Kamis, 21 Feb 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

---- KPM 233 ----

13 Januari 2019, 16: 23: 01 WIB | editor : Adi Nugroho

Iqbal Syahroni

Iqbal Syahroni

Gemeinschaft und gesellchaft adalah salah satu. Atau mungkin satu-satunya yang masih saya ingat dalam perkuliahan antropologi sosial saat saya masih duduk di bangku perkuliahan terdahulu. Bukan karena saya paham betul bab yang sedang diajarkan saat perkuliahan, namun karena dua kata tersebut adalah kata asing baru yang masih teringat hingga sekarang.

Kedua kata asing yang berasal dari Jerman tersebut jika diartikan secara umum adalah community and society. Serupa, namun tidak sama, gemeinschaft, yaitu suatu kelompok orang yang cenderung memiliki hubungan privat, intim, dan eksklusif. Karena memiliki ikatan hubungan yang didasarkan oleh ikatan darah dan keturunan seperti keluarga. Atau kelompok yang terdiri atas orang-orang yang memiliki hubungan kedekatan tempat, seperti kelompok arisan, atau rukun tetangga, atau kelompok yang disatukan karena memiliki jiwa, pemikiran dan ideologi yang sama.

Sedangkan gesellschaft adalah ikatan dari berbagai orang dalam satu kelompok, atau kelompok dengan kelompok lain dalam jangka waktu tertentu untuk mencapai tujuan yang sama. Dengan adanya timbal balik yang sudah disetujui oleh berbagai pihak bahwa ikatan sosial mereka selesai ketika tujuan telah tercapai.

Singkat cerita, kuliah singkat tersebut untuk menceritakan hubungan antara kasus selebriti yang akhir-akhir ini ramai diberitakan di berbagai media nasional. Jika ditelaah menurut ilmu yang saya dapat, hal tersebut dapat dikategorikan sebagai gesellschaft.  Yang kemungkinan tujuan dari terbentuknya ikatan sosial itu untuk saling mengisi “kekurangan” dari berbagai pihak. Pihak A kekurangan pemasukan, pihak B kekurangan kepercayaan diri. Namun sekali lagi, bukan ranah saya untuk menghakimi perilaku mereka.

Namun sayang sekali tujuan dari terbentuknya ikatan sosial tersebut tidak berhasil tercapai, karena sudah terendus oleh penegak hukum. Selama berhari-hari, media dan warganet selalu membicarakan topik tersebut. Mulai dari kritikan satir dalam bentuk meme, atau langsung menyerang kolom komentar pihak yang identitasnya sudah terkuak.

Banyak dari kalangan warganet yang juga menyayangkan tingkah media dan warganet yang hanya menyalahkan satu pihak saja. Sedangkan pihak lain yang terlibat dalam ikatan sosial sementara itu. “Harusnya pihak A dan B juga dong! Bias!”

Hal tersebut menumbuhkan empati terhadap pihak yang identitasnya sudah terkuat dan menjadi bulan-bulanan warganet. Selain menanggung beban mental serbuan dari warganet, ia juga harus menanggung malu karena profesinya sebagai salah seorang yang cukup memiliki nama di dunia hiburan.

Namun empati tersebut seolah memudar karena melihat berbagai penjelasan yang ia berikan sendiri bahwa ia adalah korban dari ikatan sosial sementara yang tujuannya belum tercapai itu.

Memang, jika melihat dari pasal yang saat ini sedang menjerat berbagai pihak dalam ikatan sosial tersebut adalah pasal perdagangan manusia. Katakanlah, pihak A menginginkan sebuah jasa, ia meminta ke Pihak B untuk mencarikannya penyedia jasa. Lalu Pihak B menghubungi Pihak C secara paksa untuk memberikan jasa terhadap Pihak A. Dari penjelasan singkat tersebut, Pihak C adalah korban, tidak ada persetujuan dari pihak B dan C, hanya ada paksaan.

Namun, apakah analogi tersebut bisa dikategorikan ke dalam kasus ikatan sosial yang sedang ramai itu? Silakan beropini tanpa menghakimi. Mohon maaf sekadar mengingatkan. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia