Senin, 22 Apr 2019
radarkediri
icon featured
Show Case
Aksi Cepat Tanggap

15 Anak Pengungsi Suriah Wafat karena Cuaca Ekstrem

ACT Beri Bantuan Bahan Bakar untuk Pengungsi

20 Januari 2019, 13: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

suhu ekstrem suriah

EKSTREM: Salju yang menutupi kamp pengungsi Suriah.

SURIAH – Bagi anak-anak di negeri tropis - termasuk di Indonesia - suhu dingin yang datang setelah cuaca ekstrem, tak terlalu menjadi masalah berarti. Masih ada tempat berlindung yang nyaman, selimut yang tebal, bahkan memiliki fasilitas cukup untuk menghangatkan tubuh.

Tapi nasib yang sama tidak dirasakan bagi jutaan pengungsi Suriah. Siapa sangka kalau Suriah pun mengalami musim dinginnya? Dingin di sana adalah nestapa. Tak ada tempat berlindung yang nyaman, tak ada selimut yang tebal, bahkan nihil fasilitas untuk menghangatkan tubuh mereka yang semakin lemah. Lemah setelah bertahun-tahun tinggal di kamp pengungsian dengan segala keterbatasannya.

Salju di Suriah, 15 Anak Suriah Wafat
pengungsi suriah

Anak-anak pengungsi Suriah yang harus bertahan di cuaca dingin yang ektrem.

Angka penunjuk suhu di bawah 10 derajat celsius, kini tengah membekukan sejumlah kamp pengungsian warga Suriah. Musim dingin berlaku sama, baik itu di wilayah dalam Suriah, maupun di wilayah-wilayah tempat pengungsi Suriah melarikan diri di sekitar Timur Tengah lainnya.

Salah satunya adalah Jordan, negara tetangga Suriah yang menampung 1,4 juta pengungsi perang Suriah. Merujuk penanda suhu di laman Accuweather.com, suhu malam di Jordan bisa turun mendekati titik beku. Dengan terpal tipis ala kadarnya di kamp pengungsian, kondisi ini bagaikan maut yang menunggu di depan mata, terlebih bagi anak-anak.

Utusan PBB untuk urusan anak-anak, Geert Cappelaere mengatakan bahwa, cuaca ekstrem ini mengancam anak-anak dan kaum rentan seperti lansia dan disabilitas "Suhu yang membeku dan kondisi kehidupan yang keras di kamp pengungsian Rukban, Semakin mempertaruhkan nyawa anak-anak, para lansia dan disabilitas," ucapnya.

Kamp Rukban adalah kamp pengungsian Suriah yang padat di sebelah Selatan Suriah dekat dengan Perbatasan Jordan. Kabar terkini dari Kamp Rukban, delapan orang anak-anak pengungsi Suriah wafat di kamp ini karena sakit yang disebabkan suhu dingin ekstrem.

Kabar duka juga datang dari kamp lain bernama Hajin, wilayah eskalasi perang di sebelah utara dari Kamp Rukban, juga dekat dengan perbatasan Jordan. Di lokasi ini tujuh anak-anak pengungsi Suriah wafat, juga karena suhu dingin yang membeku.

Sampai laporan ini diunggah, setidaknya 15 anak pengungsi Suriah meninggal dunia akibat cuaca ekstrem yang terus berlanjut hingga Kamis (17/1). Mengutip Telegraph, belasan anak-anak Suriah yang wafat karena cuaca dingin itu, kronologi kejadiannya hanya terjadi dalam rentang sebulan terakhir. Mayoritas dari mereka berusia di bawah empat bulan, dan yang termuda hanya berusia satu jam setelah kelahiran.

"Keluarga yang mencari keselamatan dari wilayah pertempuran Hajin menghadapi kesulitan meninggalkan zona konflik dan menunggu dalam cuaca dingin selama berhari-hari tanpa tempat berlindung atau pasokan dasar," kata Cappelaere. Menurut catatan PBB, lebih dari 10.000 orang telah meninggalkan daerah kantong pertempuran Hajin sejak Desember kemarin.

Dikhawatirkan angka kematian pengungsi Suriah, khususnya anak-anak akan terus bertambah jika bantuan musim dingin tidak segera tersalurkan. Mengingat musim dingin masih akan berlangsung paling tidak sampai awal Maret mendatang.

Bantuan dari ACT untuk Pengungsi Suriah
aksi cepat tanggap suriah

Aksi Cepat Tanggap (ACT) mendistribusikan bantuan musim dingin kepada pengungsi Suriah yang berada di Idlib dan Aleppo.

Sementara itu, di bulan Desember 2018 kemarin, Global Humanity Response (GHR) - Aksi Cepat Tanggap (ACT) mendistribusikan bantuan musim dingin kepada pengungsi Suriah yang berada di Idlib dan Aleppo. Puluhan ribu liter bahan bakar dibagikan selama bulan Desember. Selama jangka waktu tersebut, sebanyak 24.500 liter bahan bakar diberikan untuk 555 keluarga atau sekitar 3.300 jiwa yang berada di dua wilayah kamp terbesar itu.

Basheer, salah seorang relawan ACT yang bertanggung jawab untuk distribusi bantuan bahan bakar di Idlib menyampaikan, betapa bersyukurnya masyarakat Suriah yang menerima bantuan itu.

Lebih Hangat
bantuan act

Pengungsi Suriah mendapat bantuan bahan bakar dari ACT.

Ucapan terima kasih mendalam untuk masyarakat Indonesia terlontar, tatkala mengangkat jeriken berisi bahan bakar. Kata Basheer, mereka tentunya menghadapi masa paling sulit di kamp penampungan setiap kali musim dingin datang.

“Masih banyak di antara mereka yang menderita sakit karena kedinginan, ditambah terbatasnya daya beli bahan bakar untuk menghangatkan kamp pengungsian. Namun, sekarang setidaknya mereka sudah sedikit merasa hangat, semua berkat ACT dan masyarakat Indonesia. Saya pun berterima kasih,” tutur Basheer kepada ACTNews.

Selain bantuan bahan bakar, ACT juga mendistribusikan pemanas ruangan. Di Idlib, ratusan pemanas ruangan telah dibagikan kepada mereka yang tinggal di kamp-kamp pengungsian. Jika dihitung, setara dengan 648 jiwa telah merasakan hangatnya bantuan musim dingin yang diinisiasi oleh ACT.

(rk/die/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia