Kamis, 21 Feb 2019
radarkediri
icon featured
Features

Octavian Eza Rafizki, Bayi Penderita Hidrosefalus dari Lereng Kelud

Operasi? Ayahnya Hanya Bisa Terdiam

26 Januari 2019, 17: 48: 57 WIB | editor : Adi Nugroho

TETAP SAYANG: Jumadi dan Eza, anaknya, di kamar rumah mereka yang temboknya belum diplester kemarin.

TETAP SAYANG: Jumadi dan Eza, anaknya, di kamar rumah mereka yang temboknya belum diplester kemarin. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Kepala Eza mulai membesar sejak berumur tiga bulan. Hingga kini, ia belum pernah mendapatkan pengobatan yang selayaknya. Keadaan ekonomi yang menjadi penyebabnya.

Eza tertidur lelap di dalam kamar berukuran 3x2 meter. Matanya mengatup rapat. Kepalanya yang besar membuatnya hanya bisa tidur telentang. Sesekali tangannya bergerak spontan. Mungkin ia sedang bermimpi bermain dan berlarian dalam tidurnya.

Eza tidur tepat di tengah kasur. Biasanya diapit oleh kedua orang tuanya, Jumadi dan Agustin Yulian. Ada pula kakaknya yang baru berumur 4 tahun, Febian Eza Alzaikrah. Mereka berempat tidur di dalam satu kamar kala malam tiba di sebuah rumah kecil di ujung Dusun/Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung.

Eza, buah hati Jumadi dan Agustin, divonis dokter menderita hidrosefalus. Ada penumpukan cairan di dalam otak. Kondisi tersebut baru diketahuinya pada saat Eza berumur tiga bulan. “Proses lahirnya juga normal. Hanya saja kepalanya memang sedikit lonjong waktu itu. Tetapi bidannya menganggap hal tersebut wajar,” kenang Jumadi kepada wartawan koran ini kemarin.

Pembengkakan kepalanya tidak terjadi secara frontal. Sedikit demi sedikit setiap hari. Setelah setahun berjalan, kini kepalanya berdiameter sekitar 40 senti. Bayi itu belum pernah mendapatkan penanganan lanjutan dari dokter ahli hingga sekarang.

Pada saat diperiksakan ke salah satu dokter ahli di Pare, Jumadi sejatinya diminta untuk segera melakukan operasi. Pasalnya, menurut sang dokter, keadaan Eza sudah tidak bisa dirawat jalan. Satu-satunya jalan adalah masuk meja operasi.

Pria yang yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani itu pun terdiam. Dengan pendapatan per hari sekitar Rp 50 ribu, ia hanya bisa pasrah mendengar vonis tersebut. Untuk menyambung hidup saja, ia sudah terbelit utang kanan-kiri.

Sesekali tangan Jumadi mengelus kepala lembek Eza. Ia meneruskan ceritanya. Eza hanya diobati dengan obat herbal. Cairan kenyal yang diminumkan. Menurutnya, obat tersebut dapat menghambat pembengkakannya.

Obat yang sepaket dibanderol dengan harga Rp 400 ribu itu hanya mampu dibelinya dua kali. Selanjutnya sudah tidak pernah lagi. “Kira-kira terakhir sebulan yang lalu sudah tidak konsumsi obat itu. Karena tidak ada uangnya untuk beli,” aku pria berumur 35 tahun ini.

Dengan kondisi kepala yang terus membesar, praktis Eza hanya bisa terbaring. Sesekali, Jumadi memangkunya. Bergantian dengan sang istri. Eza tidak bisa digendong. Bukan karena berat. Tetapi setiap digendong ia menunjukkan mimik kesakitan.

Meskipun tidak pernah menangis, Jumadi dan Titin, panggilan akrab Agustin, sudah paham. Eza memang tidak bisa menangis, entah kenapa. Jumadi juga bingung dibuatnya.

Sehari-hari Eza hanya diberi makan bubur dari salah satu produk biskuit kemasan. Sejak lahir ia tidak pernah mengonsumsi air susu ibu (ASI). Hanya susu formula yang didapatnya. “Terkadang juga hanya bisa beri air gula saja. Tapi dia untungnya mau dan tidak gumoh (muntah, Red),” ungkapnya.

Jumadi dan istri tidak pernah meninggalkan Eza sendirian. Ketika ada keperluan keluar rumah mereka akan bergantian. Seperti kemarin. Kebetulan Jumadi sedang istirahat setelah setengah hari menggarap sawah tetangganya. Sedangkan sang istri ada keperluan mengurus akta kelahiran kedua anaknya. Jumadi berniat untuk mengurus BPJS.

Keduanya kompak mengasuh Eza. Dengan kondisi yang seadanya mereka berusaha untuk saling menguatkan. Hanya saja sang istri yang seringkali tak bisa menahan haru. “Sering waktu ngudang tole dia tiba-tiba menitikan air mata,” ceritanya.

Jumadi hanya bisa berusaha menguatkan sang istri. Padahal di dalam hatinya sendiri, ia mengaku juga tersayat dengan keadaan tersebut. Tidur sekamar berempat adalah salah satu cara untuk menguatkan itu. Selain karena rumah itu memang hanya memiliki dua kamar. Satu lagi ditempati Sani, ibu Jumadi.

Sewaktu Titin mengandung Eza, ada hal lucu yang terjadi. Perut Titin sama sekali tidak kelihatan membesar. Hanya saja seringkali ia merasa pusing dan mual. Ia pun curiga apakah istrinya hamil. Begitu diperiksakan ternyata kandungannya sudah berumur enam bulan. “Padahal empat bulan sebelumnya pernah periksa ke bidan juga. Tetapi dinyatakan tidak ada kehamilan,” akunya.

Dengan kondisi yang pas-pasan, beberapa temannya berusaha membantu. Sebisanya saja, seperti memberi biskuit atau susu. Sekitar sepuluh hari lalu, pemerintah desa ikut memberi bantuan. Dua minggu sekali, Eza diberi susu dan biskuit. Dua bungkus. Untuk jangka waktu tiga tahun ke depan.

Selain itu, belum ada lagi. Meskipun begitu, Jumadi mengaku sejatinya tidak ingin dikasihani. Terlebih menyusahkan orang lain.

Di tengah segala keterbatasan itu, tidak ada alasan baginya untuk tidak mencurahkan kecintaannya kepada Eza. Kedua pasangan suami-istri dari salah satu desa teratas di Kecamatan Kepung itu selalu merawatnya dengan penuh kasih. Kehangatan cinta mereka saling menghangatkan di tengah dinginnya lereng Gunung Kelud.

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia