Jumat, 18 Jan 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

Sambut Tahun Babi Tak Harus Hura-Hura

31 Desember 2018, 19: 06: 54 WIB | editor : Adi Nugroho

Oleh:  Endro Purwito

Oleh: Endro Purwito

“Yang pasti, jadwal pergantian tahun tidak dapat ditunda atau diulur. Maka, siap atau tidak, kita harus menghadapinya”

Bila dihitung sejak hari ini (30/12), masa di tahun 2018 kurang satu hari lagi. Hanya tinggal besok, Senin (31/12), setelah itu kita tidak akan bertemu lagi dengan 2018. Ya tinggal sekitar 2x24 jam kita memasuki Tahun Baru 2019.

          Kalender pun berganti baru. Yang lama dibuang, atau ada yang disimpan. Barangkali ada kenangan selama menjalani hidup setahun ini. Kenangan indah, kenangan manis yang tak ingin dilupakan.

          Ternyata semua yang dialami dan dijalani hanya sementara saja. Setelahnya, pengalaman itu menjadi kenangan. Pengalaman yang indah dan menyenangkan tentu ingin dikenang. Sedangkan kenangan pahit dan buruk cenderung ingin dibuang atau dihilangkan.  Meski sejatinya, pengalaman yang tidak mengenakkan itu justru sulit dilupakan.

          Semua yang terjadi di masa lalu bakal menjadi sejarah kehidupan. Begitu pula tahun 2018. Tahun ini segera berganti dengan tahun baru 2019. Dalam penanggalan kalender Tiongkok, 2019 adalah tahun babi tanah. Tahun yang diprediksi penuh dinamika.

Menyambut pergantian tahun itu, seolah sudah jamak orang ramai merayakannya. Mereka melekan. Begadang, tak tidur semalaman menanti tahun baru. Apalagi 1 Januari 2019 tanggal merah. Makanya dianggap malam panjang walau bukan akhir pekan. Ini lantaran esoknya libur.

Momentum tersebut lantas dimanfaatkan dengan arak-arakan atau konvoi kendaraan bermotor sampai dini hari. Ada pula yang meniup terompet dan menikmati pertunjukan kembang api di taman-taman kota. Sebagian lain menggelar acara di tempat hiburan. Pesta dan hura-hura.

          Beberapa yang lain, memilih berbelanja atau berwisata. Maklum saja, di akhir tahun biasanya pusat perbelanjaan dan toko-toko menggeber diskon besar.Tempat-tempat wisata pun menyajikan acara memikat. Di momentum inilah omzet para pelaku usaha meningkat.

          Yah, boleh-boleh saja merayakan momen pergantian tahun. Bukankah hanya satu tahun sekali. Namun alangkah baiknya bila tidak berlebihan. Sebab tak semua merayakannya dengan suka cita. Sebaliknya, ada yang justru mengalami keprihatinan dan kedukaan.

Di akhir tahun ini, bencana tsunami terjadi di Selat Sunda. Hingga 25 Desember sore, jumlah korban meninggal sebanyak 429 orang.Kemudian, 1.485 korban mengalami luka-luka. Lalu, ada 154 orang yang  belum ditemukan (Jawa Pos, 26 Desember 2018).

Para korban tersebut berasal dari Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Pesawaran, dan Tanggamus. Jumlah korban kemungkinan masih bisa bertambah. Sebab, Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) masih melakukan penanganan, evakuasi, dan pencarian.

Menurut Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BNPB Sutopo Purwo Nugroho, banyaknya korban tsunami di Selat Sunda dipicu beberapa faktor.Di antaranya, pada saat kejadian di daerah Pandeglang dan sekitarnya sedang ramai warga yang berwisata.

Pasalnya, saat itu bertepatan dengan libur panjang (long weekend). Penginapan atau hotel di lokasi wisata pantai Pandeglang penuh. Kemudian terjadi terjangan tsunami. Tidak ada peringatan dini.Tidak ada yang mengira bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau pada Sabtu (22/12) mengakibatkan longsor bawah laut dan memicu tsunami.

Kendati terjadi jauh dari Nganjuk dan Kediri, bencana alam di akhir tahun tersebut dapat menjadi pengingat. Setidaknya, mengingatkan bahwa tidak semua akan merayakan tahun baru dengan gembira. Ada suasana duka dan keprihatinan di daerah bencana.

Beruntunglah kita yang masih diberi keselamatan dan kesehatan. Sehingga terhindar dari bencana. Bukankah bencana adalah petaka yang datang secara tiba-tiba, tak terduga, dan mematikan. Maka kita patut bersyukur masih diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan tahun depan.

Kendati Kediri terbilang aman dari tsunami, bukan berarti warganya harus abai dan tak peduli terhadap bencana alam. Pasalnya, daerah yang diapit Gunung Kelud dan Wilis ini termasuk kawasan yang berpotensi mengalami bencana erupsi gunung berapi, gempa, banjir, tanah longsor, kekeringan, dan angin puting beliung. 

Dengan mengetahui potensi itu, warga yang tinggal di dalamnya justru lebih waspada. Sebab ‘kedatangan bencana’ tak bisa diprediksi. Namun demikian, warga –terutama yang tinggal di daerah rawan bencana– dapat mengantisipasi.Sehingga ketika terjadi, mereka sudah siap untuk menyelamatkan diri. Dengan begitu, jatuhnya korban dapat dicegah.Termasuk meminimalisasi dampak dan kerugian materiil.

Tahun 2018 sudah pasti menjadi kenangan dan sejarah. Tahun 2019 yang segera datang, belum bisa dipastikan apa yang akan terjadi. Namun yang pasti, jadwal pergantian tahun tidak dapat ditunda atau diulur. Maka, siap atau tidak, kita harus menghadapinya.

Untuk memulainya, tidak harus dengan konvoi atau arak-arakan. Tak perlu juga demonstrasi atau berunjuk rasa. Apalagi pesta atau hura-hura. Ada baiknya, di sisa waktu 2018 ini kita introspeksi diri. Ini seperti kita mawas diri. Melakukan koreksi atas tingkah laku, baik sikap, ucapan maupun perbuatan. Tentu barangkali ada yang tak pantas, kurang baik, bahkan buruk.

Introspeksi dapat dibarengi dengan refleksi diri. Yakni dengan merenungi pengalaman maupun kekhilafan selama menjalani kehidupan setahun lalu. Dengan hasil perenungan ini kita bisa meraih kesadaran. Selanjutnya, kita dapat menetapkan resolusi untuk memulai menjalani kehidupan baru di tahun yang baru.

Harapannya, tentu semua menjadi lebih baik. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia