Kamis, 21 Feb 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Nyamuk DBD Kebal terhadap Abate dan Malathion

Karena Terlalu Sering Di-Fogging

08 Februari 2019, 15: 03: 30 WIB | editor : Adi Nugroho

Nyamuk DBD Kebal terhadap Abate dan Malathion

KEDIRI KABUPATEN - Tim Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya mengadakan penelitian di Kediri. Hasilnya, terbukti nyamuk aedes aegypti pembawa virus demam berdarah dengue (DBD) resisten (kebal) terhadap abate dan malathion.

Tim BBTKLPP merupakan bagian dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Mereka melakukan penelitian karena ingin mencari penyebab dan solusi mengatasi DBD di Kediri.

Hasil penelitian ini disampaikan Kasi Pemberantasan dan Pengendalian Penyakit Menular (P3M) Dinkes Kabupaten Kediri Nur Munawaroh. “Memang betul positif resisten (abate dan malathion),” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Kediri melalui pesan singkat WhatsApp kemarin siang.

Hasil penelitian BBTKLPP ini sama dengan penelitian yang dilakukan Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Surabaya. Penelitian poltekkes itu berlangsung Juni tahun lalu. Daerah yang menjadi sampling di antaranya Kecamatan Kandat, Pare, Ngasem, dan Kunjang.

Untuk diketahui, abate adalah obat yang digunakan untuk membunuh jentik nyamuk dengan cara ditaburkan ke air. Semisal ditaburkan ke bak mandi atau tempat penyimpanan air. Sedangkan malathion adalah bahan kimia yang biasa digunakan untuk fogging. Itu bertujuan membunuh nyamuk dewasa.

Menyikapi hal tersebut, Nur mengatakan, pihaknya akan mulai meninggalkan abate dan malathion untuk penanganan DBD ke depannya. “Tahun ini kita belanja (obat pembunuh nyamuk) yang lain. Yang jelas bukan lagi malathion dan abate,” tegasnya.

Menurut Nur, penyebab nyamuk kebal karena terlalu sering di-fogging. Sehingga nyamuk bisa beradaptasi dengan zat malathion. Oleh karena itu, ia menegaskan, lebih bagus menanggulangi DBD dengan gerakan satu rumah satu juru pemantau jentik (jumantik).

Kemarin, tim BBTKLPP kembali ke Kediri. Mereka mengambil spesimen darah penderita DBD untuk diperiksa dan diteliti lagi. Pasalnya, dalam penelitian pertama hasilnya kurang maksimal.

Penelitian pertama tersebut gagal. Hal itu kemungkinan karena spesimen darah yang diambil dari pasien DBD yang usia sakitnya lebih dari tiga hari. “Selain hendak mengambil spesimen darah pasien DBD di rumah sakit, mereka juga akan memantau hasil PSN (pemberantasan sarang nyamuk) di Ngancar,” papar Nur.

Data dari Dinkes Kabupaten Kediri, pada Januari lalu ada 432 kasus DBD yang dilaporkan. Lokasinya hampir merata dari semua wilayah di Kabupaten Kediri. Dari 432 kasus tersebut, 12 korban di antaranya dinyatakan meninggal. Pada bulan ini ada empat kasus positif DBD yang dilaporkan ke dinkes. Satu dari empat penderitanya meninggal dunia.

Untuk diketahui, Dinkes Kediri telah mengadakan serangkaian supervisi untuk melihat angka bebas jentik (ABJ). Berdasarkan supervisi serentak pada awal bulan ini, rata-rata ABJ berada di angka 44 persen. Padahal ABJ baik bila nilai minimalnya sebesar 95 persen. Berdasarkan hasil supervisi itu, hampir separo rumah yang dicek terdapat jentik nyamuk. Tidak hanya rumah, juga di sekolah dan masjid pun tak luput disupervisi.

Dua Bulan DBD di Kabupaten Kediri

Waktu                                     Kasus           Meninggal

Januari                                    432 kasus   12 orang

Februari (hingga 5 Februari)       4 kasus       1 orang

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia