Jumat, 18 Jan 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Akses Wijayakusuma Tersambung

Banyak Pedagang Bermunculan Sepanjang Jalan

11 Januari 2019, 14: 33: 00 WIB | editor : Adi Nugroho

RATAKAN TANAH: Alat berat meratakan tanah urug di bahu jalan yang menuju Jembatan Wijayakusuma. Kondisi akses yang mulus membuat geliat ekonomi warga meningkat.

RATAKAN TANAH: Alat berat meratakan tanah urug di bahu jalan yang menuju Jembatan Wijayakusuma. Kondisi akses yang mulus membuat geliat ekonomi warga meningkat. (Andhika Attar - radarkediri.id)

KEDIRI KABUPATEN- Akses Ngadiluwih – Mojo via jembatan Wijayakusuma sudah mulus tersambung sejak akhir tahun lalu. Kondisi itu tak hanya meningkatnya intensitas kendaraan yang lalu lalang. Juga berdampak pada ekonomi yang dirasakan warga sekitar.

Salah satu yang terlihat adalah mulai menjamurnya penjual makanan dan minuman di sepanjang jalan. Seperti halnya Huda, 42, warga Desa Banggle, Ngadiluwih. Huda mulai membuka usaha angkringan tepat di timur jembatan Wijayakusuma. Lokasi berjualan tersebut sebelumnya adalah tanah kosong. Namun dengan seiring akses transportasi yang menjanjikan, ia pun membuka usaha tersebut.

“Baru lima belas hari yang lalu angkringan ini buka. Ya karena melihat adanya potensi ini (akses transportasi),” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Kediri saat ditemui di angkringannya.

Huda mengakui bahwa potensi akses jalan tersebut ke depannya akan sangat positif. Oleh karena itu, ia memberanikan diri membuka usaha tersebut dan meninggal usaha sebelumnya. Huda dulunya berjualan di pasar Setonobetek. Namun, kini ia mengaku lebih fokus untuk mengembangkan usaha barunya tersebut.

Di angkringannya ia menjual minuman dan makanan seperti pada umumnya. Namun, karena lokasinya yang bersebelahan dengan jembatan dan aliran sungai di sana membuat suasana yang berbeda. Hal itulah yang menjadi daya tarik tempatnya.

Berdasarkan pengakuan Huda kebanyakan pembelinya adalah orang yang sedang bepergian. “Kebanyakan justru luar kota. Keluarga atau rombongan biasanya. Kalau anak sekolah sengaja saya larang kalau masih jam sekolah,” akunya.

Selama setengah bulan berjualan ia mengaku pendapatan per harinya sudah lebih dari cukup. Dalam seharinya dia bisa meraup omzet sekitar Rp 300 – 400 ribu. Bahkan pada saat akhir pekan akan cenderung bertambah banyak pengunjungnya.

Berdasarkan keterangannya, memang cenderung banyak warga yang akhirnya membuka usaha dan berjualan di sepanjang jalan tersebut. Hal itu juga diamini oleh Fatahilah Khadafi, 33, penjual nasi goreng di Desa Banggle, Ngadiuwih. Ia sendiri telah berjualan di sana sebelum Ramadan lalu.

Menurut keterangan Fatah, di lokasi sebelahnya jualan juga sudah dipesan oleh orang untuk lokasi berusaha. “Sebelah itu mau buka usaha potong rambut. Sebelahnya berjualan bubur,” paparnya.

Sebagai pedagang yang telah berjualan sebelum akses tersebut masih dalam pengerjaan, ia pun merasakan perbandingannya. Terutama untuk masalah pendapatan atau omzet per harinya. Ia mengklaim ada peningkatan omzet sekitar 20 persen setelah akses tersebut rampung. Kini dalam sehari dia bisa meraup sekitar Rp 200 ribu.

Dampak positif tersebut sejalan dengan harapan dan cita-cita besar Pemkab Kediri. Pemkab memproyeksikan akses tersebut untuk mempermudah konektivitas warga di barat – timur sungai maupun sebaliknya.

“Dengan adanya konektivitas tersebut perpindahan orang dan barang juga lebih cepat dan lancar. Sehingga hal ini tentunya juga berpengaruh pada perkembangan sektor ekonomi,” ungkap Pelaksana Tugas (plt) Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kediri Krisna Setiawan.

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia