Sabtu, 15 Dec 2018
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Kasus Pembuangan Bayi: Polisi Periksa Dua Orang yang Dicurigai

05 Desember 2018, 18: 39: 03 WIB | editor : Adi Nugroho

bayi

SIAPA PENGUBURNYA?: Petugas pengevakuasi jenazah bayi. (ANDHIKA ATTAR - RadarKediri.JawaPos.com)

KEDIRI KABUPATEN - Polisi terus berusaha mengungkap kasus pembuangan bayi di Dusun Bukaan, Desa Keling, Kepung. Penegak hukum juga telah memeriksa dua orang yang dicurigai. Namun, dua orang itu akhirnya dilepas karena belum menunjukkan indikasi kuat sebagai pelaku pembuangan bayi.

“Kami telah periksa dua orang yang kita curigai sebagi pelaku. Namun sayangnya masih nihil,” ujar Kasihumas Polsek Kepung Aiptu Sugianto kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Pada dua orang yang dicurigai itu polisi tak hanya menginterogasi saja.  Tapi juga melakukan pemeriksaan medis. Dari pemeriksaan medis itu keduanya tidak menunjukkan hal yang mencurigakan. Meskipun begitu, polisi mengaku tetap akan melakukan pengembangan. Termasuk juga melakukan penyelidikan dan memeriksa saksi-saksi lainnya.

Meski belum mengerucut akan satu atau dua nama, petugas sudah memiliki beberapa dugaan. Salah satunya adalah kemungkinan bahwa pelakunya dari warga sekitar.

Meskipun baru dugaan, ada beberapa alasan pendukung yang mendasari. Salah satunya adalah lokasi pembuangan bayi. Menurutnya, kalau orang dari jauh pasti akan membuang bayi tersebut di pinggir jalan besar. Minimal jalan desa. Namun, pada kasus tersebut pelaku menguburkan bayinya relatif masuk ke dalam perkampungan warga.

Seperti diberitakan sebelumnya, bayi malang tersebut dikubur di pekarangan Sumarti, 63. Untuk menuju lokasi tersebut harus melewati suatu gang. Selanjutnya, melewati beberapa rumah warga baru bisa menuju barongan (rumpun bambu).

Oleh karena beberapa indikasi tersebut, ia memperkirakan pelaku bukan dari orang jauh. “Dimungkinkan pelakunya masih dalam wilayah Kecamatan Kepung,” ungkapnya.

Berkaca dari beberapa kasus pembuangan bayi pada waktu terakhir, kebanyakan pelaku adalah dari pihak perempuan. Seperti halnya yang terjadi di Desa Krenceng, Kepung. Kasus itu juga menyeret pelaku sang ibu. Yang tega membuang buah hatinya tersebut. Meskipun begitu, pihak pria kemudian juga ditetapkan sebagai pelaku oleh kepolisian.

Pada kejadian di Desa Keling, terbuka kemungkinan pelakunya perempuan. Menurutnya, hal tersebut didasarkan karena pihak perempuan kebanyakan yang menanggung malu. Pasalnya, kebanyakan kasus seperti itu terjadi lantaran hubungan gelap atau perselingkuhan. Yang pasti, kehadiran sang buah hati memang tidak dikehendaki oleh kedua belah pihak.

“Pihak perempuan biasanya yang paling merasa menanggung malu karena tahu kehamilannya tersebut sebuah aib,” tuturnya.

Selain itu, langkah membuang atau mengubur bayi tersebut juga sebagai bentuk menghilangkan jejak. Yaitu pelaku berpikiran jika dikubur akan lebih rapi dan tidak diketahui oleh keluarga maupun kepolisian.

Meskipun begitu, bukan berarti pelaku sudah mengerucut terhadap pihak perempuan saja. Pihak pria juga tetap dimungkinkan menjadi pelaku utama. Pasalnya, jika melihat hasil galian yang diperkirakan menggunakan linggis atau gancu tersebut relatif rapi.

Untuk diketahui, Sumarti mengaku melihat gundukan sekitar pukul 05.30 WIB. Yaitu tepat berada di rerimbunan bambu yang tumbuh di pekarangannya. Ia lalu memanggil anak perempuannya, Siti Khotimah, 37.

Hingga akhirnya, setelah beberapa kali disekop terlihatlah bayi malang tersebut. Pertama yang terlihat adalah kepala bagian belakang dan kaki. Mereka kemudian memanggil kepala dusun (kasun) setempat. Lalu sekitar pukul 07.00 WIB, polisi mendapatkan laporan tersebut.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia