Kamis, 21 Feb 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

Rindu Adipura

03 Februari 2019, 13: 45: 28 WIB | editor : Adi Nugroho

DIdin Saputro

DIdin Saputro

Penerima piala bergengsi Adipura 2018 telah diumumkan. Tepatnya pada (12/1) lalu. Para kepala daerah telah menerima penghargaan bidang lingkungan hidup tersebut di Jakarta. Yah, pastinya mereka kepala daerah yang kabupaten/kotanya layak untuk mendapatkan penghargaan ini.

Lantas bagaimana untuk Kediri? Di Kediri, dua daerah bersaudara Kabupaten dan Kota Kediri ternyata bernasib beda. Untuk kota, setelah 3 tahun gagal, akhirnya kali ini berhasil merebut kembali piala Adipura 2018.

Tak sebagus capaian Kota Kediri, untuk kabupaten yang diwakili Kota Pare sebagai kategori kota kecil, lagi-lagi hanya bisa melongo. Sebab sudah kesekian kalinya kota yang terletak di timur laut Kabupaten Kediri ini harus gagal meraih penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan itu.

Memang ini sudah sesuai prediksi. Pada penilaian tahap 1 (P1) Pare sudah dinyatakan tidak lolos verifikasi untuk melaju ke penilaian tahap 2 (P2). Jadi tak bisa dipungkiri kalau Pare bakal gagal membawa pulang piala yang bagi sebagian orang merupakan sebuah kebanggaan tersebut.

Nah, jika dilihat dari daftar penerima piala Adipura 2018, Pare merupakan satu-satunya kota kecamatan di Jawa Timur yang mewakili daerah induknya (kabupaten) dan tidak tercantum pada lembar daftar penerima. Padahal 6 kota kecil lain yang menjadi pesaing Pare semuanya menerima Adipura. Mulai dari Mojosari, Mojokerto; Kraksaan, Probolinggo; Bangil, Pasuruan; Caruban, Madiun, dan Kepanjen, Malang. Bahkan Wlingi, Blitar pun juga ikut mendapatkannya.

Enam kota kecil itu bangga dengan capaian tahun ini. Terlebih status sebagai Kota Adipura itu juga bisa menjadi salah tolak ukur kebersihan lingkungan yang ada di kota tersebut.

Memang dari kecamatan di Jatim penerima penghargaan Adipura tersebut kecuali Kecamatan Wlingi, yang secara de jure telah berstatus sebagai ibu kota kabupaten. Nasib kecamatan ini memang seperti Pare yang gagal menjadi ibu kota kabupaten. Tetapi itu tidak sepenuhnya bisa sebagai patokan mampu atau tidaknya status sebuah daerah mengukir prestasi. Semuanya berpeluang, namun kenapa Pare belum bisa meraihnya?

Inilah yang menjadi tanda tanya besar banyak warga. Terutama Pare. Dari beberapa unggahan tentang pengumuman Adipura di media sosial yang beredar, komentar warga Pare pun beragam. Ada yang kecewa, ada pula yang merasa bahwa Adipura itu tidak penting. Akan tetapi, sebagian besar justru memberi dorongan kepada pemerintah daerah untuk bisa lebih maksimal mengupayakan kembalinya prestasi yang sudah lama tidak singgah ini. Tentunya hal ini juga harus ada kepedulian dari banyak pihak. Tak hanya pemerintah, namun juga masyarakatnya.

Apa karena pihak kabupaten selama ini fokus menata kawasan Simpang Lima Gumul (SLG) yang diklaim bakal menjadi pusat bisnis baru di Kabupaten Kediri dan sedikit mengesampingkan Pare?  Atau malah Pare sendiri yang selama ini sebagian besar masyarakatnya dinilai kurang peduli akan lingkungan hidup. Yang jelas di sini harus ada sinergi antara pemerintah dan warga kota.

Memang Adipura bukan sebagai prioritas. Namun setidaknya jika memperoleh penghargaan tersebut bisa menjadi motivasi daerah agar bisa menjadi lebih baik. Semoga dengan segala fasilitas publik yang akhir-akhir ini gencar dibangun berupa renovasi taman kota bisa memberikan dampak lebih bagi kemajuan daerah ini. Tentunya harus didukung dengan peran masyarakat yang tetap menjaga kebersihan ruang publik tersebut agar tahun depan Pare yang mewakili Kabupaten Kediri ini bisa membawa pulang piala yang menjadi salah satu ikon kota tersebut. Sehingga kota kecil ini tak lagi rindu dengan piala yang hampir satu dekade itu lepas dari genggaman pemimpin daerah ini. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia