Sabtu, 19 Jan 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Catatan Ekspedisi Wilis I, Kaya Keanekaragaman Hayati (7)

Jaga Kelestarian, Perhutani Gandeng Pendaki

19 Desember 2018, 09: 47: 12 WIB | editor : Adi Nugroho

wilis

HUTAN LINDUNG: Tim Ekspedisi Wilis I beristirahat di hutan lindung yang dikelola Perhutani. (M Arif Hanafi - radarkediri.id)

Banyak potensi dari gunung Wilis yang bisa dikembangkan. Perhutani pun berkomitmen untuk menjaganya. Berbagai terobosan pun dilakukan.

Potensi hutan lindung dan produksi di Gunung Wilis sangatlah besar. Mulai dari tanaman, satwa, mata air, air terjun, dan keindahan Wilis sendiri. Hal tersebut memang sangat potensial untuk dimanfaatkan. Tentu dengan tetap mengedepankan pelestarian hutan.

Seperti diketahui, hutan lindung mempunyai fungsi pokok menjaga kualitas lingkungan dan ekosistem. Hutan lindung dapat menyimpan cadangan air, mencegah banjir, dan longsor. Hutan lindung juga difungsikan menjaga sumber daya genetika tumbuhan dan satwa di dalamnya.

Menyadari banyaknya potensi tersebut, Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Kediri pun merancang strategi untuk menjaganya. Pemeliharaan dan pelestarian terus dilakukan. Tidak luput juga berbagai sosialisasi diberikan kepada warga dan pelajar.

Ada satu terobosan untuk melestarikan hutan lindung tersebut. KPH Kediri bekerjasama dengan para pendaki atau siapa saja yang naik ke gunung Wilis. Setiap ada pendaki yang meminta izin di tempatnya pasti akan dititipi benih.

“Dengan harapan pendaki tersebut sewaktu perjalanan atau di atas dapat menyebar benih tersebut,” ujar Asisten Perhutani (Asper) Kepala Bagian Kesatuan Pemangku Hutan (KBKPH) Hermawan.

Ia terinspirasi dari banyaknya anak muda atau pelajar dewasa ini yang menggemari pendakian gunung. Ia menilai kegiatan pendakian telah menjadi tren dalam generasi sekarang. Oleh karena itu ia berinisiatif menitipkan benih tersebut untuk disebar di atas.

Selain bisa melestarikan hutan, kegiatan tersebut juga dimaknai sebagai pembelajaran kepada generasi masa kini. Tentang pentingnya menjaga hutan dan melestarikan tanaman untuk kepentingan bersama.

Benih yang dititipkan itu bermacam jenisnya. Ada benih buah-buahan atau non buah. Selain mengedukasi pendaki, hal tersebut juga dirasa dapat memberikan efek poisitif. Pasalnya, dengan terjaganya hutan tersebut beberapa dampak buruk akan dapat dihindari.

Seperti halnya benih buah pepaya, jambu air dan sebagainya. Ia sengaja memilih jenis buah tersebut agar bias menjadi ladang makanan satwa yang ada di sana. Dengan tercukupinya jatah makannya, satwa di sana tidak akan mengganggu perkampungan warga.

Begitu juga dengan pohon yang nantinya bisa menjadi habitat dan tempat tinggal satwa tersebut. Jika hutan tersebut asri dan ditumbuhi banyak pepohonan maka potensi adanya longsor dan banjir juga berkurang.

Dari sektor wisata, Perhutani juga mengaku banyak sekali potensi wisata yang bisa dimanfaatkan. Terutama dengan keindahan alam yang ditawarkan oleh Gunung Wilis. Seperti Taman Kelir yang berada di Desa Joho, Semen, Kabupaten Kediri. Selain menyajikan keindahan asli dari alam di kawasan Wilis, tiket yang dipatok juga masih relatif murah.

Meskipun begitu, masih banyak tangan-tangan jahil yang sengaja merusak hutan Wilis. Salah satunya dengan membakar hutan tersebut. Menurutnya, setiap ada kebakaran hampir bisa dipastikan bahwa itu akibat ulah manusia.

Lebih lanjut, hal tersebut biasanya terjadi karena pemburu babi hutan, lebah, dan landak. Pasalnya, mereka memakai api atau asap untuk mendapatkan hewan incarannya tersebut.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia