Sabtu, 19 Jan 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Tradisi dan Legenda Warga Pegunungan (1)

Gelar Ritual Tiban bila Kekeringan

22 Desember 2018, 13: 49: 07 WIB | editor : Adi Nugroho

tradisi tiban

TERBANG: Dua pria beradu cambuk dalam tradisi tiban yang juga biasa digelar di desa-desa Lereng Wilis. (PEMDES SURAT For radarkediri.id)

Warga yang tinggal di kaki Gunung Wilis punya tradisi unik saat dilanda kemarau panjang. Di Desa Surat, mereka melakukan ritual tiban agar hujan segera turun.

 

Sistem pengairan lahan pertanian di Desa Surat, Mojo adalah tadah hujan. Karena itu, para petani di lereng pegunungan Wilis ini sangat mengandalkan air hujan untuk bercocok tanam.

Fasilitas irigasi bukan masalah ketika musim penghujan. Pasalnya, air untuk mengairi sawah atau menyirami tegal dan kebun tersedia dengan mudah. “Kalau air lancar dan hujan tepat pada musimnya, petani di sini bisa tiga kali tanam padi,” ujar Kepala Desa (Kades) Surat Edy Susanto melalui Kepala Urusan (Kaur) Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) Sumadji.

Selain padi, menurutnya, mayoritas petani menanam jagung dan kacang. Mereka menyesuaikan waktu tanam dengan musim penghujan. Sesuai iklim tropis di Indonesia, musim hujan berlangsung antara Oktober–Februari. “Tidak ada masalah selama hujan dan kemarau datang tepat musimnya,” kata Sumadji.

Namun ketika kemarau dan air sulit didapat, pamong senior di Desa Surat ini mengatakan, petani terpaksa menggunakan mesin diesel. Itu untuk menyedot air tanah demi mengairi sawah. Pasalnya, kondisi tanah termasuk lahan kering.

Sehingga harus mengebor agar dapat menyemburkan air dari dalam tanah. Kedalamannya bisa lebih dari 100 meter. “Sumur bor untuk kebutuhan air minum saja kedalamannya sampai 126 meter,” ungkap Sumadji.

Apalagi, lanjut dia, jika musim hujan terlambat. Air pun sulit diperoleh. Mata air kering. Diesel tak kuat menyedot lagi. Maka warga – terutama petani –resah. Itu pertanda musim kemarau bakal panjang. Indikasinya, menurut perhitungan masyarakat setempat, adalah hingga bulan kesebelas pada tahun itu.

“Bila sampai bulan kesebelas (November, Red) tak ada tanda-tanda hujan, berarti itu saatnya dilakukan tiban. Biasanya warga akan mengajukan usul ke perangkat desa,” ucap Sumadji yang juga dikenal sebagai modin desa ini.

Tiban merupakan tradisi ritual untuk memohon pada Yang Maha Kuasa agar menurunkan hujan. Ini demi mengakhiri kemarau panjang. Ritualnya berupa atraksi seperti tari dua orang sambil saling mencambuk.

Umumnya, pelaku ritual laki-laki. Atraksi diiringi musik tradisional. Pemain melecutkan cambuk ke pemain lawan. Sasarannya, bagian bawah kepala dan di atas pinggang. Itu bisa di bagian dada, bahu, maupun punggung. Di arena kedua penari saling mencambuk.

“Panjang pecutnya sekitar satu meter. Pecut terbuat dari sodo aren (batang lidi dari pohon aren atau kolang-kaling, Red),” terang Sumadji.

Beberapa kali terkena pecutan tentu pelaku ritual tiban ini akan terluka cambuk. Tak jarang luka bekas cemeti mengucurkan darah. Kendati begitu, hal tersebut dianggap biasa. Bahkan, justru lantaran luka itulah ritual tiban ini menjadi religius dan bertuah.        

Luka dan darah yang mengucur tersebut dianggap sebagai keikhlasan pengorbanan agar hujan segera dijatuhkan dari langit. Ini seperti kata tiban yang diyakini dari bahasa Jawa, ‘tiba’ (yang berarti jatuh) dan ‘udan’ (hujan).

Dalam pergelaran tiban, Sumadji mengatakan, tidak menonjolkan unsur kekerasan. Tetapi lebih pada kekhidmatan ritual dan permohonan yang tulus kepada Yang Maha Kuasa. Di sini ada harapan yang luhur sekaligus melestarikan tradisi para leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.

“Dari pengalaman saya mengikuti tiban, biasanya setelah ritual itu, sekitar dua tiga hari kemudian, hujan akan turun,” papar Sumadji.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia