Sabtu, 20 Apr 2019
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Hakuna Matata

28 Februari 2019, 18: 46: 41 WIB | editor : Adi Nugroho

sego tumpang

Sego tumpang

Jaman disrupsi. Ruwetnya seperti rambut Dulkriwul. Jangankan orang, tuma pun pasti dibuat mumet. Menelusuri keruwetannya. Makanya, seperti tuma, orang juga harus punya banyak cadangan energi. Jika ingin menelusuri. Energi untuk pikiran. Energi untuk perasaan. Juga energi untuk gerak fisik.

Disrupsi, terjadi bukan hanya untuk dunia bisnis. Ekonomi. Tapi, semuanya. Sosial. Budaya. Politik. Keagamaan. Orang dihadapkan pada situasi yang sebelumnya tak pernah ada. Maka, banyak yang glagepan. Seperti profesor yang bisa goblok ndadak begitu dimarahi istrinya di rumah. Muncul anomali-anomali.

Banyak hal ndak terduga yang muncul begitu saja. Di mana-mana. Yang dulu ndak pernah terbayangkan, mendadak ada. Artis penyanyi top yang dulu makmur dari jualan album, mendadak harus ngamen dari satu panggung ke panggung lain. Lha wong jangankan album berisi delapan, sepuluh, atau dua belas lagu, begitu konangan nyanyi satu lagu baru saja, satu jam kemudian sudah di-download di mana-mana. Gratis.

Di saat bersamaan, muncul penyanyi-penyanyi baru. Yang bisa mendadak ngetop. Tanpa perlu bikin album. Tapi, cukup meng-cover, menyanyikan ulang, lagu-lagu yang sudah ada. Dengan aransemen asli atau baru.

Itu musik. Kiai-kiai di pesantren atau di kampung-kampung juga tak lagi menjadi satu-satunya rujukan. Untuk bertanya tentang agama. Karena di handphone, ceramah agama sudah begitu melimpah. Muncul kiai-kiai baru. Gus-gus baru. Ustad-ustad baru. Yang bisa mendadak ngetop juga.

Apalagi politik. Pengamat dan pakar bukan lagi hak prerogratif orang-orang berpendidikan di kampus. Akan tetapi, di layar handphone, semua bisa menjelmanya. Entah datang dari mana. Dengan latar belakang apa.

Benar-benar disruptif. Jika beberapa tahun lalu orang sudah dibuat nggumun dengan tukang bubur naik haji, jaman sekarang bisa lebih nggumun lagi. Ada korak langsung jadi gus atau kiai. Ndak perlu jadi santri lebih dulu. Ndak perlu jadzab. Langsung mlumpat. Sambil kayang.

Pada situasi seperti ini, malaikat bisa jadi setan. Setan bisa jadi malaikat. Yang punya ilmu, bisa benar-benar mumet menghadapi. Apalagi yang ndak punya, bisa pecas ndahe. “Ngeluu aku, Mbokkk..!,” kata Dulkriwul tanpa menghargai perasaan tuma di kepalanya yang juga dibikin mumet oleh rambutnya yang ruwet.

Dia ngelu harus ikut yang mana. Harus pakai strategi apa. Harus berbuat bagaimana. Menghadapi kenyataan-kenyataan baru yang seperti bolah ruwet itu. Sini salah. Situ salah. Sono juga salah.

Beda dengan Mbok Dadap yang selalu tenang. Menghadapi situasi apapun. “Gitu aja kok repot…,” komentarnya.

Ya, jurus Gus Dur itu yang selalu dimainkannya. Apalagi dalam situasi yang serbaruwet ini. Yang disebut disrupsi ini. “Donyane lagi diwolak-walik,” katanya sambil molak-malik mendoan biar tidak gosong.

Yang tidak tahan diwolak-walik memang bisa gosong seperti mendoan itu. Makanya, ‘gitu aja kok repot’ bagi Mbok Dadap adalah kesiapan diri untuk diwolak-walik. Biar diri tidak gosong. Ndableg. Kenyal. Seperti karet. Dibentur-benturkan, dipukul-pukul, ndak berubah bentuk. Selalu mbalik seperti semula. Tetap menjadi diri sendiri.

Cuma, karet kalahnya sama api. Dibong. Bisa leleh. Leder. “Makanya, menjaga hati itu penting. Biar tetap dingin. Tidak panas,” nasihatnya. Ya, api itu adalah nafsu. Pada diri sendiri. Yang bisa bikin marah. Yang bisa bikin emosi.

Gitu aja kok repot bukan berarti tidak peduli. Melainkan, merupakan sebuah sikap yang jelas. Untuk menjadi diri sendiri. Yang tidak takut, bingung, dan khawatir menghadapi situasi apa pun. Termasuk situasi yang disrupted seperti sekarang ini. Yang ndonyane seperti diwolak-walik. Jumpalitan.

Dalam situasi seperti inilah, butuh orang-orang yang bisa menyampaikan frasa itu. Gitu aja kok repot. Untuk mendinginkan. Mendamaikan. Menyejukkan. Menenangkan. Seperti teman-teman Simba, anak Mufasa dalam Liong King, yang selalu menenangkannya dengan ucapan: Hakuna Matata! (tauhid wijaya)

 

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia