Minggu, 24 Mar 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Maret, Ground Breaking Bandara Kediri

Tahun Ini Mulai Pembebasan Lahan Sudetan Tol

11 Januari 2019, 14: 00: 01 WIB | editor : Adi Nugroho

PROYEK STRATEGIS: Diskusi menghadapi pembangunan tol dan bandara di Warung Upnormal kemarin.

PROYEK STRATEGIS: Diskusi menghadapi pembangunan tol dan bandara di Warung Upnormal kemarin. (Didin Saputro - radarkediri.id)

KEDIRI KOTA- Ini kabar terbaru terkait rencana pembangunan bandara di Kediri. Rencananya, proyek yang masuk dalam proyek strategis nasional (PSN) tersebut bakal menjalani ground breaking Maret tahun ini.

Informasi tentang waktu ground breaking itu disampaikan oleh Susanto Widyatmoko, direktur PT Surya Dhoho Investama (SDI). Perusahaan itu yang melaksanakan pembangunan bandara.

“Melalui Keppres 56 tahun 2018 bandara Kediri masuk PSN. Kemudian PT SDI sudah mendaftarkan di dalam OSS (online single submission, Red) dan mendapatkan NIB (nomor induk berusaha, Red). Serta mendapatkan izin lingkungan sementara,” terang Susanto dalam diskusi Menyongsong Jalan Tol an Bandara untuk Masa  Depan Transportasi di Kota Kediri di Warung Upnormal kemarin. Diskusi tersebut digagas oleh Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan (Barenlitbang) Kota Kediri.

Bandara Kediri

Bandara Kediri (Ilustrasi: Afrizal - radarkediri.id)

Menurut Susanto, pihaknya intensif mengadakan rapat dengan dirjen perhubungan udara. Agar segera diterbitkan rencana induk bandara, catatan bandara nasional, dna rencana dimulainya bandara yang akan bernama Surya Dhoho Kediri tersebut.

“Rencananya bandara Kediri akan dibangun di bulan maret 2019. Nanti akan ada kegiatan seremonial,” tambahnya. Hanya, Susanto belum tahu siapa yang akan hadir saat ground breaking nanti.

Terkait keberadaan bandara itu, Susanto menegaskan bahwa hal itu bukanlah bisnis baru dari PT Gudang Garam Tbk. Tetapi merupakan wujud pengabdian mereka pada masyarakat. “Selain itu juga dari dorongan pemerintah supaya perusahaan swasta ikut berpartisipasi secara aktif di dalam penyediaan infrastruktur,” tegasnya.

Alasan lainnya adalah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.  Khususnya di Jawa Timur bagian selatan. Menurutnya pembangunan bandara ini juga tak lepas dari keberadaan bandara Internasional di Pulau Jawa yang belum merata. Di Jawa bagian barat sudah ada 4 bandara internasional, Jawa bagian tengah ada 3, dan Jawa bagian timur masih satu, yaitu Juanda. Soal infrastruktur, di Jawa bagian timur juga masih ketinggalan dari kawasan Pulau Jawa yang lain.

Menanggapi hal itu, Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar mengatakan bahwa kotanya sudah merumuskan langkah kesiapan. “Kami sudah merencanakan membangun ring road dalam kota, namun ini harus lintas daerah dan lembaga. Yang telah kami wujudkan adalah pembangunan Jembatan Brawijaya dan ATCS di Dinas Perhubungan Kota Kediri. Kami juga lakukan revisi RTRW untuk membuat jalan baru agar kemacetan di daerah Mrican terurai,” jelasnya.

Menurutnya, selama ini pemkot berusaha menampung masukan dari berbagai pihak terkait perencanaan pembangunan itu. Terutama menghadapi kehadiran bandara dan jalan tol. Salah satunya adalah dengan diskusi yang berlangsung kemarin.

“Ini adalah diskusi pertama. Ke depan akan kami intensifkan. Kita harus bersiap bila nanti bandara telah dibangun bagaimana kita mengatasi 1,5 juta orang dalam setahun yang menggunakan bandara,” jelasnya.

Terkait exit tol dan bandara, Mas Abu menginginkan adanya hal positif untuk menyejahterakan masyarakat Kota Kediri. “Memang nanti akan ada kemacetan tapi macet yang bermanfaat bagi Kota Kediri. Mana yang mampu kita lakukan, itu seperti apa, karena harus kita pilih dan pertimbangkan. Mencari formulasi yang tepat untuk jangka waktu yang agak panjang,” imbuhnya.

Pakar transportasi dari Universitas Brawijaya Achmad Wicaksono dalam diskusi itu menyampaikan bahwa sebagai kota terbesar ketiga di Jawa Timur, sejak dini Kota Kediri harus mempersiapkan. Supaya tidak berdampak kepada kemacetan lalu lintas setelah adanya jalan tol dan bandara. Menurutnya, upaya pengadaan ring road (jalur lingkar) harus segera dilakukan.

“Pemkot juga harus mengusulkan kepada Provinsi Jatim untuk pengembangan masterplan transportasi untuk wilayah Kediri Raya,” ujar lelaki yang karib disapa Soni ini.

Menurut Soni, untuk proyek jalan tol Kediri-Nganjuk, tahun ini rencananya akan berlangsung pembebasan lahan. Sedangkan pembangunannya diperkirakan mulai pada 2021. Rencana awal exit tol akan berada di daerah Maron, Banyakan. Tidak menutup kemungkinan akan dilanjutkan sebagai akses menuju bandara.

Terkait kemacetan, Soni memaparkan bahwa di Kediri masih di bawah Kota Malang. Nah, mumpung belum terlambat seperti di Kota Malang yang saat ini kemacetannya semakin parah, Kediri Raya  harus cepat bergerak. Baik kota maupun kabupaten harus mempersiapkan diri. Sebab, kehadiran bandara dan tol akan meningkatkan volume kendaraan hingga 50 persen.

Dalam diskusi itu, hadir pula Wakil Wali Kota Lilik Muhibbah, Kapolres Kediri Kotai AKBP Anthon Haryadi, Sekretaris Daerah Kota Kediri Budwi Sunu, Kepala KPW BI Kediri Djoko Raharto, Kepala BPS Kediri Ellyn T. Brahmana, pakar RTRW ITN Malang Ibnu Sasongko, asisten dan kepala OPD Pemkot Kediri. Diskusi dimoderatori oleh Plt Kepala Barenlitbang Edi Darmasto.

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia