Jumat, 18 Jan 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Lalai Picu Laka Maut, 2 Tahun Bui

12 Januari 2019, 14: 25: 56 WIB | editor : Adi Nugroho

TELEDOR: Tatag setelah menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Kediri, Kamis (10/1).

TELEDOR: Tatag setelah menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Kediri, Kamis (10/1). (Habibah Anisa - radarkediri.id)

KEDIRI KABUPATEN – Tatag Bedianto, 39 akhirnya dituntut dua tahun penjara oleh jaksa. Pria asal Jalan Pilangsuci, Kelurahan Pilangbango, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun ini dianggap terbukti lalai yang memicu kecelakaan tiga bersaudara, Kamis (10/1).

Tatag juga juga harus membayar denda Rp 1 juta dengan subsider satu bulan. Sidang yang digelar di ruang sidang Tirta Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Kediri, Kamis (10/1) sekitar pukul 15.00 WIB.

Tuntutan tersebut dibacakan langsung oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yudo Wahono “Menyatakan terdakwa telah melanggar pasal 310 ayat (4) UU RI No.22 Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan,” ujarnya di dalam persidangan.

Kecelakaan maut tersebut terjadi pada 28 Juli 2018, sekitar pukul 19.30 WIB. Kendaraan Pikap dengan nomor polisi AE 8468 FE, yang saat itu dikendarai Tatag sedang terparkir. Mobil tersebut terparkir menghadap arah utara, namun posisi ban bagian belakang masih berada di badan jalan.

Saat itulah kecelakaan terjadi. Motor Yamaha AG 5010 BV yang dikendarai Wildan dan membonceng kedua adiknya Rifa dan Althofi itu langsung menghantam bagian belakang bak pikap hingga tewas.

Akibat kejadian tersebut, pengendara sepeda dan penumpangnya terjatuh dan terhantam kendaraan yang saat itu sedang melaju. Ketiganya meninggal setelah dilarikan di RSUD Bhayangkara Kediri.

Dalam persidangan tersebut, Yudo mengungkapkan sejumlah pertimbangan. Yang memberatkan, perbuatan Tatag mengkibatkan Wildan, Rifat, dan Althof meninggal dunia. Sedangkan yang meringankan, Tatag berterus terang dan bersikap sopan di persidangan. Selain itu Tatag menyesali perbuatan dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatannya. Pertimbangan lainnya belum pernah dihukum dan mempunyai anak yang masih kecil. Bahkan, ada perjanjian perdamaian secara tertulis antara Tatag dan pihak keluarga korban. “Pihak keluarga korban telah bisa menerima dan mengikhlaskan kejadian yang telah menimpanya,” jelas Yudo.

Usai JPU membacakan tuntutan, Hakim Ketua Agus Tjahjo Mahendra memberi kesempatan kepada terdakwa untuk berfikir mengenai tuntutan yang telah dibacakan. Menanggapi hal tersebut, Tatag meminta keringan tentang putusan tersebut.

“Sidang ditunda, akan dilanjutkan Kamis 17 Januari 2019 dengan agenda pembacaan pembelaan,” tutup Agus. Usai sidang, Tatag langsung digelandang keluar ruang sidang oleh satu petugas kejaksaan itu langsung dijebloskan ke sel sementara.

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia