Kamis, 21 Feb 2019
radarkediri
icon featured
Features

Mohan, Capo Kelompok Suporter Persik CyberXtreme

Butuh Nyali Pimpin ‘Orkestra’ Ribuan Persikma

06 Februari 2019, 19: 28: 43 WIB | editor : Adi Nugroho

mohan persik

BERNYALI: Mohan (pegang megaphone) saat memimpin Persikmania menyanyikan chant dukungan saat Persik bertanding. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Menjadi seorang capo atau dirigen suporter bukanlah perkara mudah. Banyak anggota lainnya yang mendadak kaku saat berada di steger. Tapi tidak bagi Mohan. Lelaki yang dipercaya menjadi capo CyberXtreme hingga kini.

ANDHIKA ATTAR

“Bianco Tigre Ale! Bianco Tigre Ale! Bianco! Bianco! Bianco! Bianco!” Kata-kata itu bergema di tribun utara stadion Brawijaya Kediri setiap kali Persik berlaga. Teriakan yang keluar dari ribuan suporter yang tergabung dalam CyberXtreme. Bak lautan manusia, tiada lelah mereka meneriakkan chant penyemangat berbahasa Italia itu.

mohan

SEMANGAT: Mohan saat di Stadion Brawijaya. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Gerakannya ritmis, suaranya lantang. Kompak mengikuti koreo yang diinginkan sang capo. Istilah yang dipakai mereka untuk menamakan seorang dirigen.

Di dalam stadion, peran capo sangatlah sentral. Ia ibarat pemimpin dari ribuan suporter CyberXtreme saat mendukung Persik Kediri.

Sang capo tak henti-hentinya mengajak dan mengatur kelompoknya untuk berkoreo dan bernyanyi. Di singgasananya, sosok pemuda kurus dengan megaphone itu terlihat sangat nyaman. Menikmati setiap teriakan, loncatan, dan adrenalin yang dirasakan. Mereka memanggilnya Mohan. Nama yang lebih suka disematkan kepada yang bersangkutan dibanding nama aslinya.

Bagi Mohan, menjadi seorang capo seperti memanggul tanggung jawab besar. Ia dipercaya oleh suporter lainnya untuk berada di steger. Memimpin koreo selama 2 x 45 menit.

“Butuh nyali besar untuk bisa bertahan di steger. Kalau ndak, bakalan kaku dan bingung menghadapi ribuan suporter,” ujar Mohan kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Memang bukan perkara mudah untuk bisa meng-orkestrai gerakan dan chant ribuan suporter tersebut. Hal itu dirasakannya pada saat awal-awal ia dipercaya menjadi capo. Lebih tepatnya dialah yang dipaksa karena teman-temannya tidak ada yang berani. Entah karena percaya atau ingin mengerjainya.

Mohan mengingat-ingat masa awal ia menjadi capo. Masih banyak salah dan kaku. Tidak seatraktif sekarang. Setahun pertama menjadi capo adalah cobaan besar baginya. Namun tidak ada pelaut besar yang lahir dari ombak yang tenang.

Mohan mempunyai trik jitu agar suporter lainnya mau mengikuti arahannya. “Lek gak manut, aku nangis (kalau tidak menurut, saya akan menangis, Red),” seloroh pemuda 28 tahun tersebut sembari tertawa lepas. Ia memang suka bercanda. Tentu bukan itu alasannya.

Ia membuktikan bahwa dirinya memang layak berada di singgasana tersebut. Dedikasinya untuk CyberXtreme dan Persik berhasil ditangkap positif oleh suporter lainnya. Seiring berjalannya waktu, Mohan pun semakin dihargai. Kelompok suporter yang dipimpinnya pun bisa kompak.

Sebuah kebanggaan baginya dipercaya ribuan suporter. Banyak keuntungan yang didapatkannya di dalam dan di luar stadion. Semua karena pertemanan yang ia bangun bersama anggota lainnya. Jika ada hal tidak diinginkan di jalan, pasti ada saja yang menolong.

“Kalau pas ke mana gitu terus motor saya mogok, bisa minta tolong teman-teman yang di daerah sekitar situ,” aku pria yang bekerja sebagai staf di SMP Negeri 3 Kota Kediri tersebut.

Menjadi seorang capo tidak pernah terbersit dalam pikirannya. Bahkan ia sejatinya sudah menginginkan adanya regenerasi. Tetapi yang lainnya tidak memperbolehkannya. Mereka sudah telanjur cocok dengan Mohan. Meskipun begitu, ia tak lantas menjadi besar kepala. Rasa sombong dan jaim dibuang jauh olehnya. Ia sadar kedua hal tersbeut yang membuatnya justru akan dijauhi orang.

Babak kedua pertandingan kandang di Stadion Brawijaya pun tiba. Seluruh pemain dan oficial masuk ke ruang ganti. Waktunya istirahat untuk Mohan dan teman-temannya. Sambil duduk di steger, ia berbincang kepada para pemain perkusi yang berjumlah antara 6 – 8 orang.

CyberXtreme memang punya divisi sendiri untuk perkusi, jumlahnya sekitar 10 orang. Mereka bergantian. Jika ada temannya yang lelah, dengan senang hati yang lain akan menawarkan tenaga pengganti. Salah satu pemain perkusi di CyberXtreme adalah Achmad Naim. Alat tempurnya adalah snare drum.

Dari keduanya, diketahui bahwa CyberXtreme mulanya berdiri pada November 2010 silam. Pada saat Persik melawat ke kandang PSIS Semarang. Sekitar 40 orang nekat berangkat menggunakan kereta api. Di dalam kereta bersejarah itulah ide awal membuat kelompok suporter terbentuk.

Cyber sendiri diambil karena mereka menggunakan dunia maya untuk berkomunikasi dan janjian untuk bertandang tesebut. Sedangkan kata Xtreme sendiri dari para suporternya yang nekat dalam mendukung tim kesayangan. Hingga akhirnya lahirlah nama CyberXtreme. “Dari 40 orang itu, tinggal separo yang masih aktif hingga sekarang,” kenang Naim.

Kini CyberXtreme sudah menjelma sebagai salah satu suporter militan. Bernafaskan semangat ultras, mereka menunjukkan eksistensinya. Bernyanyi, berkoreo dan mendukung Persik Kediri selama 2 x 45 menit pertandingan.

(rk/rq/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia