Sabtu, 19 Jan 2019
radarkediri
icon-featured
Events
Catatan Ekspedisi Wilis I

Kisah Menarik di Era Kolonial dan Kemerdekaan (4)

Ada Tandon Air tapi Tak Berpipa

07 Desember 2018, 14: 19: 26 WIB | editor : Adi Nugroho

wilis

Gunung Wilis dan Peninggalan Sejarah Kediri (Ilustrasi: Afrizal - RadarKediri.JawaPos.com)

Beberapa penemuan di sekitar bungker Jepang menjadi bukti aktivitas masa penjajahan di puncak Margo Pasar. Bungker ini diperkirakan sebagai sarana persembunyian militer.

Penelusuran di sekitar bungker Jepang berlanjut. Usai melakukan pengukuran luasan bungker sekaligus memeriksa kondisi di dalamnya, tim ekspedisi terus mencari bukti peninggalan yang masih tersisa. Termasuk penelusuran di atas dan depan bungker. Masih di daerah puncak Margo Pasar. Awalnya kami mendapati adanya bangunan berupa tempat mirip penampungan air. Kondisinya masih utuh.

Tak ada yang tahu secara pasti apa fungsi bangunan itu. Dari keterangan Mas Menuk, bangunan yang menyerupai bak mandi tersebut adalah tandon air. Digunakan untuk kebutuhan sehari-sehari tentara Jepang yang melakukan pertahanan di tempat itu. Meski masih utuh, namun saat ini bangunan itu ditumbuhi sejumlah tanaman. Kebanyakan adalah tanaman merambat. Ada juga tanaman tahunan yang akarnya nyaris menembus dinding bangunan. Akibatnya di bagian sudut ada retakan.

Bangunan itu terdiri dari 5 kotak penampungan. Bentuknya memanjang. Setelah diukur panjangnya 8,7 meter. Sedangkan luas tiap kotaknya 130 x 135 sentimeter.

Memang tak sulit untuk menemukan bangunan ini. Letaknya sekitar 100 meter dari bungker. Di lereng bagian atas. Kondisi tanah yang gembur di atasnya membuat bangunan ini rawan tertutup tanah longsor. Untungnya, masih banyak akar pepohonan besar yang menahan tanah agar tetap stabil. Sehingga erosi bisa secara alami terkendali.

Di dalam bangunan tadi sudah penuh dengan dedaunan dan serasah tanaman. Apabila diukur kedalamannya lebih dari 1 meter. Selain diduga sebagai penampung air, kabarnya ada yang pernah menemukan barang pecah belah di lokasi ini. Termasuk keramik-keramik berlabel Tiongkok.

“Dulu ada barang-barang untuk keperluan makan. Paling banyak piring dan mangkuk,” jelas Menuk.

Barang-barang tersebut menurutnya ditaruh dalam bangunan. Hal ini semakin menambah misteri fungsi utama tempat tersebut. Jika itu benar merupakan sebuah tandon air, tidak ditemukan saluran utamanya. Di setiap sudut tidak ada bekas pipa atau hal lain yang diduga bisa menyalurkan air ke dalam tandon. Namun, jika dilihat dari letaknya, bangunan ini sudah tepat. Yakni di atas bungker, yang membuat semakin mudahnya distribusi air di sana.

Dari keterangan Menuk, memang belum ditemukan sumber air yang benar-benar dekat dengan bangunan tersebut. Ada aliran sungai namun itu baru bisa ditempuh dengan jarak yang sangat jauh. Tidak menutup kemungkinan apabila dahulu terdapat pipa-pipa penyalur air dari aliran sungai yang kini sudah tiada. Pasalnya, semua benda yang tersisa, selama ini sangat mudah diambil orang.

“Di aliran sungai ada kincir air,” jelas Menuk.

Kincir air yang dimaksud adalah sarana untuk pembangkit listrik. Letaknya ada di lembah bawah kawasan bungker. Sejumlah literatur menyebut, secara umum sarana militer Jepang dibangun dengan memanfaatkan kondisi lingkungan. Termasuk membangun gua atau ceruk di dinding tebing pegunungan. Termasuk sarana lain yang memanfaatkan sumber daya di sekitarnya, keberadaan aliran sungai, juga kontur datar di perbukitan yang dimanfaatkan sebagai landasan pesawat.

Menuk menyebut tak jauh dari kincir air yang dimaksud masih ada tiang listrik. Jika demikian, saat itu Jepang benar-benar memanfaatkan keadaan alam di tempat ini. Suplai listrik tersebut dipastikan sangat mendukung membawa aliran air ke bagian atas. Juga sebagai sarana penerangan di kawasan bungker yang dibangun untuk tempat persebunyiannya kala itu.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia