Kamis, 21 Feb 2019
radarkediri
icon featured
Features

Ndalem Pojok Gelar Belajar Purwadhaha

Mengenal Aksara Kediri di Era Jayabaya

04 Februari 2019, 18: 32: 57 WIB | editor : Adi Nugroho

belajar jawa

LANGKA: Andri Setiawan (paling kanan) mengenalkan aksara purwadhaha di Situs Bung Karno Ndalem Pojok, Wates. (Didin Saputro - radarkediri.id)

KEDIRI KABUPATEN - Anda orang Kediri? Tahukah Anda aksara purwadhaha? Kalau Anda tak mengenal aksara ini, Anda tak sendirian. Karena banyak yang belum mengenal jenis aksara kuno ini. Padahal, ini adalah aksara khas yang digunakan pada era kerajaan Kadhiri.

Karena itulah, ada upaya dari penggiat budaya untuk melestarikan aksara ini. Salah satunya dengan mengenalkannya. Dan itu dilakukan dalam kegiatan ‘Belajar Aksara Purwadhaha Kediri’ di Ndalem Pojok, Wates.

Penggiat budaya Andri Setiawan menyampaikan, aksara purwadhaha ini tumbuh dan berkembang di Kediri. Tepatnya pada era Raja Jayabaya. “Asli dari Kediri, hilangnya juga di Kediri, yang punya pun orang Kediri,” ujarnya.

Dia memaparkan bahwa aksara ini, dari keterangan saksi yang memiliki naskah, hanya ditulis pada kitab Loso Bahono Joyoboyo. Kitab ini, lanjut Andri, pernah dibawa ke Leiden, Belanda. Selanjutnya dibawa pulang ke Nusantara oleh Prof Basuki. Dan kini, berita terakhir ada di Keraton Jogjakarta.

Kenapa aksara ini ingin dia lestarikan dan kenalkan kepada warga Kediri? “Karena eman (sayang, Red) kalau orang Kediri tidak tahu dengan aksara yang dimilikinya. Itu yang menggugah saya untuk bisa memberikan pengetahuan tentang aksara ini. Alhamdulillah ada ruang di Ndalem Pojok ini. Diberikan kemudahan untuk bisa mengenalkan kepada masyarakat Kediri.  Dan saya semakin semangat,” ucapnya.

Dia berharap, setelah dia mengajarkan aksara Purwadhaha ini asyarakat Kediri bisa tahu. Dan harus bangga karena ternyata dahulu Kediri sudah punya aksara sendiri. Yang, sayangnya, hilang ditinggalkan begitu saja.

Sasaran utamannya tidak hanya orang dewasa saja. Namun lebih ke anak muda. Karena mereka memiliki daya ingat tinggi. Sehingga bisa menerima dengan mudah aksara tersebut. Menurutnya, dari aksara ini, masyarakat Kediri jangan hanya paham dengan Jangka Jayabayanya saja. Juga aksara yang digunakan raja termasyur itu.

“Hal yang menarik dari aksara purwadhaha ini adalah satu aksara satu huruf, seperti huruf saat ini. Tidak seperti aksara jawa pada umumnya yang terdiri dari beberapa dua atau lebih huruf dalam satu aksara,” terang mahasiswa Unesa ini.

Andri menyebut, aksara ini juga tidak memiliki pasangan dan sandangan seperti aksara Jawa. Itu yang cukup mudah dipelajari dan menjadi keunikan sendiri. Sementara ini aksara ini hanya bisa ditemukan di kitab Layang Joyoboyo atau Loso Bahono Joyoboyo tadi.

Salah satu peserta Yeni Sugiar Agustin menyebut bahwa dia baru kali ini mengetahui aksara tersebut. Dan dia merasa sangat luar biasa, bahwa ternyata di Kediri ini kaya akan bahasa. Bahkan budaya ini masih sangat jarang diketahui masyarakat. “Nah di sini, di Ndalem Pojok ini, kita bisa belajar aksara purwadhaha. Agar tahu dan budaya Kediri atau Jawa secara luas. Sehingga lebih mengenal dan mencintai budaya kita,” tukas mahasiswa Uniska ini.

Menurutnya ini sebuah ilmu baru yang sangat bermanfaat. Karena ini menjadi kebanggaan tersendiri. Apalagi dalam mempelajarinya tidak terlalu sulit. Yeni pun tertarik dan antusias.

Pembelajaran aksara ini juga tidak lepas dari peran pengurus situs Ndalem Pojok Kushartono. Menurutnya, ini merupakan salah satu bentuk dalam melestarikan kebudayaan yang dimiliki Kediri.

“Bung Karno kan selalu mengatakan jangan melupakan sejarah. Nah ini yang kita lakukan adalah melestarikan sejarah tentang Kerajaan Kediri,” kata pria yang karib disapa Kus ini.

Kus juga sangat senang dan bangga, ternyata ada aksara asli Kediri ini. Terlebih ada yang bisa mengajarkannya. Intinya dia merasa bersyukur dengan semangat jas merah tersebut, akan selalu dikembangkan pelestarian-pelestarian sejarah semacam ini. Terutama tentang pembelajaran aksara purwadhaha yang akan dilakukan secara rutin.

“Intinya ini bagaimana anak-anak Kediri ini bisa mempelajari aksara purwadhaha. Dan tadi juga disampaikan tidak terlalu sulit, karena aksara itu seperti abjad saat ini,” jelasnya.

Selain pembelajaran aksara yang berasal dari era Raja Jayabaya ini, di situs Ndalem Pojok secara rutin juga mengadakan pelatihan membatik, gamelan, macopat, dan belajar menari. Mengenal keris dan lain sebagainya. Tentunya dengan banyaknya pilihan untuk mengenal tradisi dan sejarah ini akan membangkitkan semangat generasi muda untuk tetap melestarikan sejarah khususnya di Kabupaten Kediri ini.

“Jadi harapan kita, hal ini bisa mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. Syukur-syukur dari pemerintah juga berperan serta untuk mengabadikan kebanggaan Kediri ini,” paparnya.

Rencananya, kami akan melakukan kegiatan semacam ini secara rutin. Terlebih Ndalem Pojok secara resmi sudah diakui sebagai situs cagar budaya Kabupaten Kediri. Yang jelas, dia sangat bersyukur, Ndalem Pojok secara resmi sudah menjadi cagar budaya. Dia berharap tidak hanya lestari bangunannya, tetapi juga memperkenalkan ajaran-ajaran budaya Soekarno bisa terus lestari.

(rk/rq/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia