Kamis, 21 Feb 2019
radarkediri
icon-featured
Show Case
Pengobatan Vina, Gadis dengan Talasemia

Tim MSR-ACT Dampingi Transfusi Darah Vina

20 Januari 2019, 11: 33: 10 WIB | editor : Adi Nugroho

TETAP SEMANGAT: Vina saat menjalani transfusi darah dengan didampingi tim MSR-ACT.

TETAP SEMANGAT: Vina saat menjalani transfusi darah dengan didampingi tim MSR-ACT.

BANYUMAS - Masih ingat dengan Vina? Gadis dengan kondisi spesial di antara genetik orang Indonesia, Talasemia. Kondisi ini adalah tentang kelainan pada gen-gen yang mengatur pembentukan rantai globin, sehingga produksinya terganggu. Gangguan dari pembentukan rantai globin ini memicu kerusakan pada sel darah merah, sehingga membuat sel darah merah pecah tersebut. Kondisi penyakit turun temurun ini disebut-sebut paling banyak dijumpai di Indonesia dan Italia.

Cerita tentang Vina pertama kali ditemui Tim Mobile Social Rescue (MSR) - Aksi Cepat Tanggap (ACT) awal Januari 2019 kemarin. Vina dan keluarganya kini tinggal di Dusun Depok, Kelurahan Teluk, Purwokerto Selatan.

Setelah pertemuan pertama, Tim MSR - ACT sepakat dengan keluarga Vina untuk membantu mendampingi Vina selama masa pengobatan. Karena kondisi Talasemia ini, Vina divonis harus rutin untuk melakukan transfusi darah seumur hidupnya.

Jumat (18/1), Vina menjalani transfusi darah yang ke-45. Kali ini, transfusi darah didampingi Tim MSR-ACT. Transfusi darah dilakukan di RSUD Banyumas.

Ditemani ibunya, gadis berusia 10 tahun tersebut diantar oleh ambulans dan pulang menggunakan kendaraan umum. Tim MSR-ACT pun ikut menemani sepanjang proses pengobatan Vina Jumat kemarin.

Vina (kiri) usai menjalani transfusi darah.

Vina (kiri) usai menjalani transfusi darah.

Giyanto, Kepala Program ACT Jawa Tengah mengatakan, Vina tiba di rumah sakit pukul 08.00 WIB. Ia langsung diinfus untuk selanjutnya ditransfusi darah pada pukul 12.00 WIB. “Dengan Hb 8,1, transfusi selama 3,5 jam tersebut menghabiskan dua kantung darah yang masing-masing berisi 190 cc,” jelas Giyanto kepada ACTNews.

Dua hari sebelum melakukan transfusi, Vina kerap merasa lemas dan pusing. Kondisi Vina tentu menjadi beban pikiran bagi orang tuanya. Terlebih ibunda Vina, Suwarni hanya bekerja sebagai pekerja rumah tangga dengan bayaran tak lebih dari Rp 30 ribu setiap harinya.

Sekar, salah seorang relawan MSR-ACT yang ikut dampingi Vina mengatakan, kedua orang tua Vina tak tahu lagi dengan cara apa menebus biaya pengobatan Vina. Apalagu harus melakukan transfusi darah seumur hidupnya itu.

“Suami ibu Suwarni berprofesi sebagai pembuat batu bata merah dengan upah kisaran Rp 75 ribu hingga Rp 150 ribu per pekan. Jangankan untuk berobat, demi mencukupi kebutuhan hari-hari pasti mereka kesulitan,” tutur Sekar.

Namun beberapa pekan terakhir, Suwarni mengaku merasa tidak sendirian menghadapi cobaan yang dialami keluarganya. Kepada Tim MSR-ACT Suwarni berkata dirinya sudah tergabung di Perhimpunan Orang Tua Penderita Talasemia Indonesia (POPTI) cabang Banyumas. Setiap pekannya, perhimpunan ini mengadakan perkumpulan. Meringankan beban, berbagi cerita, dan saling menguatkan sesama keluarga pengidap Talasemia.

(rk/die/die/JPR)

Alur Cerita Berita

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia