Sabtu, 20 Apr 2019
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

-- Guru Chen --

08 Maret 2019, 07: 52: 13 WIB | editor : Adi Nugroho

Sego Tumpang

Sego Tumpang

Baunya sudah tercium. Menguar ke mana-mana. Dari tryout-tryout yang digelar. Itu tandanya, musim ujian sekolah segera tiba. Khususnya bagi yang duduk di kelas-kelas akhir. Kalau sudah begini, Bulik Mawar ndak henti-henti mengingatkan anaknya, “Sarapan dulu, Le..”

Khawatir sang anak ndak sempat lagi sarapan. Gara-gara nggethu sinau. Dari pulang sekolah sampai menjelang tidur, lalu bangun lagi. Yang dicandak langsung buku. Bahkan, masih ndremimil hafalan sambil salin baju.

Padahal, sarapan itu penting. Itu sebabnya, selepas Subuh Bulik Mawar biasa mruput. Masak ini-itu. Atau, kalau ndak sempat, langsung cusssss ke warung Mbok Dadap. Antre sego tumpang. Yang masih kedul-kedul.

“Ingat-ingat. Ini pesan Khoirul Anwar bocah Kunjang penemu 4G yang sekarang jadi 5G itu. Sarapan itu penting!,” tegas Bulik Mawar berulang kali kepada thole-nya. “Gara-gara ndak sarapan, di sekolah jadi ndak konsentrasi.”

Untung, thole-nya Bulik Mawar tergolong sregep sinau. Jadi, dia ndak perlu ngopyak-ngopyak sinau lagi. Cuma butuh ngopyak-ngopyak sarapan. Dan, itu dibela-belani mati-matian.

Sementara, di luar sana, banyak bocah yang aras-arasen sinau. Apalagi ujian. Ini yang bikin ndas mumet. Bagi orang tua yang masih mau untuk mumet. Juga, bagi guru-guru yang tugasnya memang ngajak sinau.

Yang ndak srantan, murid-murid seperti itu ya wis. Dijarne babar pisan. Tiwas ngajak gelut kalau dimarahi. Sak karep-karepmu. Bocah ndableg. Nakal. Ndak bisa diatur. “Mangan ati,” komentar Jeng Mayang yang sesekali ikut mulang.

Ndak bisa disalahkan juga guru-guru yang demikian. Wajar kalau ndak betah menghadapi murid yang nakalnya sundul langit. Bocah-bocah super seperti itu, yang bisa ngladeni ya guru-guru dengan kualitas super. Kualitas kesabaran dan kecerdasan ala kiai. Kalau di pesantren. Yang ndak pernah nolak santri yang nakalnya super-naudzubillah sekalipun.

Kalau jaman sekarang, barangkali seperti Guru Chen. Yang tergambar dalam film Big Brother. Yang baru rilis tahun lalu. Yang dibintangi Donnie Yen si Master Ip Man itu. Guru Chen, guru baru, yang muncul tiba-tiba. Saat sekolah Tak Chi hendak ditutup. Oleh penyandang dana. Gara-gara para murid yang nakalnya super-naudzubillah itu. Yang bikin pamor sekolah ambruk. Dari nilai-nilainya. Dan, tentu saja, kelakuan mereka.

Pengurus sekolah yang sudah njit-njiten langsung kasih tempat Guru Chen ke kelas khusus. Yang penghuninya murid-murid paling nakal. Dan, ternyata, memang itu yang dicari sang guru. Yang langsung dilecehkan oleh murid-muridnya begitu masuk kelas. Dijahili. Dikerjai.

Tapi, Guru Chen sudah hafal. Kelakuan murid-murid nakal. Karena, ternyata, dia dulu juga supernakal. Di sekolah itu. Yang mengacaukan pesta perpisahan siswa. Yang menghancurkan patung kepala sekolah. Yang mematahkan jari tangan kawannya. Sampai dia dikeluarkan dari sekolah. Direkomendasikan untuk pindah sekolah. Ikut orang tuanya. Ke Amerika.

Makanya, Guru Chen senyum-senyum saja. Dia langsung taklukkan murid-murid bengalnya itu di hari pertama. Dengan pengetahuan. Yang tersimpan di balik setiap kebengalan mereka. Inilah yang tak pernah didapat bocah-bocah itu sebelumnya. “Knowledge is power,” katanya.

Hari-hari berikutnya, dia taklukkan bocah-bocah itu dengan hatinya. Dengan menyelami setiap problematika di balik kebengalan mereka. Sebab, itulah yang terjadi pada dirinya saat sekolah dulu. Dia bantu selesaikan problematika-problematika itu. Satu per satu. Bahkan, berani bertaruh nyawa untuk itu.

Pikiran dikuasai. Hati dikuasai. Apa lagi kendala untuk menggerakkan bocah-bocah seperti itu? Tak ada. Guru Chen yang bersekolah tinggi lalu menjadi serdadu, ternyata, menemukan kedamaian diri di sana. Dengan mengakrabi bocah-bocah bengal seperti dirinya dulu.

Musim ujian segera tiba. Ini perangkat yang paling mudah untuk mengukur gengsi sebuah sekolah. Dari nilai yang diperoleh para siswa. Hal yang tak mungkin pula dihindarkan. Oleh murid-murid yang super-naudzubillah sekalipun. Hanya butuh guru-guru super. Yang mampu menggerakkan mereka. Sebab, menyulap nilai, sekarang bukan persoalan gampang. (tauhid wijaya)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia