Minggu, 24 Mar 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Pertanian dan Pengairan Pegunungan (2)

Lahan Berdekatan, Rotasi Tanaman Tak Sama

13 Januari 2019, 17: 32: 24 WIB | editor : Adi Nugroho

cabai wilis

BUTUH AIR: Sumini memetik cabai di lahan pertanian miliknya di Dusun Nglangu, Desa Puhsarang, Semen. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Pengaturan pola tanam bagi petani di lereng Wilis menjadi hal wajib. Terutama saat pergantian musim. Petani di wilayah pegunungan melakukan rotasi tanaman agar tetap bisa berbudi daya.

Jika di musim penghujan petani lereng Wilis melakukan budi daya tanaman padi. Ketika kemarau, mereka akan merotasi (mengganti jenis tanaman) dengan palawija dan juga kacang tanah.

Setiap memasuki pertengahan musim kemarau, petani di lereng Wilis memiliki kultur merotasi tanaman budi dayanya. Jika semula menanam padi, saat kemarau mereka mengubahnya dengan palawija dan kacang tanah. Faktor lahan yang hanya mengandalkan tadah hujan menjadi alasannya.

Seperti yang dilakukan Mujiono, petani dari Desa Puhsarang, Semen, Kabupaten Kediri. Dan, juga dengan sebagian besar petani lain. Sekitar Agustus mereka memilih menanam kacang tanah. Menurutnya, jenis tanaman ini sangat tahan dengan kondisi yang kering.

“Hampir semua petani di sini menanam kacang tanah (saat kemarau) karena memang hemat air,” ujarnya.

Mengapa tidak menanam jagung? Mujiono mengaku, bila menanam jagung malah akan rugi. Pasalnya, untuk satu kali irigasi saja petani harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Karena dalam satu kali tanam hingga panen, tanaman jagung membutuhkan delapan kali pengairan.

“Pengairan jagung mahal. Belum lagi di sini juga banyak tikus. Jadi nggak berani tanam jagung,” terangnya.

Menurutnya, hal ini sudah dilakukan secara turun temurun. Sejak dahulu budaya di wilayah ini memang seperti itu. Untuk tanaman padi pun demikian. Kebanyakan memilih menanam padi jenis gogo. Padi itu tidak terlalu membutuhkan banyak air. Namun masa panen pun otomatis lebih lama dibanding padi yang biasa ditanam di dataran rendah.

Tak hanya padi, saat musim hujan juga ada yang memilih menanam tanaman hortikultura. Namun sama saat masuk kemarau, mereka menggantinya dengan tanaman palawija.

Sumini misalnya. Saat banyak air dia menanam cabai. Namun ketika kemarau dia  memilih mengganti tanaman budi dayanya itu. Yaitu dengan tanaman palawija berupa jagung.

“Kalau akhir musim hujan  biasanya cabai atau tomat. Tapi masuk kemarau sudah kering, jadi harus diganti tanaman lain,” kata petani asal Dusun Nglangu, Desa Puhsarang, Semen, ini.

Dia mengungkapkan setiap musim kemarau akan berhenti menanam sayur. Beberapa hal teknis yang membuat dia memilih sikap itu. Seperti intensitas matahari yang terlalu terik dan juga minimnya ketersediaan air. Kondisi itu membuat menanam sayur tidak cocok lagi.

Posisi lahan milik Sumini memang terletak lebih rendah dibanding lahan Mujiono. Walaupun sama-sama berada di lereng Pegunungan Wilis. Karena posisi lahan Sumini tersebut membuat kondisinya sedikit lebih menguntungkan untuk hal irigasi. Petani perempuan ini pun berani menanam jagung yang memang lebih banyak membutuhkan air dibanding kacang tanah.

Rotasi tanaman di lereng Wilis memang memiliki keunikan. Bahkan dalam satu wilayah mereka bisa saja tidak sama dalam mengubah tanaman budidayanya. Faktor kondisi topografi dan ketersediaan air yang menjadi penyebab keberagaman kultur rotasi tanaman di daerah ini.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia