karena itu, perlu dijelaskan sebagai berikut.

Pertama, istilah ramalan sering didekatkan dengan istilah perkiraan. Perkiraan merupakan salah satu cara untuk mengetahui peristiwa yang akan terjadi melalui  metode ilmiah seperti gerhana matahari, gerhana bulan, cuaca maupun peristiwa astronomis yang lain.

Ramalan dalam pengertian ini diperbolehkan dalam kaitannnya dengan suatu kegiatan ibadah seperti awal masuknya bulan Ramadan dan bulan Syawal sebagai penanda mengawali dan mengakhiri puasa.

Kedua, ramalan dalam lingkup mengundi nasib seseorang baik tentang rezeki, jodoh, pekerjaan, dan kematian merupakan ramalan yang dilarang oleh ajaran Islam. Nabi Muhammad SAW pernah ditanya tentang kebenaran ramalan dari seorang peramal, namun kebenaran itu disanggahnya. Lantas Beliau menjawab bahwa kebenaran itu berasal dari pencurian jin yang disebarkannya kepada para peramal dengan dicampuri seratus kedustaan oleh para setan yang mendengarnya.     

Ketiga, meramal dalam pengertian perkiraan merupakan perbuatan yang diperbolehkan sebagaimana dijelaskan dalam kategori yang pertama. Namun, mramal dalam kategori kedua merupakan perbuatan yang dilarang oleh ajaran Islam. Perbuatan tersebut dapat dikategorikan sebagai syirik.

Jika dzat perbuatan itu telah dinyatakan sebagai terlarang, maka pelakunya dikenai hukuman. Dengan demikian pekerjaan meramal dinyatakan sebagai perbuatan terlarang dan dikenai sanksi sebagai dosa. Meski dengan dalih mencari nafkah, pekerjaan meramal merupakan pekerjaan terlarang. Wallahu a’lam bi al-shawab. (Zayad Abd. Rahman MHI, dosen Hukum Islam Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia