Jumat, 18 Jan 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Musim Penghujan DB Menghantui, Harus Lebih Waspada

12 Januari 2019, 10: 58: 02 WIB | editor : Adi Nugroho

RENTAN TERJANGKIT: Anak-anak bermain di lingkungan yang kurang sanitasi. Mereka rentan terjangkit DB yang disebabkan nyamuk Aedes Aegypti.

RENTAN TERJANGKIT: Anak-anak bermain di lingkungan yang kurang sanitasi. Mereka rentan terjangkit DB yang disebabkan nyamuk Aedes Aegypti. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Tidak seperti di Kabupaten Kediri, kasus DBD di Kota Tahu masih relatif landai. Meski begitu, tetap tak boleh dianggap remeh. Dari data Dinkes Kota Kediri, pada 2018 total ada 214 pasien yang terkena penyakit karena gigitan nyamuk ini.

Rinciannya, untuk Kecamatan Mojoroto ada 110 orang, Kota 42 orang, dan Pesantren 63 orang. Dari kasus tersebut satu  di antaranya meninggal dunia.

Data tersebut lebih tinggi dibanding 2017 yang hanya 155 kasus.

Sementara pada 2019, hingga kemarin (11/1) ada 11 pasien yang dilaporkan terjangkit DBD. Dalam hal ini, kepedulian warga terhadap kebersihan lingkungan pun menjadi perhatian pemerintah.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri Hendik Suprianto menyampaikan, di awal musim penghujan ini masyarakat diimbau untuk tetap waspada. Terutama terhadap penyakit ini.

“Karena DBD ini sangat erat sekali kaitannya dengan datangnya musim penghujan,” jelasnya.

Meski demikian, menurutnya, kasus di 2018 ini tergolong masih normal. Belum ada peningkatan yang berarti. Hal ini jika dibandingkan dengan kejadian pada 2016 yang pasiennya tembus di angka 338 pasien. Sementara, pada tahun lalu di Kota Kediri ada 1 pasien yang meninggal. Tepatnya pada Juli 2018.

“Semoga kejadian sampai meninggal tersebut tidak terulang kembali,” imbuhnya.

Selama ini, Hendik menyebut, pasien yang meninggal ini karena terlambat dalam pemeriksaan dokter. Oleh karena itu, masyarakat diminta segera memeriksakan ke petugas kesehatan bila ada tanda-tanda terkena DBD.

Hendik menjelaskan, DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus, sehingga tidak bisa disembuhkan dengan obat. Sebab virus tersebut memiliki masa hidup. Sehingga pasien yang terkena virus ini harus menjalani perawatan selama masih terjangkit virus itu. “Jangan sampai kalau terkena DB tidak taat dengan patuh dengan petugas kesehatan,” ulasnya.

Kepala Dinkes Kota Fauzan Adhima menegaskan, jika ingin memberantas nyamuk DBD, harus diketahui tempat-tempat nyamuk dewasa bersembunyi. Termasuk di belakang lemari es, dispenser, atau tempat-tempat yang sering dianggap sepele. “Justru itu bisa menjadi sarangnya,” bebernya.

Hal ini karena lokasi tersebut merupakan habitat telur nyamuk demam berdarah untuk berkembang menjadi nyamuk dewasa. Selain kesadaran masyarakat, untuk mengantisipasi penyebaran kasus DBD, Dinkes juga akan terus melakukan pemantauan dengan mengumpulkan data dari seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.

“Untuk mengantisipasinya, masyarakat harus melakukan gerakan 3M (menutup, menguras, dan mengubur benda yang mendukung siklus nyamuk) sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh,” terangnya.

Menanggapi kasus DB memasuki musim penghujan ini, Koordinator Bidang Advokasi Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Heri Nurdianto mengatakan, selama ini anak-anak sangat rentan terhadap serangan penyakit ini. Makanya, perlu kesadaran dan kepedulian orang tua untuk mengantisipasi hal buruk yang akan terjadi. Terutama kesehatan tempat tinggal mereka.

“Selama ini lingkungan yang sehat itu bagian dari hak-hak hidup anak,” tegasnya.

Selain itu, dia juga memohon kepada pemerintah untuk mengevaluasi kader jumantik yang telah ada saat ini. Pasalnya dari pengamatannya, selama ini sudah jarang kader jumantik yang keliling dari rumah ke rumah warga secara berkelanjutan. Padahal salah satu tugas pemerintah adalah bisa menjamin kondisi lingkungan di masyarakat harus benar-benar sehat.

“Pemerintah juga harus bisa menjamin layanan anak-anak yang terkena DBD, hal ini sebagai bentuk pemenuhan hak anak pada sektor kesehatan,” pungkasnya.

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia