Sabtu, 19 Jan 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Kaya Keanekaragaman Hayati (8)

Pohon nan Harum Jadi Habitat Babi Hutan

20 Desember 2018, 19: 47: 14 WIB | editor : Adi Nugroho

gunung wilis

BANYAK MANFAAT: Penulis beristirahat di bawah keteduhan pohon Puspa yang tumbuh subur di Alas Puspa, saat Ekspedisi Wilis I. (M Arif Hanafi - radarkediri.id)

Selain tanaman musiman, ada banyak pohon tahunan di hutan-hutan Wilis. Salah satunya adalah pohon Puspa. Pohon penangkap air yang juga berkhasiat untuk kesehatan.

Warga di lereng Wilis menyebutnya pohon Puspa. Habitatnya tersebar di seluruh hutan di Gunung Wilis. Namun, ada satu kawasan yang memang menjadi lokasi tumbuh pohon ini secara masal. Tepatnya di daerah puncak Margo Pasar. Di sana ada satu kawasan yang disebut Alas Puspa. Lantaran vegetasi utamanya adalah pohon Puspa.

Letak Alas Puspa tersebut berada di ketinggian 1.800 mdpl. Terletak di tengah areal pegunungan Wilis. Tepat di sebelah utara Puncak Wilis. Tak mudah untuk menuju kawasan tersebut. Dari daerah Ngebrak atau landasan pesawat Jepang, harus ditempuh minimal 2 jam perjalanan. Itu pun tanpa istirahat. Kawasan hutan bambu, alang-alang, dan Alas Gople menjadi rute termudah untuk menuju Alas Puspa itu.

Semerbak aroma bunga pun menyambut saat memasuki kawasan hutan yang lokasinya tak jauh dari area bungker Jepang tersebut. Harum, itulah yang tercium dari bunga yang ada di pohon Puspa. Masuk lebih dalam lagi, suasana segar semakin terasa. Dengan kondisi udara yang lembab.

“Daerah sini juga menjadi tempat hidup celeng (babi hutan, Red),” ujar Menuk, warga sekitar yang tergabung dalam tim Ekspedisi Wilis I.

Memang, kondisi yang lembab serta banyaknya serasah menjadikan tanah di areal Alas Puspa bertekstur gembur. Kumpulan bahan organik dari pelapukan dedaunan dan kayu pohon Puspa juga membuat organisme dalam tanah seperti cacing banyak ditemukan di sana.

“Cacing-cacing ini makanan celeng,” imbuh Menuk.

Cacing tersebut memang menjadi makanan Celeng selain umbi-umbian. Selama ini selain membuat tanah subur dan bisa menahan erosi, ohon Puspa juga mempunyai banyak manfaat lain. Pohon yang memiliki nama ilmiah schima wallichii ini merupakan jenis pohon penghasil kayu pertukangan berkualitas baik.

Dari beberapa sumber menyebut bahwa pohon Puspa selalu hijau. Tak pernah kering atau menggugurkan daunnya saat musim kemarau. Cadangan air di bawah pohon yang melimpahlah yang membuat kondisinya selalu tampak segar. Hal ini terbukti dari akar gantung yang sangat mudah dijumpai di areal Alas Puspa tersebut bisa mengeluarkan banyak air.

Pohon asli Indonesia dan sejumlah negara di Asia ini berukuran sedang hingga besar. Bahkan ketinggianya bisa mencapai 47 meter.  Dari sejumlah sumber menyebut, Pohon Puspa ini mampu hidup pada berbagai kondisi tanah, iklim, dan habitat. Sering ditemukan tumbuh subur di hutan primer dataran rendah hingga pegunungan. Pohon ini juga umum dijumpai di hutan-hutan sekunder dan wilayah yang terganggu. Bahkan juga di padang ilalang. Bunga dan buahnya pun setelah dikeringkan bisa dimanfaatkan sebagai jamu.

“Terutama bunganya, dulu sering digunakan untuk ramuan,” ujar Menuk.

Namun, dia belum bisa menjelaskan, ramuan apakah yang dimaksud. Dari hasil penelitian, menyebut bahwa ramuan dari bunga pohon Puspa yang bersifat astringensia ini digunakan untuk mengobati penyakit rahim dan histeria.

Sementara di daerah timur laut India, penanaman Puspa dikombinasikan dengan kapulaga dalam suatu sistem wanatani untuk melindungi tanah dan air. Di negara ini, puspa juga digunakan sebagai pohon penaung di perkebunan kopi.

Di Indonesia sendiri, kebanyakan puspa dimanfaatkan sebagai pelindung di hutan tanaman tusam dan damar. Selain itu, puspa juga baik untuk reklamasi lahan dan reboisasi daerah tangkapan air.  

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia