Rabu, 27 Mar 2019
radarkediri
icon featured
Features

Bolehkah Ikut Larung Sesaji?

22 Desember 2018, 13: 41: 51 WIB | editor : Adi Nugroho

Bolehkah Ikut Larung Sesaji?

Bagaimana hukum mengadakan larung sesaji sebagai wujud syukur atas segala berkah dan nikmat yang diberikan Allah? Apakah boleh diikuti? Mohon penjelasan. (Muis, 081335162xxx)

 

Jawaban:

 

Larung sesaji adalah menaruh sesajian ke laut, sungai, atau danau. Setelah sebelumnya dibacakan doa. Tujuannya, di antaranya persembahan rasa syukur atas segala nikmat di samping permintaan keselamatan, misalnya di laut, kepada penguasa laut. Tetapi ada yang bertujuan hanya melestarikan tradisi. Tetap berkeyakinan hanya kepada Allah persembahan rasa syukur dan persembahan segala permintaan. Dan hanya Allah yang mengabulkan segala permintaan.

Pembicaraan larung sesaji terkait dengan persoalan adat (‘urf) dalam hukum Islam. ‘Urf terbagi menjadi ‘urf sahih, jika tidak bertentangan dengan syariah Islam, dan ini dibolehkan. Serta ‘urf fasid, jika bertentangan dengan syariah Islam, dan ini tidak dibolehkan.

Di luar persoalan hukum Islam, terdapat persoalan akidah. Yaitu soal keimanan dan kekafiran. Jika dalam pelaksanaan terdapat unsur yang meniadakan keberadaan Allah, maka berakibat kekafiran. Sebaliknya, berakibat keimanan. Juga terdapat persoalan tabdzir (menyia-nyiakan) harta. Seperti membuang makanan ke laut dan tidak dimakan manusia. Juga terdapat persoalan bagaimana berdakwah kepada masyarakat muslim yang masih melestarikan tradisi larung sesaji. Ini persoalan yang cukup penting dan harus kita pikirkan solusinya. Karena itu menjelaskan jawaban dari persoalan larung sesaji harus mempertimbangkan berbagai persoalan di atas.

Muktamar ke-5 NU di Pekalongan pada 1930 telah memberi jawaban terhadap persoalan larung sesaji. Seperti dimuat buku “Masalah Keagamaan” hasil Muktamar/Munas Ulama NU ke I s/d XXX oleh KH A. Aziz Masyhuri. Disebutkan hukumnya mengadakan pesta dan perayaan guna memperingati jin penjaga desa (mbaureksa: jawa) untuk mengharapkan kebahagiaan dan keselamatan dan kadang terdapat hal-hal yang mungkar. Perayaan tersebut dinamakan “sedekah bumi”. Jawaban dari buku itu disebutkan “haram”. Dan itu didukung oleh QS Al-An’am, 136. Yang artinya : “dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bahagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: "ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami". Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu”.

Juga didasarkan pada hadis mauquf, riwayat Imam Ahmad dari Thoriq ibn Syihab, yang artinya : Rasulullah SAW bersabda : ada seorang yang masuk surga karena seekor lalat, dan ada seorang yang masuk neraka karena seekor lalat pula. Para sahabat bertanya: bagaimana hal itu, ya Rasulallah. Beliau menjawab: ada dua orang berjalan melewati suatu kaum yang mempunyai berhala, tidak seorangpun yang melewati berhala itu kecuali mempersembahkan suatu kurban. Mereka berkata kepada salah seorang dari kedua orang tersebut: persembahkanlah kurban kepadanya. Dia menjawab: aku tidak mempunyai sesuatu yang dapat kupersembahkan kepadanya. Merekapun berkata kepadanya lagi: persembahkan, sekalipun hanya seekor lalat. Lalu orang tersebut mempersembahkan seekor lalat dan merekapun memperkenankan dia untuk meneruskan perjalanannya. Maka dia masuk neraka karenanya. Kemudian berkatalah mereka kepada seorang yang lain: persembahkanlah kurban kepadanya. Dia menjawab: aku tidak patut mempersembahkan suatu kurban kepada selain Allah 'azza wa jalla. Kemudian mereka memenggal lehernya. Karenanya, orang ini masuk surga. (HR. Ahmad).

Menurut kami, jawaban di atas hanya mempertimbangkan persoalan hukum yang banyak dipengaruhi oleh persoalan akidah. Artinya, larung sesaji menggambarkan akidah yang tidak benar. Karena terdapat unsur peniadaan keberadaan Allah. Setidaknya menyandingkan Allah dengan yang lain. Maka itulah syirik. Sebaliknya, jawaban di atas belum mempertimbangkan persoalan ‘urf, dakwah, dan akhlak. Tuduhan syirik masih bisa ditolak dengan niat melakukan larung. Maksudnya, niat melakukan larung sesaji bukan mempersembahkan rasa syukur dan permohonan kepada selain Allah. Namun tetap kepada Allah. Karena Dialah yang berhak disembah dan tempat segala permohonan.  Larung, juga dianggap mubadzir, membuang-buang makanan. Makanan adalah berkah dan rahmat karunia Allah. Karena itu kita berusaha tidak menyisakan makanan, sebagaimana disunnahkan Rasulullah SAW. Kalaupun kita membuang sisa makanan yang tidak kita makan, kita niatkan untuk sedekah.  Apa salahnya jika bersedekah  dengan memberi  makanan kepada ikan-ikan di air tempat mereka menggantungkan hidup? Karena pada setiap limpa yang basah terdapat pahala. Dari pertimbangan persoalan ‘urf, tradisi larung sesaji seperti gambaran di atas, tidak mengandung hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam.

Belum lagi, bagaimana sikap dakwah kita kepada masyarakat muslim khususnya yang masih mengikuti tradisi larung sesaji. Dalam hal ini, diperlukan penerapan akhlak yang mulia. Misalnya dengan tahapan-tahapan dakwah, dan tidak sekaligus mematikan tradisi larung sesaji. Tetapi mungkin dengan mengisi kegiatan-kegiatan yang benar menurut syariat Islam. Sehingga pada akhirnya secara tidak terasa telah meninggalkan tradisi larung sesaji yang berisi kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan syariat Islam. Artinya,  tradisi larung sesaji dibolehkan selama tidak mengandung kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan syariat Islam. (Khamim, dosen IAIN Kediri)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia