Rabu, 27 Mar 2019
radarkediri
icon featured
Features

Mereka yang Peduli dengan Pencegahan Penyebaran HIV/AIDS

Datangi Tempat Risiko Tinggi

31 Desember 2018, 18: 18: 50 WIB | editor : Adi Nugroho

aids

EMPATI: Suhartono sedang orasi pada Hari AIDS Sedunia bersama para aktivis WPA dan komunitas lain di area Monumen Sudanco Supriyadi, Mojoroto, Kota Kediri. (Ramona Valentin - radarkediri.id)

Menjadi relawan di masyarakat tak membuat Warga Peduli AIDS (WPA) lelah. Justru kepeduliaan dan keikhlasan terhadap sesama itulah mereka makin tangguh.

Berawal dari kepeduliaannya terhadap penderita AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome), Suhartono mulai masuk Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kota Kediri. Awalnya sebagai perencana program. Namun kini ia menjadi sekretaris komisi yang diketuai langsung Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar tersebut. "Awalnya saya hanya ingin memberikan manfaat kepada masyarakat," ujarnya.

Hartono memang aktif di sejumlah organisasi. Kebanyakan di bidang sosial. Seperti di KPAD Kota Kediri yang dibentuk sekitar 2014. Saat itu juga Hartono bergabung. Teman-teman yang mendorongnya. Selain itu juga atas keputusan wali kota. "KPAD ini sebagai jalan saya memberi kemanfaatan pada masyarakat," tegasnya.

Tugasnya menyosialisasikan dan menginformasikan bahaya HIV (Human Immunodeficiency Virus). HIV ini merupakan virus penyebab AIDS. Itulah yang kini dilakukan Hartono. Awalnya memang sulit menjalankannya. Apalagi bagi relawan yang baru dibentuk.

Termasuk WPA di bawah binaan KPAD pun masih baru dibentuk. Sehingga secara struktural belum bisa maksimal. "Mulai ada di semua kelurahan pada 2016. Embrionya 2014 hanya di beberapa kelurahan. Baru 2016 saya mulai menata hingga rapi," terangnya.

Terobosan awal Hartono adalah melakukan pendampingan ke WPA. Baik pendampingan untuk administrasi, sosialisasi, pengarahan, maupun kegiatan.  Awalnya tak mudah. Terutama untuk komunikasi ke masyarakat tentang pengetahuan soal HIV dan lain sebagainya.

"Kendala pada awal adalah kepercayaan masyarakat, teman-teman WPA belum bisa diterima," kenangnya.

Kebanyakan tidak mau diajak komunikasi karena masih asing. Untuk meyakinkan itu semua WPA harus kerja keras. Mulai dari masyarakat umum, RT hingga kelurahan. "Makanya kepercayaan itu yang harus kita bangun," katanya.

Menurut Hartono, kini WPA menjadi organisasi yang sangat solid. Apabila mengadakan acara yang melibatkan WPA ini pasti semuanya hadir. Termasuk dalam kegiatan aksi damai peduli HIV-AIDS.

Selama ini WPA juga telah dibimbing agar bisa tangguh dan menjadi relawan yang benar-benar ikhlas. Tidak mengharap honor sepeser pun. "Dibayar atau tidak dibayar juga tetap berjalan sampai sekarang," urai Hartono.

Kalaupun ada, ia menyebut, mungkin itu biaya operasional atau transportasi. Hartono mengaku, sangat salut dengan teman-teman kader WPA. Selama ini mereka tetap kompak dan solid. Tak ada kata mengeluh sedikit pun.

WPA sebagai ujung dari penanggulangan dan pencegahan HIV AIDS di kalangan masyarakat pastinya sangat bermanfaat keberadaannya. Bahkan WPA Kota Kediri menjadi WPA terbaik di Jawa Timur dan sering menjadi percontohan dari daerah lain. Semua ini pastinya juga tak lepas dari peran KPAD.

"Selama ini selain sosialisasi ke kader, kami juga turun langsung ke tempat-tempat berisiko tinggi," jelas pria 34 tahun itu.

Sebagai contoh tempat transaksi dan tempat yang ada aktivitas yang ditengarai mengarah ke seks bebas. Tak hanya itu, Hartono menambahkan, selama ini juga kerap berkunjung ke sekolah-sekolah. Di sana mereka menginformasikan bahaya pergaulan bebas hingga pengetahuan tentang penyakit menular AIDS.

Selain itu juga ke perusahaan, tempat hiburan. "Selanjutnya kami juga mengajak untuk melakukan tes HIV," tandasnya.

Pria yang juga Ketua Forum Kota Kediri Sehat (FKKS) ini menerangkan, penularan HIV hanya terjadi karena berhubungan intim dengan penderita. Sehingga jangan sampai menjauhi penderita apalagi mengucilkannya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia