Sabtu, 20 Apr 2019
radarkediri
icon featured
Events

Arak Belasan Ogoh-Ogoh di Pare

08 Maret 2019, 08: 14: 12 WIB | editor : Adi Nugroho

nyepi ogoh ogoh

SIMBOL NEGATIF: Ogoh-ogoh diarak di jalanan Pare. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

KEDIRI - Umat Hindu se-Kabupaten Kediri juga menggelar upacara Tawur Agung Kesanga, kemarin (6/3). Lokasi dipusatkan di Tugu Garuda, Desa Pelem, Kecamatan Pare.

Diikuti ratusan umat, sembahyang berjalan dengan khusyuk. Upacara ini merupakan rangkaian perayaan Nyepi yang jatuh pada Kamis (7/3).

Kadek Kasnawan, ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Kediri, mengungkapkan upacara ini bertujuan menyucikan bumi, langit, udara, dan manusia untuk mengembalikan keseimbangan alam. “Diharapkan dengan keseimbangan alam ini, kehidupan kita jauh lebih baik dan aman,” kata Kadek saat ditemui di Tugu Garuda.

nyepi hindu

KHUSYUK: Umat Hindu Kediri saat beribadah. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Upacara diawali dengan pembacaan doa sebagai awal penyucian diri dan alam semesta. Setelah itu dilanjutkan dengan ngerupuk atau ritual menetralisir roh jahat agar tidak mengganggu selama prosesi nyepi.

Upacara yang dimulai sekitar pukul 09.00 WIB  juga dimeriahkan pawai ogoh-ogoh. “Setiap kecamatan mengirimkan satu ogoh-ogoh, sehingga ada sekitar 14 ogoh-ogoh yang diarak,” imbuhnya.

Replika patung raksasa ini diarak dari bundaran Tugu Garuda. Di akhir upacara, ogoh-ogoh akan dikembalikan ke kecamatan masing-masing untuk dibakar. Ogoh-ogoh merupakan lambang atau cerminan dari sifat-sifat manusia. Makanya digambarkan dengan sosok raksasa menyeramkan. Sosok-sosok ini mencerminkan sifat-sifat negatif manusia. “Semakin berkembangnya zaman, semakin banyak macam ogoh-ogoh seperti sosok orang yang korupsi digambarkan raksasa yang membawa uang,” ungkap Kadek.

Setelah upacara selesai, ogoh-ogoh diarak. Rutenya mengelilingi Tugu Garuda tiga kali. Ogoh-ogoh ini nantinya akan dibakar di pura masing-masing.

Pembakaran ogoh-ogoh menjadi lambang penyeimbangan kehidupan manusia. Menurut Komang, sifat negatif tidak bisa seluruhnya dihilangkan, tetapi bisa diseimbangkan.

Karena padatnya kerumunan warga, membuat jalan dari arah Plemahan dan Gurah mengalami kemacatan total. Namun, petugas kepolisian yang sudah berjaga sejak pagi langsung mengalihkan arus lalu lintas ke jalur lain. Sehingga, kemacetan bisa terurai.

Sementara itu, di Hari Raya Nyepi umat Hindu melakukan catur brata penyepian. Yaitu amati geni (tidak boleh menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak boleh senang-senang).

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia