Sabtu, 19 Jan 2019
radarkediri
icon-featured
Events
Catatan Ekspedisi Wilis I

Kisah Menarik di Era Kolonial dan Kemerdekaan (2)

Semua Tertutup Bukit kecuali ‘Pintu’ ke Semen

07 Desember 2018, 12: 37: 41 WIB | editor : Adi Nugroho

ekspedisi wilis

LEBAT: Hutan di salah satu puncak Wilis. (M ARIF HANAFI - RadarKediri.JawaPos.com)

Semua sisi di sekitar lokasi yang diperkirakan jadi landasan pacu ditutup tebing. Kecuali satu ‘pintu’ yang tak terhalang tebing. Pintu itu langsung menuju ke arah Semen.

Kami terus mencari bukti pendukung bahwa lokasi di Ngebrak, Wilis dulunya adalah landasan pesawat perang Jepang. Dengan diselingi kabut yang cukup tebal, kami pun bercengkrama.

Duduk santai sambil mengabadikan sekitar dengan bidikan kamera. Saya dan Mas Dheny sibuk mencari angle terbaik foto. Ia memang gemar mengabadikan berbagai momen dan keindahan. Sembari mata menatap layar kamera dan jemari sibuk menggeser hasil foto, obrolan kembali tercipta. Dia bercerita bahwa jauh di ujung sisi timur adalah daerah Kanyoran, Semen.

Sayang, kondisi kabut dan matahari yang nampak malu-malu sedikit mengebiri keindahan di sana. Padahal, saya yakin meskipun dengan skill yang pas-pasan foto pemandangan di sana sangatlah layak.

Berdasarkan cerita yang pernah didengarnya, jika malam hari dan cuaca mendukung pemandangannya akan lebih indah lagi. Tepat dari kami berdiri, pada malam hari konon bisa terlihat deretan lampu di Kanyoran, Semen.

Memang, hanya sisi timur yang mengarah ke  Semen tersebut yang “terbuka”. Sedangkan lainnya tertutup perbukitan Wilis yang memiliki banyak nama tersebut. Namun, untuk yang mengarah ke Kanyoran berbeda. Seakan pintu yang dibuka.

Sejenak saya berpikir apakah memang kondisi itulah yang dijadikan “pintu masuk” pesawat menuju landasan. Meskipun penuh spekulasi, Mas Dheny juga mengamininya.

“Bisa jadi keluar-masuknya pesawat dari timur sana. Tapi mungkin juga pilot langsung bermanuver ke arah tujuan penyerangan,” ujarnya.

Landasan yang menghadap “pintu” tersebut memang layak sebagai keluar-masuknya pesawat. Jarak antara kanan-kiri pegunungan sangatlah lebar.

Posisi landasan yang menghadap tepat ke “pintu” tersebut agaknya dapat memudahkan pilot. Mereka tidak perlu mengitari landasan apabila hendak melakukan pendaratan. Dari jauh pilot sudah bisa menurunkan kecepatan dan menyeimbangkan sayap pesawat dengan landasan.

Dengan pengetahuan yang sangat sedikit tentang kedirgantaraan, kami membayangkan pesawat Jepang dulunya terbang. Melesat di antara perbukitan yang ada di sana. Terbang di antara rimbun dan hijaunya rangkaian Gunung Wilis yang menawarkan sebuah eksotisme.

Pemilihan landasan tersebut nampaknya bukan sekadar asal-asalan belaka. Pasalnya, lokasi pegunungan Wilis merupakan titik yang strategis. Yaitu terletak di antara beberapa daerah di Jawa Timur. Yaitu Nganjuk, Madiun, Trenggalek, Tulungagung, Kediri, dan Ponorogo.

Dengan lokasinya yang strategis tersebut, sangatlah mendukung untuk mobilitas pesawat Jepang. Jika ingin melakukan penyerangan terhadap daerah lawan, mereka tinggal menyasarnya dari landasan bukit Ngebrak, Wilis tersebut.

Gunung Wilis sendiri memang terletak di antara beberapa daerah tersebut. Banyak daerah yang bernaung di lerengnya. Mencari kehidupan dan penghidupan dari hadiah Sang Pencipta tersebut.

Agaknya beberapa alasan itulah yang mendasari tentara Jepang memilih lokasi tersebut. Banyak sisi positif Gunung Wilis yang menjadikan tentara Jepang memanfaatkannya sebagai markas “tersembunyi”.

Belum lagi dengan dikelilingi rangkaian pegunungan yang ada di sana. Berbagai puncak tersebut juga bisa dijadikan benteng penghalang. Yaitu dapat melindungi mereka dari serangan musuh.

Pun dengan pesawat mereka yang akan mendarat atau lepas landas. Dengan rangkaian pegunungan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai penghalang dari bahaya yang disebabkan lawan.

“Saya malah menduga di puncak-puncak Wilis dulu ada tentara bersenjata yang berjaga-jaga,” celetuknya.

Hal tersebut bukan tidak mungkin terjadi. Puncak Wilis memang ada banyak. Bahkan memiliki ketinggian yang hampir setingkat. Kalau pun berbeda, tidak akan begitu signifikan.

Selain dijadikan sebagai pengintai, puncak tersebut bisa dimanfaatkan untuk sarana pertahanan. Jadi, tentara di sana juga berwenang untuk menghalau serangan lawan.

“Jika ada serangan udara dari lawan, sebelumnya sudah terdengar dan bisa jadi persiapan tentara di sana,” tuturnya.

Sayangnya, tidak ada pembuktian atau ekpedisi kami ke sana. Alhasil, tidak ada pengamatan atau bahkan bukti penguat. Hanya saja, jika dilihat secara kasat mata, puncak-puncak tersebut memang sangat potensial.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia