Jumat, 18 Jan 2019
radarkediri
icon featured
Features
Kisah di Balik Rumah Semedi, Desa Bangle

Dulu untuk Bertapa, Sekarang untuk Salat

29 Desember 2018, 12: 29: 19 WIB | editor : Adi Nugroho

BERSEJARAH: Rumah Semedi dari Desa Bangle, Lengkong dipindah ke museum Anjuk Ladang. Bangunan yang berdiri pada abad ke-15 itu jadi saksi sejarah.

BERSEJARAH: Rumah Semedi dari Desa Bangle, Lengkong dipindah ke museum Anjuk Ladang. Bangunan yang berdiri pada abad ke-15 itu jadi saksi sejarah. (Foto: Dokumen Disparporabud)

Diperkirakan dibuat pada abad ke-15, rumah semedi di Desa Bangle, Kecamatan Lengkong, masih kokoh berdiri. Sebagai benda bersejarah, rumah yang berfungsi sebagai tempat bersemedi itu kini dipindahkan ke museum Anjuk Ladang.

ANWAR BAHAR BASALAMAH

Bangunan yang menyerupai surau itu berdiri di sebelah barat pendapa Museum Anjuk Ladang Nganjuk. Ukurannya 2x2 meter dengan tinggi sampai ujung atap sekitar 3 meter. Di bawahnya ada sebuah penyangga bangungan dengan panjang sekitar 40 sentimeter.

Atapnya dari genting. Namun menurut Kasi Kasi Sejarah, Seni Tradisi, Museum dan Kepurbakalaan Disparporabud Nganjuk Amin Fuadi, atap rumah tersebut yang asli berupa dedaunan. “Karena sudah rusak, sekarang diganti genting,” ujar Amin.

Sebenarnya, bangunan yang kemudian disebut sebagai rumah semedi itu ditemukan di Desa Bangle, Kecamatan Lengkong. Pada akhir November lalu, disparporabud memindahkannya ke museum. Pertimbangannya, rumah semedi memiliki nilai sejarah yang tinggi. “Rumah semedi merupakan benda bersejarah. Makanya, kami pindahkan agar tidak rusak,” lanjutnya.

Dahulu, rumah semedi di Desa Bangle lebih dari satu unit. Namun, satu bangunan lagi sudah lapuk. Sehingga, hanya satu rumah yang layak dipindahkan ke mesuem.

Untuk memindahkan rumah tersebut, staf disparporabud harus bekerja keras. Dengan berat lebih dari 1 kuintal, bangunan tidak bisa langsung diangkat. Untungnya, bagian rumah bisa dibongkar pasang. “Jadi kami lepas dulu. Karena tidak dipaku,” tutur pria asli Nganjuk ini.

Setelah dilepas, setiap bagian rumah kemudian diangkut ke pikap. Setibanya di museum di Jl Gatot Subroto, Nganjuk itu, bagian-bagian yang dilepas itu dirangkai kembali. “Pintunya sebelah timur, jadi menghadapnya sebelah barat. Biasanya oleh teman-teman dijadikan tempat salat sekarang ,” urainya sambil tersenyum.

Dengan ukuran pintu sekitar 45 x 180 sentimeter, rumah semedi memang bisa difungsikan sebagai tempat mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Para staf museum pun merasa nyaman menunaikan salat di sana.

Terkait asal muasal rumah semedi, Amin memperkirakan bangunan itu ada pada abad ke-15. “Itu masa peralihan dari Hindu ke Islam. Jadi cenderung lebih ke Hindu,” ungkap pria yang pernah berdinas di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Mojokerto ini.

Pemilik rumah semedi biasanya seorang tokoh masyarakat. Letaknya berada di luar rumah induk. Rata-rata rumah yang ditemukan menghadap sebelah utara dengan pintu berada di selatan. “Semuanya berbahan kayu,” imbuhnya.

Mengenai rumah yang selalu menghadap ke utara, Amin belum mengetahui soal peletakan posisi tersebut. Namun, berdasar cerita dari pewaris, rumah semedi biasa jadi tempat berkontemplasi. Waktu yang paling baik antara pukul 03.00 sampai 06.00. “Ketika pikiran kalut, mereka memilih berdiam diri di rumah semedi,” kenangnya.

Setelah diwariskan secara turun menurun, rumah semedi sudah berubah fungsi. Warga sempat menggunakannya sebagai lumbung padi. Setiap panen, mereka meletakkan panenan di sana selama berhari-hari.

Selain itu, bentuk rumah semedi yang sekarang memang sudah tidak asli lagi. Tak hanya atap yang diganti genting, pemilik juga mengecat bagian depannya dengan warna hijau.

Karena itulah, agar menyerupai yang asli, dinas berencana untuk mengelupas cat di rumah semedi. “Hanya catnya yang kami kelupas nanti. Untuk atap biarkan seperti sekarang,” tandas  Amin.

Dengan bentuk yang menyerupai aslinya, rumah semedi diharapkan menjadi penanda sejarah kehidupan di Kota Angin di masa lampau. Dengan demikian, pengunjung ikut merasakan nilai-nilai sejarah yang terkandung di rumah itu.

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia