Kamis, 21 Feb 2019
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Hidup Nggaya

31 Januari 2019, 14: 08: 57 WIB | editor : Adi Nugroho

Hidup Nggaya
Berita Terkait

Sekolah ngontel, bocah jaman sekarang sudah banyak yang ndak mau. Apalagi di kota. Bukan hanya untuk ukuran bocah SMA, tapi bahkan SMP. Naik motor, selain lebih nggaya, mobilitasnya juga bisa makin tinggi. Terlebih, sekolah sekarang, pulangnya sore-sore. Itu pun ndak langsung pulang ke rumah. Tapi, harus ikut les ini-itu. Ekstra itu-ini. Mengerjakan tugas ini-itu lagi.

Jadi, ngontel, ketika hampir ndak ada lagi teman lain yang melakukan, bisa-bisa dianggap sebagai alien. Yang baru turun ke bumi. Atau, makhluk masa lalu yang lahirnya telat. Sekolah kok ngontel. “Ngontel itu gaya hidup, Bro-Sist! Life style..,” ucap Matnecis.

Gaya hidup. Itu berarti levelnya sudah meningkat dari sekadar kebutuhan. Dulu, bocah ke sekolah berjalan kaki karena memang ndak punya kendaraan. Kecuali kaki. Dulu, bocah ke sekolah ngontel karena memang hanya itu kendaraan yang dimiliki. So, ngontel menjadi sebuah kebutuhan. Sebagai sarana transportasi ke sekolah.

Nah, ketika jaman sudah menjadikan setiap keluarga mampu membeli motor untuk masing-masing penghuninya, ngontel dianggap bukan lagi menjadi kebutuhan. Untuk transportasi ke sekolah. Apalagi ojek online tinggal pencet aplikasi.

Jalanan pun makin padat oleh motor. Tempat parkir di sekolah juga sesak oleh sepeda-sepeda bermesin itu. Hampir tak ada ontel. Apalagi hordog. Sepeda kuno yang putaran rantainya berbunyi ‘hoorrr..’ sebelum kemudian berbunyi ‘dog’ ketika dipancal.

Kalau masih ada yang ngontel ke sekolah karena kebutuhan, ya siap-siap dianggap alien itu tadi. Yang baru turun ke bumi. Atau makhluk kuno. Yang lahirnya telat. “Sebagai life style, kalau mau ngontel ke sekolah, ya harus nyetil. Tetap nggaya. Ndak boleh kalah sama yang naik motor,” sebut Matnecis sambil nglinting kumis. Yang sebenarnya tipis.

So, sepeda ya kudu nyetil. Pakaian dan perlengkapannya pun wajib mbois. Agar sesampai di sekolah, jadi pusat perhatian. Bukan pusat cemoohan. Bahwa ada alien yang baru datang.

Yang ndak punya sepeda, pakaian, dan perlengkapan nyetil, lebih baik cari nunutan. Naik bus sekolah. Naik angkutan. Atau, jaman sekarang, ya pencet-pencet aplikasi ojek online.

Masalahnya adalah, gaya hidup ndak sama dengan hidup nggaya. Gaya hidup lebih konsisten. Bahkan sudah menjadi bagian inheren dalam perilaku sehari-hari. Sedangkan hidup nggaya, itu hidup yang pating petringsing. Kakehan polah. Ndak konsisten.

Dalam kasus ke sekolah, hidup nggaya ndak akan betah untuk tiap hari ngontel sepeda. Berbeda dengan gaya hidup, ngontel ke sekolah sudah menjadi rutinitasnya. Ndak peduli jenis dan model sepedanya. Ndak peduli juga bahwa di rumah sudah memiliki motor, bahkan mobil, untuk menunjang mobilitasnya.

 Mereka yang hidup nggaya, penampilan adalah nomor wahid. Begitu pula dengan respons ‘pemirsa’. Sehingga, apapun akan dilakukan untuk meraihnya. Tak peduli itu cuma polesan. Akan tetapi, tak demikian halnya dengan gaya hidup. Ia sudah menjadi bagian dari perilaku sehari-hari. Ekspresi dari pikiran dan minatnya.

Karena itu, mereka yang menjadikan ngontel sebagai gaya hidup, akan malu jika tiba-tiba di jalanan disalip oleh bakul ethek yang sepedanya butut dengan obrok penuh dagangan. Sebab, itu artinya, latihan mereka masih kurang keras dibanding bakul ethek yang tiap hari ngobrok.

Tapi, tidak demikian oleh mereka yang menjadikan ngontel sebagai sarana hidup nggaya. Sebab, bagi mereka, yang lebih penting adalah respons ‘pemirsa’. Atas penampilannya. Bakul ethek nyalip, itu bukan masalah.

Nah, jika ada siswi cantik kelas sepuluh madrasah aliyah yang nekat ngontel Kandangan-Surabaya sejauh hampir seratus kilometer, gaya hidup atau hidup nggaya? Rasanya, bukan kedua-duanya. Sebab, jika gaya hidup, itu bukanlah kebiasaannya sehari-hari. Untuk bersepeda jauh. Jika hidup nggaya, lha wong sepedanya cuma sepeda biasa. Bukan roadbike. Yang bisa dibilang nyetil.

Jadi, apa? “Aku ndak ruh,” jawab Dulgembul usai menandaskan dua piring sego tumpangnya. “Mungkin, dia hanya mencoba lari dari kenyataan. Dan, itu memberinya energi untuk bisa ngontel hingga seratus kilometer,” tebaknya.

Walau, pada akhirnya, gadis cantik itu harus kembali pada kenyataan. Yang kudu dihadapi. Yang ndak bisa ditinggal lari. Apalagi bersepeda. Sebab, kalau bisa, tentu ia sudah menjadi juaranya: lari dari kenyataan. Dengan bersepeda. Orang tua dan orang-orang terdekatnya, perlu membantunya.

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia