Kamis, 21 Feb 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

BPPKAD Lakukan Pendataan untuk Genjot PAD

26 Januari 2019, 17: 32: 27 WIB | editor : Adi Nugroho

RAMAI : Salah satu outlet makanan cepat saji di Kota Kediri.

RAMAI : Salah satu outlet makanan cepat saji di Kota Kediri. (Ramona Valentin - radarkediri.id)

KEDIRI KOTA- Potensi sumber pendapatan dari pajak restoran diyakini masih tinggi. Sebab, dipastikan masih banyak restoran dan rumah makan di Kota Kediri yang bisa terjangkau untuk menyumbang pajak.

Menurut Kepala Bidang Pendataan dan Penetapan Badan Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Kota Kediri Heri S.P. Putro, perkembangan kuliner di Kota Kediri memang pesat. “Sekarang kami masih terus melakukan pendataan,” terang Heri.

Sebelumnya, pada 2018, terdata total ada 200 rumah makan. Terdiri dari 147 rumah makan, 33 kafe, dan 20 restoran. Pendataan diperlukan karena diyakini masih banyak jasa kuliner yang belum dikenai pajak.

Sebab, berdasarkan Perda Kota Kediri No 6 Tahun 2010 tentang Pajak Daerah disebutkan pajak rumah makan dan restoran ini dikenakan untuk rumah makan, kafe, restoran, dan katering atau jasa boga dengan omzet di atas Rp 300 ribu per bulan.

Melihat dari minimnya batasan omzet rumah makan dan restoran yang dikenai pajak tersebut, maka diyakini masih banyak tempat kuliner lainnya yang belum masuk dalam pendataan.

Untuk diketahui, realisasi pendapatan pajak dari sektor rumah makan dan restoran pada 2017 sebesar Rp 11,2 miliar. Naik di tahun lalu sebesar Rp 13,6 miliar atau terjadi peningkatan 21,3 persen.

Adanya peningkatan pajak, menurut Heri, juga dipengaruhi adanya inovasi yang dilakukan oleh pemilik rumah makan dan restoran. “Seperti disediakan view yang bagus untuk foto,” tutur pria berkacamata ini.

Meski ada kenaikan, pendapatan juga dipengaruhi rumah makan dan restoran yang terpaksa gulung tikar. “Kenaikan karena ada yang makin ramai, tapi tidak maksimal karena ada yang tutup. Contohnya rumah makan Solaria yang sudah tutup,” terangnya.

Ia juga menjelaskan sudah tidak jarang tempat makan menuliskan informasi terkait penarikan pajak sepuluh persen. Baik melalui pigura yang tertempel hingga melalui struk belanja. “Ya, dari sana bisa dilihat. Sering dijumpai di rumah-rumah makan,” imbuhnya. Melihat pertumbuhan tempat makan, Heri akui proyeksi PAD restoran dan rumah makan pada 2019 ini diperkirakan lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya.

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia