Sabtu, 19 Jan 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Tradisi dan Legenda Warga Pegunungan (4)

Yang Berani dan Bernyali Tidak Akan Kapok

24 Desember 2018, 17: 44: 32 WIB | editor : Adi Nugroho

tiban

LESTARI: Kades Surat Edy Susanto (tiga dari kanan) bersama para undangan yang hadir di acara kesenian tiban di Desa Surat, Mojo. (PEMDES SURAT For radarkediri.id)

Sekilas terasa ngeri melihat ritual tiban. Betapa tidak, pelaku tradisi di lereng Wilis ini sampai mengucurkan darah. Maka hanya yang bernyali yang berani.

Apa syarat menjadi pelaku tiban agar tradisi memohon hujan itu terwujud? Ternyata tidak terlalu ribet dan rumit. Pemain yang bertanding tak dibatasi usia. Mereka bisa mulai remaja, dewasa, hingga lanjut usia (lansia). 

“Tidak ada batasan umur. Semua boleh mengikuti asal berani,” kata Sumadji, sesepuh pelaku tradisi tiban di Desa Surat, Mojo.

          Asalkan sehat dan berani, menurutnya, postur fisik para pemain tidak banyak menjadi pertimbangan. Pun tidak ditimbang berat badannya. Juga tak diukur tinggi badannya.

“Yang bertubuh kecil, kurus, atau gemuk tak masalah. Yang pendek maupun tinggi pun boleh bertanding,” ujar pria yang berusia jelang 60 tahun ini.

          Dalam tradisi tiban, Samudji tak hanya menjadi pemain atau pelakunya. Dahulu bahkan ia sangat aktif. Namun, kini perangkat Desa Surat tersebut lebih banyak berperan sebagai plandang atau wasit.

          Apakah pemain tiban harus laki-laki? Samudji mengatakan, sebenarnya tidak ada aturan perempuan tidak boleh ikut. Namun, selama ini tradisi minta hujan itu memang hanya dilakukan oleh kaum lelaki. “Sebab pemainnya harus berani. Nah kalau perempuan, biasanya melihat saja takut,” jelas pamong desa yang dipercaya menjadi modin ini.

          Selain itu, lanjut Samudji, syarat pemain yang bertanding harus lepas baju. Artinya, mereka mesti bertelanjang dada. Celananya tetap dikenakan. Boleh panjang atau pendek. Bebas. Memakai ikat pinggang pun tak dilarang. Pemain boleh memakai ikat kepala, peci, atau kopiah.

          Lalu bagaimana dengan pemain yang masih remaja dan sudah lansia? Sebab pemain tiban harus berpasangan agar bisa beradu cambuk. “Prinsipnya pemain itu harus berani, siapapun lawannya. Tetapi biasanya ada pertimbangan wasit untuk memasangkan lawan,” terang Samudji.

          Ritual tiban dilaksanakan siang, saat matahari bersinar terik. Waktunya sekitar pukul 11.00 sampai pukul 13.00. Dalam tradisi meminta hujan di Desa Surat itu, setiap pemain berpasangan dua orang dalam satu pertandingan. Selain selamatan belum bermain, biasanya pemain berwudu dahulu. Di satu sesi tanding, satu pemain akan mencambuk sebanyak lima kali dulu. Setelah jatah cambukannya selesai, berganti lawan melakukan hal yang sama.

          Sehingga total cambukan dalam satu sesi pertandingan sebanyak 10 kali. Bila pemain masih kuat, adu pecut itu bisa berlanjut. Sistemnya tetap. Setiap pemain mendapat jatah mencambuk lima kali. Begitu seterusnya. “Tetapi umumnya cukup satu tahap tanding, masing-masing lima cambukan, setelah itu selesai,” ulas Samudji.

          Dalam ritual tradisi ini, ia menambahkan, tidak ada yang kalah maupun menang. Yang ada adalah keberanian dan keikhlasan. Jika tidak kuat kena cambuk, pemain boleh berhenti atau menyerah. “Tapi itu jarang terjadi, mungkin malah tidak pernah. Pemain selalu bertahan dalam ritual tiban,” urainya.

          Bagi pemula selalu ada dua kemungkinan setelah merasakan  cambukan. Pertama, akan kapok dan tak akan berani lagi. Kedua, pemain justru ketagihan dan ingin bermain lagi.

          Kepala Desa (Kades) Surat Edy Susanto tak menampik kemungkinan itu. Dia menyatakan, niat utama pemain tiban memang harus berani. Bahkan, tak hanya itu, pemain pun mesti bernyali. “Main tiban harus punya nyali besar. Kalau tidak, ya pasti tidak berani,” ujar pria yang terpilih menjadi kades pada akhir 2012 ini.

          Edy lantas mengungkap pengalaman pertamanya menjadi pemain tiban. Ketika kena cambukan lawan, ia mengaku, justru ketagihan. Bukannya kesakitan lalu menyerah, bapak tiga anak ini malah bersemangat menyelesaikan permainan. Setelah itu, ia selalu mengikuti tradisi tiban.

          “Tradisi tiban ini kan sebenarnya bukan untuk mengalahkan. Namun, lebih pada keberanian, sportivitas, dan guyub rukun,” tuturnya. Karena itu, usai adu cambuk tidak ada dendam. Apalagi sakit hati. Para pemain saling bersalaman. Mereka pulang dengan kebanggaan.  

 

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia