Jumat, 18 Jan 2019
radarkediri
icon featured
Politik

SMAN 5 Taruna Brawijaya, Karena Kediri Punya Bandara

Maret PPDB, Bulanan SMA Taruna Rp 2 Jutaan

08 Januari 2019, 13: 01: 27 WIB | editor : Adi Nugroho

“Dari empat SMA Taruna yang didirikan di Jawa Timur, semua wilayahnya memiliki bandara sendiri.” Sumiarso. Kacabdindik Jatim Wilayah Kediri.

“Dari empat SMA Taruna yang didirikan di Jawa Timur, semua wilayahnya memiliki bandara sendiri.” Sumiarso. Kacabdindik Jatim Wilayah Kediri. (Puspitorini Dian - radarkediri.id)

KEDIRI KOTA- Proyek strategis nasional (PSN) bandara Kediri menjadi pengungkit banyak hal. Salah satunya adalah pendirian SMA Taruna oleh gubernur di Kota Kediri. Kediri dipilih, di antaranya, karena segera memiliki bandar udara sendiri.

Hal itulah yang diungkapkan oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdindik) Jatim Wilayah Kediri Sumiarso, pekan lalu. “Dari empat SMA Taruna yang didirikan di Jawa Timur, semua wilayahnya memiliki bandara sendiri,” ungkapnya saat berkunjung ke kantor Jawa Pos Radar Kediri, Jumat (4/1).

Selain Kediri, empat SMA Taruna yang disebut Sumiarso berada di Madiun, Malang, dan Banyuwangi. Ketiga wilayah tersebut memang memiliki bandar/landasan udara sendiri.

Pejabat yang baru bertugas di Kediri 2 Januari lalu itu mengatakan, penyelenggaraan keempat sekolah tersebut bekerja sama dengan TNI dan Polri. SMAN 3 Taruna Angkasa Madiun dengan TNI Angkatan Udara (AU), SMAN Taruna Nala Malang dengan TNI Angkatan Laut (AL), dan SMAN 2 Taruna Bhayangkara Banyuwangi dengan Polri. “Kalau di Kediri, dengan TNI Angkatan Darat (AD),” katanya. “Namanya SMAN 5 Taruna Brawijaya.”

Seperti di tiga daerah lainnya, SMA Taruna di Kediri bukanlah merupakan pendirian sekolah yang sama sekali baru. Melainkan, peralihan dari sekolah yang sudah ada. Yakni, dari SMAN 5 Kediri.

Lokasinya yang berada di kawasan Gunung Klotok dan berdekatan dengan Markas Brigif 16 Wira Yudha dianggap cocok. Jumat (4/1) lalu, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Saiful Rachman sudah meninjaunya langsung. “Beliau (Saiful, Red) memberi arahan untuk mempercepat persiapan pembukaan SMA Taruna ini,” terang Sumiarso yang didampingi Kepala SMAN 5 Kediri Eko Agus Suwandi.

Cuma, ada problem yang perlu diselesaikan. Yakni, luas lahan yang masih kurang. Dari lima hektare yang dibutuhkan, saat ini baru tersedia tiga hektare lebih. “Itu nanti kami selesaikan sambil berjalan. Kami sudah berkomunikasi dengan wali kota,” imbuh Eko yang kelak juga menakhodai SMAN 5 Taruna Brawijaya.

Selain menyiapkan sumber daya manusia (SDM), lanjut Eko, saat ini yang dikebut adalah penyediaan sarana dan prasarananya. Khususnya pendirian bangunan asrama. Sebab, sekolah ini memang berbasis pengasuhan ketarunaan. Siswanya pun disebut sebagai taruna. Mereka diwajibkan tinggal di asrama. “Targetnya, dua-tiga bulan sudah selesai,” tandasnya.

Apalagi, Maret, mereka akan mulai membuka pendaftaran. Kuotanya untuk 200 siswa atau taruna. “Kuotanya, 90 persen untuk siswa asal Jawa Timur, sepuluh persen dari luar Jawa Timur,” sambung Eko. Ya, zonasi sekolah ini tidak terbatas di lingkup kota/kabupaten. Melainkan provinsi.

Pendaftar harus menjalani serangkaian tes. Mulai tes psikologi, kesehatan fisik, hingga tes potensi akademik yang meliputi bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan matematika. Selain itu, SMA ini berbiaya. Tidak murah. Untuk bulanannya saja, perkiraan berkisar Rp 2,5 juta. Sedangkan, ‘investasi’-nya berkisar Rp 17 jutaan.

Tentang biayanya yang tidak sedikit dibanding SMA biasa, Eko menuturkan, semua kembali ke siswa. Terlebih ini merupakan boarding school. “Ini juga relatif sudah lebih kecil dibanding sekolah sejenis,” tuturnya.

Meski berbiaya, dia optimistis, SMA Taruna yang pengasuhannya di luar jam sekolah ditangani penuh oleh TNI AD itu akan banyak peminat. “Karena orang tua sekarang tidak sekadar mencari sekolah yang baik. Akan tetapi, juga mencari lingkungan sekolah yang baik,” tandasnya.

Sumiarso menambahkan, pendirian SMA Taruna oleh gubernur ini dilakukan untuk menjawab tantangan zaman. Karakter yang ditanamkan kepada siswanya selama menjalani pendidikan dianggap penting. Seperti kedisiplinan, ketertiban, pantang menyerah, dan cinta tanah air. “Pasti nanti bisa dilihat bedanya, mana yang siswa SMA Taruna dan mana yang bukan,” tambah pejabat yang mengenakan gelang akar bahar di tangan kanannya tersebut.

Lalu, bagaimana dengan siswa kelas dua (kelas X) dan tiga (kelas XI) SMAN 5 selama masa peralihan nanti? Eko menjawab, mereka tetap menjalani pendidikan seperti biasa. Mereka tidak tinggal di asrama atau mendapat materi bela negara seperti siswa baru. “Cuma, nanti kultur kedisiplinan harus disesuaikan,” jawabnya yang juga didampingi para calon pengelola SMAN 5 Taruna Brawijaya.

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia