Jumat, 18 Jan 2019
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Pager Dhuwur

20 Desember 2018, 20: 08: 44 WIB | editor : Adi Nugroho

Sego Tumpang

Sego Tumpang

“Ojo nggawe pager dhuwur-dhuwur,” begitu pesan emak waktu Kang Noyo mbangun rumah. Itu pula yang diingatkan Mbok Dadap, teman sak shio sang emak, waktu Kang Noyo sarapan sego tumpang di warungnya. “Kowe ora bakal nduwe tangga.” 

Sebagai bakul sego tumpang yang enaknya sak ndonya, Mbok Dadap paham betul soal itu. Makanya, ketika mulai bisa ndandani warungnya yang reyot hingga menjadi lebih layak, sama sekali tak ada pikiran untuk mbangun pager. “Aku mau bakulan. Bukan mau mbangun gudang.”

Bakulan, tentu saja, membutuhkan orang datang. Sebanyak-banyaknya. Membangun pagar hanya membuat mereka enggan datang. Alih-alih datang, menengok pun enggan. Bahkan tak bisa. Karena tidak kelihatan.

Sebisa-bisanya, sebagai orang bakulan, Mbok Dadap berusaha agar seluruh dagangannya kelihatan. Ramainya pengunjung di dalam kelihatan. Bahkan, kalau perlu, sibuknya dapur menyiapkan makanan juga kelihatan. Itu bisa jadi show tersendiri. Untuk menarik perhatian. Seperti bakul sate yang masaknya selalu di depan. Bukan di belakang. Karena asap dan aroma satenya adalah bahan jualan.

Pagar, apalagi tinggi, hanya akan membatasi interaksi. Karena pagar, pada hakikatnya, adalah penghalang. Barrier. Pembatas. Yang membuat orang lain tidak bisa leluasa untuk masuk pada area yang dibatasi.

Barrier diciptakan ketika orang merasa tidak aman. Atas hadirnya orang lain. Sehingga orang membuat proteksi. Agar sesuatu yang hendak dia lindungi tidak terganggu oleh kehadiran yang lain itu. Makanya, seperti kata Mbok Dadap, pagar tinggi cocoknya untuk bangunan gudang. Bukan untuk bangunan warung bakulan seperti miliknya.

Sebab, gudang memang tidak butuh kehadiran orang lain. “Makanya, kamu tetap njomblo. Karena kamu memperlakukan hatimu seperti gudang,” sindir Mbok Dadap pada Mat Ijen. “Pagar hatimu terlalu tinggi.”

Mat Ijen memang orang yang weden. Penakut. Takut ini, takut itu. Untuk menjalin hubungan. Setiap ada yang berusaha menarik perhatian, dia selalu teliti. Satu per satu. Seperti satpam gudang ketika ada orang tak dikenal hendak masuk. Daftar pertanyaannya bisa berlembar-lembar. Itu yang membuat perempuan jadi ogah. Lalu, muncul stigma. Bahwa Mat Ijen ndak butuh wedokan.

“Jodohku belum lahir ke dunia, Mbok,” begitu dia selalu membela diri tiap kali disindir demikian.

Orang-orang yang membangun pagar tinggi adalah orang-orang yang merasa tidak aman. Perasaan tidak aman itulah yang kemudian memunculkan ketakutan. Kekhawatiran. Juga kecurigaan. Takut dan khawatir atas keselamatan dirinya sendiri. Serta, curiga terhadap orang lain.

Lalu, dari mana munculnya rasa tidak aman? Dari minimnya pengetahuan. Dari minimnya kepercayaan. Dan, mereka yang senantiasa merasa tidak aman, berarti belum bisa menyelesaikan tingkatan kedua dari hirarki kebutuhan dasarnya. Seperti disebut Abraham Maslow. Dalam psikologi humanistiknya.

Orang-orang weden yang selalu merasa tidak aman banyak kita temukan sekarang. Dalam lalu-lalang informasi yang tanpa henti. Dalam percakapan sehari-hari. Di dunia nyata, apalagi dunia maya. Dari pagi sampai pagi lagi.

Mereka membangun pagar tinggi-tinggi. Untuk diri atau kelompoknya sendiri. Mereka khawatir akan hadirnya liyan. Orang lain. Kelompok lain. Karena itu tak mau berinteraksi. Yang ada adalah bertahan. Membentengi diri. Atau, menyerang.

Dan, menyerang, adalah pertahanan terbaik. Kata pelatih sepak bola. Maka, mereka pun berbondong-bondong merelakan diri sebagai cyber army. Menyerang. Menyerang. Menyerang. Orang lain. Kelompok lain. Yang dianggap mengancam keberadaannya. Kelompoknya. Ideologinya. Partainya. Calon presidennya.

Minim pengetahuan. Minim kepercayaan. Membuat orang selalu merasa tidak aman. Membuat dia tak bisa memanjat piramida kebutuhan berikutnya: perasaan cinta, memiliki. Ada persahabatan. Ada keluarga. Dan, ada hubungan yang intim.

Pada mereka yang selalu merasa tidak aman, jangankan persahabatan. Jangankan keluarga. Jangankan hubungan yang intim. Semua yang ada di luar diri dan kelompoknya adalah musuh belaka. Yang harus dibangunkan pagar-pagar tinggi.

Lalu, kepada kamu…

Iya, kamu…

Setinggi apa pagar hati yang kau dirikan, Mblo? Eh… (tauhid wijaya)

(rk/baz/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia