Minggu, 24 Mar 2019
radarkediri
icon featured
Kolom
Pdt. Natanael Sigit Wirastanto

Natal Bersahaja

25 Desember 2018, 17: 25: 32 WIB | editor : Adi Nugroho

Oleh: Pdt. Natanael Sigit Wirastanto

Oleh: Pdt. Natanael Sigit Wirastanto

Tahun gerejawi atau lazimnya disebut sebagai tahun liturgi atau kalender (penanggalan) gerejawi telah disusun sudah cukup lama dan diberlakukan secara ekumenis oleh gereja-gereja di dunia, khususnya gereja Roma Katolik dan Protestan sebagian besar. Jika penanggalan masehi diawali pada tanggal 1 Januari dan berakhir pada tanggal 31 Desember setiap tahunnya, tidak demikian halnya dengan tahun gerejawi, karena tahun gerejawi tidak disusun dan ditentukan berdasarkan angka namun pada peristiwa. Tahun gerejawi dimulai pada minggu Adventus I (hari minggu keempat sebelum Natal, caranya mengetahuinya adalah dari hari Natal dihitung mundur sebanyak empat hari Minggu) dan berakhir pada hari Minggu Kristus Raja (hari minggu terakhir sebelum minggu Adventus I di tahun berikutnya). Penyusunan dan penetapan tahun gerejawi yang demikian tentunya bukan tanpa maksud. Maksud dari penyusunan dan penetapan yang demikian adalah bahwa umat Kristen dalam satu tahun peribadahan menjalani napak tilas peristiwa Yesus Kristus dan karya-Nya melalui para rasul-Nya dan mengaktualisasikan nilai-nilai napak tilas itu dalam laku kehidupan nyata.

Secara khusus dalam tulisan ini akan menukik langsung pada peristiwa Natal. Dalam tradisi gereja, peristiwa Natal senantiasa didahului oleh minggu-minggu Adventus, dari Adventus pertama sampai keempat. Apakah Adventus itu? Adventus (bahasa Latin) atau dipendekkan menjadi Advent atau Adven berarti kedatangan yang dimaksudkan sebagai kedatangan Yesus Kristus. Sebelum umat Kristen merayakan kedatangan Yesus Kristus dalam peristiwa Natal, mereka mempersiapkan diri secara serius menjelang peristiwa kedatangan itu. Tentu persiapan ini bukan sekedar persiapan tehnis pelaksanaan acara, namun yang jauh lebih serius adalah persiapan kehidupan, memeriksa diri, instropeksi diri (auto kritik) dan menjalani laku hidup yang dijiwai oleh semangat pertobatan. Dalam minggu-minggu Adventus, umat Kristen benar-benar (dan seharusnya) membersihkan diri dari segala hawa nafsu kejahatan dan kekotoran pikiran, batin, dan tindakan. Sehingga peristiwa kelahiran dan kehadiran Yesus Kristus dapat dirayakan dan dimaknai dalam kejernihan budi, rasa, dan perbuatan.

Minggu-minggu Adventus sudah berlalu dan tibalah hari Natal. Umat Kristen larut dalam selebrasi sukacita atas kelahiran dan kehadiran Yesus Kristus Sang Juruselamat. Selebrasi atau perayaan Natal adalah suatu hal yang tidak dapat dihindarkan, karena hal itu merupakan sebuah keniscayaan dalam kekristenan di mana pun. Ada yang merayakan dalam kesederhanaan, ada pula yang merayakan dengan gegap gempita dengan pengeluaran dana yang cukup fantastis. Tentu saja model-model selebrasi seperti itu tidak bisa dengan serta merta dinilai sebagai mana yang benar dan mana yang salah, namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah rekfleksi kehidupan, auto kritik, pemeriksaan diri, yang dilakukan dalam minggu-minggu Adventus benar-benar mendasari dan menjiwai perayaan Natal ataukah hilang begitu saja karena minggu-minggu Adventus hanya dipahami sekedar rutinitas gerejawi yang sama sekali kering spiritualitas?

Dua kisah di dalam Alkitab telah menggambarkan dua sisi model selebrasi Natal dan sudah semestinya menjadi patokan perayaan Natal umat Kristen di masa kini. Model pertama adalah sebagaimana yang tertulis dalam Injil Lukas 2:8-20, bagaimana kelahiran Yesus Kristus diberitakan pertama kali kepada kaum gembala yang sedang menjaga kawanan ternak mereka. Cukup menarik untuk disimak dan direnungkan, mengapa kelahiran Yesus Kristus diberitakan pertama kali kepada kaum gembala? Karena pada masa itu, kaum gembala bukanlah golongan orang yang berpunya, mereka juga bukan sang empunya, dan profesi gembala kerap menjadikan diri mereka sebagai pihak yang tidak mendapatkan perhitungan dalam pengambilan keputusan politis penguasa meskipun kaum gembala bukan golongan warga apolitis (meminjam istilah filsuf Hannah Arendt). Itu artinya, yang tidak tersapa dan tersentuh oleh masyarakat pada waktu itu, justru disapa dan disentuh oleh Tuhan. Kepada kaum gembala diberitakan oleh malaikat “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa : Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.....” dan mereka pun segera merespon “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita”. Dalam kesederhanaan, mereka pergi ke Betlehem sampai menemukan bayi Yesus.

Sedangkan model yang kedua adalah sebagaimana yang tertulis dalam Injil Matius 2:1-12 tentang orang-orang Majus yang mencari raja orang Yahudi. Orang-orang majus bukanlah kaum sembarangan, mereka kaum intelektual dan berpunya, membawa persembahan berupa emas, minyak mur, dan kemenyan atau dupa wewangian, yang pada waktu itu ketiga jenis persembahan ini bukan barang murah. Mereka datang dari timur ke Yerusalem. Dimanakah wilayah timur yang disebut sebagai asal mereka? Para ahli tafsir memetakan antara daerah Persia atau Babilonia, yang berjarak seribu mil atau seribu lima ratus kilometer ke Yerusalem, sehingga para orang majus menempuh perjalanan jauh dan beresiko sekitar dua tahun lamanya hingga sampai ke tempat Yesus berada. Dalam kepandaian dan kekayaannya mereka mencari Yesus. Kepandaian dan kekayaan bersanding dengan pengorbanan (melalui rute perjalanan panjang sarat resiko), karena tanpa pengorbanan, kepandaian dan kekayaan akan menjadi kesombongan bahkan keserakahan.

Dua contoh model dalam Alkitab tersebut menandaskan bahwa baik kesederhanaan maupun kemeriahan dalam perayaan Natal adalah hal yang lumrah, namun satu hal yang mesti menjadi dasar utama, yaitu kebersahajaan! Sederhana itu bagus namun harus bersahaja, meriah itu tidak salah namun harus bersahaja. Tanpa kebersahajaan, Natal dirayakan dengan melupakan ritus pemeriksaan diri di minggu-minggu Adventus. Tanpa kebersahajaan, Natal akan kehilangan nilai yang sebenarnya. Nilai Natal adalah damai sejahtera, bukan hanya bagi umat Kristen tetapi bagi seluruh umat manusia. Damai sejahtera Natal mesti terpancar dan terwujud bukan hanya dalam gereja, tetapi juga dalam keluarga, lapangan kerja, dan masyarakat berbangsa. Karena sesungguhnya, Natal itu bukan sebatas selebrasi, tetapi transformasi, yang mengubah kehidupan menjadi jauh lebih baik.

Sebagai sebuah hari raya keagamaan, perayaan Natal pada dasarnya sama dengan bagaimana belajar keagamaan itu sendiri. Saya mengilustrasikannya dengan bagaimana cara bermusik. Bermusik itu tidak hanya terpaku pada pembelajaran notasi, tetapi harus memberinya rasa. Rasa inilah yang dinikmati oleh banyak orang yang mendengarkan meskipun mereka para pendengar tidak mengerti apa itu notasi. Pembelajaran notasi adalah analogi dari pembelajaran peristiwa dan nilai-nilai Natal, namun kesemuanya itu harus diberi rasa yang bersumber dari hati bersih yang penuh cinta. Rasa dari Natal harus disebar, rasa dari Natal harus di dengar, karena semua orang berhak merasakan damai sejahtera Natal. Selamat merayakan Natal dalam kebersahajaan dan selamat menikmati indahnya damai sejahtera Natal bagi keutuhan ciptaan. Natal bersahaja adalah Natal empati, Natal untuk semua. Alleluia! (penulis adalah pendeta di Gereja Kristen Indonesia)

 

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia