Sabtu, 19 Jan 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Tradisi dan Legenda Warga Pegunungan (10)

Berfoto, Dianggap Pengikut Nyi Roro Kidul

01 Januari 2019, 14: 12: 14 WIB | editor : Adi Nugroho

ekspedisi wilis

MENJULANG: Watu Jagul yang berada di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen kini kerap didatangi masyarakat untuk berekreasi. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Desa Selopanggung, Kecamatan Semen tak hanya dikenal air terjunnya. Di sana juga terdapat batu raksasa yang dinamai Watu Jagul. Konon, lokasinya yang berada di lereng Pengunungan Wilis kerap digunakan untuk penyaktian pemain jaranan.

Jalanan menuju Watu Jagul masih sama dengan jalan menuju Lembah Peri- Peri. Jalur menuju lokasi ini seperti bekas jejak ular raksasa. Berkelok dengan sudut tikungan yang melengkung. 

Medan jalannya pun naik turun. Kadang, bila tak pernah melewati jalur ini kita akan sering kaget. Terutama saat menemukan tikungan tajam seusai menelusuri jalan menurun.

Selama dalam perjalanan tersebut, kita akan disuguhi pepohonan yang berjajar. Seolah seperti berbaris di sepanjang jalan tersebut. Namun setelah melewati sungai kecil, akan terlihat pemandangan persawahanan dengan sistem pertanian terasiring hijau membentang.

Di depan mata akan terlihat batu yang menjulang tinggi. Batu itulah yang dikenal dengan nama Watu Jagul. “Orang-orang yang hendak mementaskan jaranan, biasanya akan datang ke batu tersebut,” jelas Imam Sopingi, 75, warga Desa Selopanggung.

Tidak hanya itu, warga sering melakukan ritual. Mereka seperti memberi kemenyan di sekitar Watu Jagul. Tak hanya menjadi syarat agar pemain jaranan itu sakti. Ada beberapa warga yang datang ke sana untuk meminta sesuatu.

Namun dengan berkembangnya zaman, kini jarang yang melakukan hal tersebut. Kini orang-orang datang ke Watu Jagul hanya bertujuan untuk rekreasi atau melihat keindahan alam.

Sekitar tahun 1980, di atas pohon beringin yang menjulang tinggi. Daun-daun yang rimbun, memayungi sebagian persawahan. Tidak hanya itu, akar pohon beringin membungkus batu tersebut. Sayangnya, akibat kejadian hujan disertai angin kencang pada sekitar tahun 1990-an, pohon tersebut ambruk. “ Waktu itu suaranya begitu keras,” ingat Imam.

Ketinggian Watu Jagul pun tidak setinggi sebelumnya. Hal ini karena sedikit demi sedikit batu tersebut terkubur. Warga sekitar percaya bahwa di sekitar Watu Jagul sering terlihat penampakan arwah dalam wujud tentara. Meski begitu, warga tetep beraktivitas seperti biasa di sekitar batu itu. “Saya tidak mau foto di sana, nanti saya dikira pengikut Nyi Roro Kidul,” tolak Imam ketika diajak untuk berfoto di dekat Watu Jagul.

Imam bercerita bahwa batu tersebut masih berhubungan dengan Pantai Selatan. Laki-laki yang sehari-hari beternak sapi ini percaya, setiap orang yang berfoto dengan batu, ditandai sebagai pengikut Nyi Roro Kidul. “Nanti waktu hari akhir, saya takut dipanggil,” imbuhnya.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia