Sabtu, 19 Jan 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Kuliner Khas Warga Pegunungan (3)

Nasgor Jagung Nikmat dengan Penyedap Alami

03 Januari 2019, 11: 33: 36 WIB | editor : Adi Nugroho

NIKMAT ALAMI: Makan ampok goreng di warung tepi jalan Lereng Wilis dan menikmatinya sambil melihat pemandangan jadi pilihan mengasyikkan bagi wisatawan.

NIKMAT ALAMI: Makan ampok goreng di warung tepi jalan Lereng Wilis dan menikmatinya sambil melihat pemandangan jadi pilihan mengasyikkan bagi wisatawan. (Ramona Valentin - radarkediri.id)

Dari jagung kering yang dijemur. Lalu ditumbuk hingga halus dan terpisah dari kulitnya sebelum proses pengukusan. Proses seperti itu harus ditempuh sebelum bisa menikmatinya dalam bentuk nasi goreng jagung .

Tidak hanya tiwul saja yang dibikin serupa dengan menu masakan nasi goreng. Pun, demikian halnya dengan jagung. Makanan tradisional yang terbuat dari jagung yang sudah tua ini, atau jagung pipil, bahkan sudah dikenal sejak zaman dahulu.

Disebut dengan nasi jagung bukan berarti nasi dicampur dengan jagung. Tetapi jagung itulah yang menggantikan posisi nasi untuk makanan pokok. Wajar, baik dulu maupun sekarang menu satu ini cukup dikenal masyarakat.

Yang berbeda tentu saja dalam hal pengolahan. Zaman dulu, jagung atau ampok pengolahannya hanya sederhana. Tanpa variasi menu. Sedangkan saat ini, salah satunya adalah menu nasi goreng jagung itu.

Menu satu ini bisa dengan mudahnya didapatkan di warung-warung sekitaran Desa Joho, Semen. Atau juga di Desa Besuki, Mojo. Desa Besuki terletak di ketinggian 1.000 mdpl. Lebih atas dibanding Desa Joho yang ‘hanya’ 600 mdpl.

Namun, tidak menutup kemungkinan menu satu ini juga dijumpai di daerah lain. Seperti di wilayah perkotaan. Walaupun dengan olahan yang sedikit berbeda.  “Nasi jagungnya sudah dikenal. Dari kukusan itu ditambah sayuran dan ikan asin. Biasanya disebut ampok,” ungkap Dewi Ismi, salah seorang pedagang kuliner khas lereng Wilis. Wanita ini berjualan di pinggir jalan menuju wisata air Sumber Podang, Desa Joho, Semen.

Dewi mengaku bila ternyata saat jagung diolah seperti nasi goreng juga memiliki cita rasa yang berbeda. Bumbunya pun masih harum saat nasi goreng jagung ini tersaji hangat-hangat.

Sejak Dewi kecil ia kerap mengonsumsi nasi jagung. Cara mengolahnya yang cukup mudah seperti mengukus nasi dari beras dan harganya yang jauh lebih murah, menjadi nilai tambah makanan ini. Membuat warga lereng Wilis kerap menjadikannya makanan pokok. Mayoritas warga yang berladang memang kerap mengolah hasil ladang mereka seperti jagung ini. Mulai dimakan nasi jagungnya saja hingga ditambah varian lauk, sayur, peyek ikan asin, hinggal sambal. “Biasanya kalau nasi jagung (ampok) versi kukusan saja bisa mudah ditemui di wisata Sedudo, Nganjuk. Kalau di sini dijadikan nasi goreng,” ungkap  perempuan 40 tahun ini di warungnya.

Perempuan ini tidak segan-segan berbagi resep. Mulai dari bawang merah, bawang putih, daun bawang, irisan cabai merah, gula, dan garam. Hebatnya, tanpa bumbu penyedap rasa ataupun MSG. “Inikan jagung, kalau dikasih penyedap rasa, rasanya nanti juga beda. Tetep kurang sedep,” imbuhnya.

Ia mengakui tidak jarang orang menganggap menyantap nasi jagung adalah setara dengan orang miskin. Karena harganya yang murah daripada beras. Namun sejak ada menu nasi goreng jagung, justru orang sering memesannya untuk dikonsumsi sambil menikmati pemandangan lereng Wilis. “Kalau di sini kan dekat terasiring tanaman, jadi kelihatan sejuk. Ditambah lagi sebelah terasiring terdapat pepohonan,” jelasnya .

Nasi goreng dari beras yang identik dengan irisan daging ayam, justru tidak terdapat pada menu satu ini. Menu ini terdapat taburan ikan teri. Sedangkan di sekitar Besuki, Mojo, nasi goreng jagung diberikan taburan udang. Untuk satu porsi menu ini memiliki kisaran harga Rp 7 ribu sampai Rp 10 ribu. Cukup terjangkau dan mengenyangkan.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia