Sabtu, 19 Jan 2019
radarkediri
icon-featured
Events
Catatan Ekspedisi Wilis I

Kisah Menarik di Era Kolonial dan Kemerdekaan (5)

Di Pelataran Terpasang Ubin Seberat 10 Kg

09 Desember 2018, 13: 38: 49 WIB | editor : Adi Nugroho

ubin ekspedisi wilis

DI TENGAH BELANTARA: Ubin yang diperkirakan peninggalan tentara Jepang. (M Arif Hanafi - radarkediri.id)

Banyak bukti pendukung aktivitas tentara Jepang di Margo Pasar. Selain keberadaan bungker, tandon, dan kincir air, juga ada pelataran yang dilengkapi ubin.

Sinar matahari siang itu tak mampu menembus lebatnya pepohonon di hutan heterogen puncak Margo Pasar. Semakin ke dalam, suasana semakin sejuk. Vegetasi juga lebih rapat. Hawa dingin pun semakin terasa.

Sejumlah akar gantung menyambut kami. Mas Menuk terlihat sibuk memotong akar gantung tersebut. Dikeprasnya meruncing. Membuat air dari dalam akar mengucur deras. Tak butuh waktu lama, kami pun berlomba mendapatkan air tadi. Meminumnya langsung. Atau dimasukkan dalam botol minum yang kami bawa dari basecamp.

“Airnya sangat segar. Dingin seperti baru ambil dari kulkas,” ujar salah satu anggota ekspedisi Nanang Prestijono.

Secara bergantian kami memosisikan diri di bawah akar yang terus mengalirkan air segar tadi. Semakin berkurang, akar yang lain pun kembali dipotong. Hingga dahaga kami terlepaskan.

Akar gantung tersebut menjadi bukti bahwa air tanah yang ada di sana sangat melimpah. Menyimpan cadangan air, hingga terdistribusi ke setiap bagian tanaman. Air tadi juga membuat kawasan di sana tampak lembab. Banyak jamur yang tumbuh. Baik di tanah, pohon, hingga di sisa-sisa batang yang mulai membusuk.

“Di sini tanamannya beragam. Bagus-bagus. Ini ada juga bunga anggrek,” gumam pria yang karib disapa Mbah Nanang itu sembari memotret anggrek yang dia maksud.

Kondisi seperti ini ditemukan di wilayah Alas Puspo. Termasuk di daerah bungker Jepang dan sekitar bangunan tandon air yang misterius kegunaannya itu. Masih menyusuri kawasan sekitar bungker. Tak jauh dari mulut bungker, belasan ubin menyambut kami. Kondisinya tertata rapi. Bak lantai di pelataran rumah. Memang sekitar lokasi penemuan ubin tadi cukup luas. Tampak lapang. Tanpa ditumbuhi pohon-pohon besar.

“Kemungkinan masih banyak lantai di sekitar sini,” tegas Mas Menuk.

Kondisi lantainya sebagian besar tertutup rumput dan serasah berupa dedaunan. Ada juga yang tertimbun tanah. Tak butuh waktu lama, Mas Menuk melakukan penggalian. Menggunakan parang yang dibawanya dari rumah. Di samping itu, tim ekspedisi lain memanfaatkan ranting pohon untuk membersihkan bagian tepi lantai.

Satu di antara tatanan ubin diambil Mas Menuk. Itu untuk dilakukan pengukuran ketebalan ubin yang berbentuk persegi tersebut. Dari hasil pengamatan, ubin terbuat dari batuan yang dihancurkan dan dicampur tanah liat yang kemudian dicor. Itu terlihat dari bagian bawah ubin yang kasar dengan sejumlah kerikil untuk memperkukuh ubin setebal 7 sentimeter itu. Sementara bagian atas kondisinya masih halus berwarna merah kecoklatan.

“Hati-hati ini sangat berat,” pesan Mas Menuk ketika salah satu tim ekspedisi mencoba mengangkat satu ubin dengan luas 49 x 49 sentimeter tersebut.

Berat ubin diperkirakan lebih dari 10 kilogram. Dengan kondisi seberat itu, kemungkinan besar ubin dibuat di lokasi. Tidak mungkin dibawa dari bawah. Terlebih dengan kondisi medan yang cukup ekstrim tadi. Apalagi di ketinggian hampir 2.000 MdPL.

Sejauh ini tak ada yang bisa memastikan peruntukan tatanan ubin yang ada di pelataran itu. Yang jelas jajaran ubin yang ditemukan satu garis linier dengan bungker. Apakah untuk apel pasukan tentara perang, atau sebagai alas agar sekitar bungker tidak becek. Belum ada yang berani menyimpulkan.

Jarum jam menunjukkan pukul 09.45 WIB. Sebenarnya masih banyak lagi yang ingin kami eksplorasi di kawasan bungker peninggalan Jepang tersebut. Namun kondisi belum memungkinkan untuk dilakukan pada hari itu juga. Kumpulan awan yang menggelayut pun memaksa kami untuk segera beranjak turun. Meninggalkan kawasan yang masih penuh tanda tanya itu.  

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia