Sabtu, 15 Dec 2018
radarkediri
icon featured
Politik
Jalan menuju jembatan Wijayakusuma

Bakal Menyempit di Perlintasan

Tak Boleh Bongkar Palang Rel KA

06 Desember 2018, 19: 25: 26 WIB | editor : Adi Nugroho

ALAT BERAT: Pekerja melakukan pengurukan tanah dengan ekskavator di timur perlintasan kereta api Desa Banggle, Ngadiluwih, Selasa (4/12).

ALAT BERAT: Pekerja melakukan pengurukan tanah dengan ekskavator di timur perlintasan kereta api Desa Banggle, Ngadiluwih, Selasa (4/12). (ANDIKA ATTAR - RADARKEDIRI.JAWAPOS.COM)

KEDIRI KABUPATEN - Jalan menuju jembatan Wijayakusuma di Desa Banggle, Ngadiluwih hingga ke jalan trans-nasional Kediri – Tulungagung akan memiliki lebar yang sama. Yaitu sekitar 7,5 meter. Hanya, jalan itu bakal menyempit 500 meter menjelang jalan trans-nasional itu. Tepatnya saat jalan melintasi perlintasan kereta api.

Mengapa bakal menyempit? Itu karena, kabarnya, pihak PT KAI tidak membolehkan palang pintu dibongkar. “Iya, jadinya nanti akan menyempit. Alasannya karena faktor keselamatan,” ujar Foreman (kepala regu) Ade Tuwes kepada Jawa Pos Radar Kediri saat ditemui di lokasi pengerjaan proyek pada Selasa (4/12).

Sejatinya pihaknya berniat agar jalan di sana bisa rata memiliki lebar yang sama. Tidak terkecuali untuk jalan yang melalui perlintasan kereta tersebut. Namun dari hasil berkoordinasi dengan pihak terkait, izin tersebut tak kunjung didapatkan.

Pihaknya pun akhirnya mengikuti aturan dan kesepakatan yang berlaku. Alhasil, ukuran lebar jalan akan mengikuti yang sebelumnya. Termasuk untuk palang pintu perlintasan kereta beserta tiang yang ada di sana tidak dilepas. Lebarnya sendiri sekitar 3 – 4 meter.

Meskipun begitu, pihaknya mengaku tidak mempermasalahkan hal tersebut. Ia menyadari bahwa tiap instansi memiliki kebijakannya sendiri-sendiri. “Kami sangat memahami alasan keselamatan tersebut,” akunya.

Sementara itu, pihaknya melanjutkan pengerjaan oprit perlintasan kereta tersebut. Yaitu melakukan pengurugan dengan tanah sebelum nantinya dilakukan pengaspalan. Adapun pengurugan tersebut dilakukan pada sisi sebelah timur dari perlintasan kereta tersebut.

Lebih lanjut, untuk oprit tersebut pihaknya akan membuat menjadi lebih landai. Tidak seperti yang sebelumnya yang terlalu menanjak. Hal tersebut dilakukan agar memudahkan pengendara dari kedua sisi untuk saling melihat. “Biar pengendara dari jauh sudah bisa memprediksi kendaraan dari lawan arah,” tuturnya.

Pengurukan itu sendiri dikerjakan menggunakan ekskavator atau beko. Sedangkan materialnya sendiri dari tanah. Kemudian dipadatkan menggunakan lengan ekskavator tersebut.

Saat pengerjaan tersebut, pihaknya sejatinya telah menutup akses jalan bagi pengendara. Entah itu pengendara roda dua atau lebih. Terutama untuk pengendara yang akan melewati perlintasan kereta tersebut. Lebih lanjut, hanya kendaraan proyek saja yang boleh melintas di sana.

Meskipun begitu, masih banyak pengendara roda dua yang melewati jalur tersebut. Sedangkan untuk kendaraan roda empat sudah tidak bisa lewat jalur tersebut. Selain mengganggu proyek, hal tersebut juga berpotensi membahayakan keselamatan pengendara itu sendiri.

Lebih lanjut, ia mengaku bahwa pihaknya telah memasang penanda bahwa jalan tidak bisa dilalui kendaraan. Sehingga harus memutar atau mencari jalur lain. Sayangnya, banyak pengendara roda dua yang tetap nekat melaluinya.

Tak jarang pihaknya pun terlibat adu argumen dengan pengendara roda dua. Pihaknya menekankan akan potensi bahaya tersebut. Sedangkan kebanyakan pengendara tak terima memutar karena lebih dekat melalui jalur tersebut. “Kami akhirnya mengalah. Tetapi keselamatan ditanggung sendiri-sendiri,” pungkasnya.

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia