Rabu, 27 Mar 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Akses ke Besuki Sempat Terhambat

Hujan Deras dan Angin Kencang Picu Longsor

11 Januari 2019, 13: 41: 40 WIB | editor : Adi Nugroho

GOTONG ROYONG: Warga dan bhabinkantibmas membersihkan material longsoran yang terjadi di Dusun Besuki, Jugo, kemarin. Angin kencang dan hujan deras yang membuat tebing di tepi jalan utama tersebut runtuh.

GOTONG ROYONG: Warga dan bhabinkantibmas membersihkan material longsoran yang terjadi di Dusun Besuki, Jugo, kemarin. Angin kencang dan hujan deras yang membuat tebing di tepi jalan utama tersebut runtuh. (Andhika Attar - radarkediri.id)

KEDIRI KABUPATEN- Akses utama menuju Dusun Besuki, Desa Jugo, Mojo sempat terhambat kemarin. Penyebabnya adalah longsor pada tebing di tepi jalan. Longsor yang diakibatkan hujan disertai angin kencang itu terjadi Rabu (9/1) malam.

Tak hanya tebing saja yang runtuh. Pohon pun bertumbangan. Akibatnya jalan utama ke Besuki tak bisa dilewati hampir satu jam lamanya. Jalan itu bisa normal setelah warga bergotong-royong untuk menyingkirkan material longsoran.

Suratman, 35, ketua RT setempat menceritakan bahwa hujan deras tersebut dimulai sekitar pukul 18.00 WIB. “Sehabis azan maghrib mulai turun hujan deras. Tidak lama lalu disusul angin kencang,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Kediri saat ditemui di lokasi longsor.

Pak RT ini mengatakan, hujan deras dan angin kencang seperti itu baru kali itu terjadi di wilayahnya. Sebelum-sebelumnya hanya hujan biasa saja. Sejatinya, menurut Ratman sekitar pukul 19.30 WIB hujan sudah reda. Namun pada sekitar pukul 20.00 WIB, justru terjadi longsor.

Kemiringan tebing yang longsor tersebut diperkirakan sekitar 60 derajat. Sedangkan tinggi lereng lebih dari tujuh meter dengan lebar sekitar enam meter. Adapun material yang longsor tersebut antara lain tanah, batu, pohon, dan tanaman liar. Volume tanah yang longsor itu sendiri sebenarnya tidak begitu banyak. Hanya berkisar lima kubik saja. Namun hal itu tetap saja mengganggu kelancaran akses jalan tersebut. Apalagi lokasi longsoran tak jauh dari pintu masuk wisata Balekambang. Sekitar 50 meter di sebelah barat.

Material longsoran tanah itu juga tidak sampai menutup akses jalan secara total. Hanya menutupi separo badan jalan saja. Namun, karena membawa material lainnya akhirnya akses jalan sempat tertutup total. Yang membuat akses jalan tersebut tertutup total adalah puluhan pohon bambu yang ikut ambruk ke jalan.

Jumlah pohon bambu tersebut diperkirakan sekitar 50 batang. Dengan umur yang masih relatif muda. Karenakan pohon bambu menggerombol, proses evakuasi harus dilakukan secara bertahap. Selain itu, ada juga sebatang pohon mindi yang tumbang. Panjangnya sekitar 15 meter dengan diameter sekitar 20 sentimeter.

Reruntuhan pohon bambu dan mindi itulah yang menutup total akses jalan. Oleh karena itu, warga langsung berinisiatif untuk melakukan pembersihan. Puluhan warga bersama bhabinkamtibmas dan perwakilan Perhutani juga terlihat berada di lokasi.

Sekitar pukul 20.30 WIB evakuasi mulai dilakukan. Dengan alat seadanya seperti cangkul, parang, sabit dan gerobak dorong. Alhasil sekitar pukul 21.00 WIB separo sisi jalan sudah bisa dilalui. “Alhamdulillah warga sini itu mudah untuk diajak koordinasi,” puji Ratman.

Setelah dirasa bisa dilewati satu jalur, warga sekitar pun hanya melakukan pemantauan. Adapun proses pembersihan lanjutan dilakukan lagi pada pagi harinya (10/1) mulai pukul 06.00 WIB hingga siang.

Lebih lanjut, di atas lokasi lereng yang longsor tersebut ada sekitar tujuh rumah. Namun karena masih dipisahkan sebuah jalan, rumah di sana tidak terdampak longsoran. Demikian pula dengan jalan cor juga tidak ikut longsor. “Hanya bahu jalannya saja yang longsor sedikit,” ujar Utomo, 41, salah seorang pemilik rumah di lokasi tersebut.

Suratman, Utomo, beserta warga lainnya pun berharap agar pemerintah dapat membangun tanggul di lereng tersebut. Pasalnya sejak 2006 akses di sana mulai aktif digunakan. Saat itu ada janji bahwa akan dibangun tanggul atau plengseng. Namun, hingga kini belum juga terlaksana. “Biar tidak kejadian lagi adanya hal serupa,” imbuh pria yang akrab disapo Pak Tomo tersebut.

Terjadinya hujan deras dan angin kencang yang tidak seperti biasanya juga dibenarkan oleh Bhabinkamtibmas Desa Jugo Bripka Modasir. Menurutnya selama delapan tahun di sana, tidak pernah terjadi hal serupa. Pun dengan kejadian longsor. Terkait kejadian tersebut, menurutnya selain karena adanya hujan deras dan angin kencang juga disebabkan oleh saluran pembuangan air yang kurang maksimal.

Menurutnya akses jalan tersebut merupakan jalur ramai. Pelintasnya tergolong tinggi. “Beruntung tidak ada korban jiwa baik pengendara yang lewat maupun warga yang rumahny di atas,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala RPH Sambiroto Martoyo mengaku telah menggalakkan penghijauan di tempat itu. Dengan melakukan penanaman beberapa bibit-bibit pohon di sekitar lereng Desa Jugo. “Contohnya kami telah bekerjasama dengan karang taruna untuk penghijauan tersebut. Namun memang diperlukan tanggul untuk penahan tanah ke depannya,” pungkasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia