Senin, 22 Apr 2019
radarkediri
icon featured
Politik
Suami Didukung Bapak-Bapak, Istri dari Emak-Emak

Sunari dan Inang, Pasutri yang Maju sebagai Calon Kades Pisang

10 Februari 2019, 12: 54: 56 WIB | editor : Adi Nugroho

KOMPAK: Sunari (kiri) dan Nur Inang Ismaikah, Istrinya menunjukkan gambar foto cakades

KOMPAK: Sunari (kiri) dan Nur Inang Ismaikah, Istrinya menunjukkan gambar foto cakades

Pemilihan kepala desa (pilkades) serentak 12 Februari nanti akan diramaikan ratusan kandidat. Salah satunya adalah calon kades yang juga pasangan suami istri (pasutri) di Desa Pisang, Kecamatan Patianrowo. Sunari, bakal bertarung dengan Nur Inang Ismaikah, istrinya yang juga petahana.

Jarum jam menunjukkan pukul 15.00. Rumah Sunari di Desa Pisang, Kecamatan Patianrowo, ramai dikunjungi warga, Jumat lalu (8/2). Oleh sang tuan rumah, mereka disuguhi beberapa jenis makanan ringan yang diwadahi dalam toples.

          Sore itu, Sunari memang sedang open house  sejak Selasa lalu (5/2). Karena itu, kediamannya tidak pernah sepi dari pagi sampai sore hari. “Biasanya habis magrib sampai subuh lebih ramai,” kata Sunari mengawali perbincangan dengan Jawa Pos Radar Nganjuk.

           Kedatangan masyarakat ke rumah atas undangan Sunari dan Nur Inang Ismaikah, istrinya. Pasalnya, meski tidak sedang menggelar hajatan keluarga, pria yang sudah menjabat kepala desa (kades) dua periode ini bakal maju di konstestasi pemilihan kades (pilkades) serentak 12 Februari.

          Yang berbeda dengan periode sebelumnya, kali ini “rivalnya” di pilkades adalah sang istri, yang juga petahana. Sunari pernah menjabat kades periode 1999-2007 dan 2007-2012, sementara Inang menjabat di periode 2012 sampai sekarang. Karenanya, meski nanti bertarung di pilkades, pasangan suami istri (pasutri) ini tetap kompak.

          Ditemani istrinya, laki-laki yang kini berusia 46 tahun itu menceritakan alasannya maju di Pilkades Pisang. “Sejak awal kami sudah prediksi tidak ada yang maju, karenanya saya dan istri maju bersama sejak hari pertama pendaftaran dibuka,” kata bapak dua anak ini.

Prediksi itu bukan tanpa dasar. Tradisi di desanya, setiap ada calon yang akan maju di pilkades pasti akan muncul kandidat setahun sebelum pencoblosan. Sejak tahun 2017 hingga 2018, Sunari mengaku tidak ada satu pun nama yang muncul. “Saya juga cari informasi ke lapangan.Ternyata juga tidak ada yang maju,” ungkap laki-laki yang pernah menjadi penjaga sekolah ini.

Dari sanalah, Sunari lantas memutuskan untuk maju kembali sebagai penantang istrinya yang merupakan petahana. Saat pengudian nomor urut, Sunari mendapatkan nomor 1, sedangkan Inang nomor 2. Meski calon yang maju dua orang, di lapangan foto yang terpajang di sepanjang jalan Desa Pisang hanya gambar Sunari saja. Sedangkan gambar istrinya tidak ada. “Sengaja dibuat begitu,” aku Sunari.

Meski terlihat ganjil, Inang tidak merasa keberatan fotonya tidak ditampilkan di depan publik. “Alhamdulillah, kampanyenya lebih ringan,” tutur ibu 39 tahun itu. Sebagai kepala desa, dia merasa yakin dirinya sudah populer di masyarakat Desa Pisang.

Majunya pasangan suami istri ini sebagai calon kades akan meminimalisir kemungkinan terjadinya konflik terbuka di desanya. Apalagi setiap kali melakukan kampanye, keduanya selalu kompak jalan bareng-barang ke rumah warga dan tokoh masyarakat untuk meminta dukungan agar tetap nyoblos saat pilkades serentak pada Selasa besok lusa (12/2).

“Iya saya dan istri datang sama-sama untuk kampanye, putusan untuk memilih siapa kami serahkan sepenuhnya kepada warga,” lanjut Sunari. Dengan cara seperti itu, Sunari dan Inang mengaku biaya politiknya lebih hemat. Bahkan tidak jarang warga yang datang ke rumahnya memberikan dukungan dengan membawa bekal masing-masing dari rumah.

Ada yang membawa beras, gula, air mineral dan lain-lain. Bagi Inang dan Sunari, pilkades di desanya jauh dari kata intrik yang menghalalkan segala cara untuk menang. Semua kampanye dilakukan bersama-sama degan cara terbuka. “Kalau sudah ramai di rumah biasanya muncul gojlokan rival abadi tak terpisahkan,” ucap Sunari.

Selain rival abadi, juga ada yang mengatakan pertarungan suami istri ini seperti musuh dalam selimut. Suara-suara itu dilontarkan secara terbuka di depan Sunari dan Inang. “Kalau sudah seperti itu kami berdua hanya bisa senyum,” ungkapnya.

Meski bertarung di politik desa, suami istri ini tetap rukun. Baik Inang maupun Sunari mengklaim punya pendukung fanatik masing-masing. Dikatakan Sunari, pendukungnya selama ini lebih banyak dari kaum laki-laki. “Kalau istri pendukungnya ibu-ibu,” lanjut Sunari. Perbedaan pendukung itu biasanya akan terlihat saat mereka berkumpul di rumah Sunari dan Inang. Mereka yang menjadi pendukung istrinya lebih banyak di dalam rumah, sedangkan pendukung Sunari berada di teras rumah. (baz)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia