Rabu, 27 Mar 2019
radarkediri
icon featured
Politik

DB Sudah Renggut Enam Nyawa

Penderita Tersebar di Empat Kecamatan

12 Januari 2019, 10: 55: 01 WIB | editor : Adi Nugroho

ILUSTRASI : Penderita demam berdarah mayoritas anak-anak.

ILUSTRASI : Penderita demam berdarah mayoritas anak-anak. (Ilustrasi: Afrizal - radarkediri.id)

KEDIRI KABUPATEN- Serangan penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Kediri telah merenggut korban jiwa. Hingga kemarin, telah ada enam anak yang meninggal akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tersebut. Yang mengkhawatirkan, jumlah penderita yang meninggal itu terjadi hanya selama Januari saja.

Para penderita DBD tersebut berasal dari beberapa kecamatan yang tersebar di Kabupaten Kediri. Yaitu dari Kecamatan Grogol, Ringinrejo, dan Badas. Di tiga kecamatan itu, masing-masing ada seorang anak yang terenggut nyawanya. Sedangkan tiga korban jiwa lainnya berasal dari Kecamatan Ngadiluwih.

“Penyakit DBD memang rawan terhadap anak-anak. Daya tahan tubuhnya belum kuat,” ujar Kasi Pemberantasan dan Pengendalian Penyakit Menular (P3M) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kediri Nur Munawaroh kepada Jawa Pos Radar Kediri saat ditemui di rumahnya, kemarin sore.

Semua penderita demam berdarah yang telah tiada itu masih berusia anak-anak. Bahkan ada yang di bawah lima tahun atau balita. Di Kecamatan Grogol, korbannya berusia 11 tahun. Kemudian di Badas 10 tahun dan di Ringinrejo 7,5 tahun.

Sedangkan di Kecamatan Ngadiluwih terdata satu anak berusia 10 tahun yang tak mampu bertahan akibat serangan penyakit ini. Seorang anak lagi masih balita. Usianya sekitar 3,5 tahun. Lalu, satu penderita lagi masih dalam pendataan. Meski proses didata, dinkes telah memastikan penderita DB di Ngadiluwih ini meninggal dunia.

Lebih lanjut, Nur menjelaskan bahwa kasus DBD pada tahun 2018 lalu sebanyak 73 persen penderitanya adalah anak-anak. Mereka berusia di bawah 15 tahun. Seperti halnya pada kasus kali ini, mayoritas adalah anak-anak.

Berdasarkan keterangan Nur, terdapat 132 laporan kasus DBD. Itu baik yang masih sebagai tersangka maupun yang sudah positif. Laporan dinkes sendiri dibuat per Jumat (11/1) kemarin. “Dari 132 laporan tersebut, sebanyak 33 kasus dinyatakan positif DBD,” urainya.

Terkait cukup tingginya angka laporan kasus tersebut, Nur menyatakan, pemerintah kabupaten (pemkab) belum menyatakan status kejadian luar biasa (KLB). Lebih lanjut, status KLB untuk kasus DBD terjadi terakhir kali pada tahun 2007 silam.

Berdasarkan data yang dihimpun koran ini, dari beberapa sumber penetapan KLB tersebut dapat dilakukan oleh kepala daerah setempat‎. Penentuan KLB tidak bisa lepas dari aspek tempat, waktu, dan orangnya. Yaitu agar program penanggulangannya dapat berjalan baik.

Dinkes bersama jajarannya, menurut dia, sejatinya telah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka kasus tersebut. Di antaranya dengan memberikan sosialisasi. Selain itu, menggencarkan gerakan satu rumah satu juru pemantau jentik (jumantik). “Salah satu materinya adalah tentang peran serta dan pemberdayaan masyarakat,” terang Nur.

Lebih lanjut, ia menyebut, setiap keluarga dalam pemeriksaan, pemantauan, dan pemberantasan jentik nyamuk untuk pengendalian penyakit tersebut. Khususnya melalui pembudayaan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). “Yaitu dengan cara menguras, menutup dan mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang sudah tidak terpakai,” paparnya.

Hal tersebut sebenarnya telah dilaksanakan pihak dinkes sejak awal tahun lalu. Namun efektivitas dari kader tersebut masih belum maksimal. Padahal kader jumantik adalah ujung tombak untuk pencegahan terjadinya kasus DBD. “Kesadaran dari tingkat terkecil dari tiap rumah, desa hingga kecamatan harus saling bersinergi,” imbuhnya.

Sayangnya, diakui Nur, keadaan di lapangan belum sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan. Pasalnya, pengecekan tidak dilakukan terhadap semua rumah warga. Kebanyakan yang terjadi adalah mengecek sekitar 20 – 30 rumah dalam satu desa. Alhasil untuk tingkat efektivitas di lapangan masih susah untuk dicapai. Hal tersebut adalah salah satu yang menyebabkan dinkes kecolongan kasus tersebut.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia