Jumat, 18 Jan 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Desa Sepawon Krisis Air Bersih

Sumber Resapan Kering

10 Januari 2019, 16: 41: 00 WIB | editor : Adi Nugroho

DROPPING LAGI: Petugas URC BPBD dibantu warga kembali manyalurkan bantuan air bersih di Dusun Petungombo, Desa Sepawong, Plosoklaten pada Rabu (9/1).

DROPPING LAGI: Petugas URC BPBD dibantu warga kembali manyalurkan bantuan air bersih di Dusun Petungombo, Desa Sepawong, Plosoklaten pada Rabu (9/1). (Andhika Attar - radarkediri.id)

KEDIRI KABUPATEN- Krisis air bersih kembali melanda Desa Sepawon, Plosoklaten. Krisis air terjadi karena sumber resapan yang berkurang drastis. Adapun hal tersebut merupakan dampak dari alih fungsi lahan.

Lebih lanjut, alih fungsi lahan itu sendiri dimanfaatkan untuk lahan produktif atau pertanian. “Tentunya hal itu juga berpengaruh pada daya serap air yang mengganggu sumber air yang ada,” ujar Pelaksana Tugas (plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri Randy Agatha Sakaira kepada Jawa Pos Radar Kediri kemarin siang.

Menurutnya, penyebab krisis air tersebut disebabkan banyak faktor lainnya. Antara lain karena musim kemarau sebelumnya yang panjang dan intensitas hujan yang belum cukup tinggi. Alhasil, setelah mendapat permintaan dropping dari Pemdes setempat, Pemkab Kediri pun kembali melakukan dropping air bersih kemarin.

Lebih lanjut, menurutnya dropping tersebut tidak memberi atau membatasi jangka waktunya. Selain penanganan darurat dengan dropping, Pemkab juga sedang mengupayakan pembuatan sumur bor dalam. “Kami akan cukupi sesuai kebutuhan warga. Untuk pengambilan air kami koordinasi dengan pihak Perkebunan Ngrangkah Sepawon,” ungkap Randy.

Menurut keterangan komandan unit reaksi cepat (URC) BPBD Kabupaten Kediri Windok sumber air di sana mengalami penurunan cukup drastis. Adapun sebelumnya jika dalam aliran pipa bisa full, kini hanya tinggal seperempatnya saja. Sedangkan dari hasil pengamatannya, sumber air Gelatik tersebut memang terlihat tinggal sedikit debit airnya.

Lebih lanjut, untuk dropping tersebut pihaknya memberikan 5 tangki atau sekitar 20 ribu liter. Adapun untuk Dusun Petungombo sendiri terdiri dari 410 KK atau sekitar 1,2 ribu jiwa. “Kita juga akan melakukan dropping di Dusun Gatok dan Badek juga. Tergantung kondisinya nanti,” ujarnya.

Krisis air tersebut sudah mulai dirasakan oleh warga sekitar bulan Desember lalu. Adapun tak lama setelah dilakukan dropping terakhir, krisis air kembali melanda desa tersebut. “Sudah sejak sepuluh hari lalu tidak turun hujan lagi. Kalau pun ada cuma gerimis, itu pun sebentar,” aku Samuji, 59, salah satu warga Dusun Petungombo, Desa Sepawon yang terdampak krisis air.

Berdasarkan keterangannya, selama mengalami krisis air pihaknya hanya bisa mengandalkan jatah dari gilir air. Jumlahnya pun tidak banyak, yaitu sehari dalam setiap waktu gilir air, hanya mendapatkan sekitar 3 jeriken air. Kalau beruntung bisa mendapatkan air lebih, bak mandinya bisa dipenuhi. Jatah air tersebut digunakan untuk sekitar 3 – 4 hari gilir air lagi. “Ya dicukup-cukupkan (jatah airnya). Meskipun cuma mengalir sedikit ya adanya itu terus bagaimana lagi,” ungkapnya.

Sebagai seorang petani, ia mengaku terlalu berat jika harus membeli air galon atau membeli air minum kemasan. Oleh karena itu, pihaknya mengaku sangat terbantu dengan adanya dropping air tersebut.

Sementara itu, BPBD Kabupaten Kediri juga melakukan pembersihan sebuah pohon yang tumbang di Kecamatan Gurah, kemarin. Tepatnya berada di Pondok Mam'bau Hiffafhil Quran Desa Sumbercangkring, Gurah. Adapun pohon tumbang tersebut disebabkan oleh hujan deras dan angin kencang yang menerjang sekitar pukul 17.30 WIB. Tidak ada korban jiwa akibat kejadian tersebut. Namun untuk kerusakan dan kerugian bangunan sedang dilakukan assessment pihak BPBD Kabupaten Kediri. (tar/dea)

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia