Sabtu, 15 Dec 2018
radarkediri
icon featured
Features

Jaminem, Nenek 94 Tahun yang ‘Setia’ Berjualan Onde-Onde

Tak Ingin Bergantung, Ingin Selalu Memberi

05 Desember 2018, 18: 32: 30 WIB | editor : Adi Nugroho

penjual onde onde

MANDIRI: Mbah Jaminem saat menjajakan dagangan onde-ondenya di Jalan Dhoho Minggu (2/12). (RAMONA VALENTIN - Radar Kediri. JawaPos.com)

Nenek ini memilih tetap berjualan di usia senjanya. Tak ingin berpangku tangan mengharap pemberian orang lain.

 

RAMONA TIARA VALENTIN

Berkulit kuning langsat. Mengenakan jarit bermotif parang rusak. Dipadukan dengan atasan apapun. Dengan rambut memutihnya yang digelung. Begitulah sosok Mbah Juminem sehari-hari. Nenek tua penjual jajanan tradisional, onde-onde.

“Sayang...onde-ondenya sayang, ayo ayo...tanggal muda,” suara Jaminem meluncur di tengah keriuhan Jalan Dhoho siang itu. Menawarkan dagangannya. Mbah Nem dengan lincahnya menawarkan dagangan yang ia gelar. Tak melulu menggendongnya sambil keliling. Mbah Nem juga sering menggelar lapak onde-ondenya di beberapa taman di Kota Kediri. Seperti di Taman Brantas.

“Umurku 94 tahun. Isih enom to (masih muda kan, Red)?” jelasnya pada Jawa Pos Radar Kediri sembari menghitung uang hasil penjualannya siang itu.

Soal usia itu menjadi hal yang paling sering ditanyakan oleh konsumennya. Apalagi bila mengetahui bila kaki-kaki tuanya itu tak menghalangi untuk berjalan kaki berkilo-kilometer jauhnya. Sekadar untuk menjajakan onde-onde.

Ya, Mbah Nem ini rumahnya di Kelurahan Pakelan. Bila diukur, tempat berjualannya di Jalan Dhoho berjarak sekitar satu kilometeran. Biasa ditempuh dengan berjalan kaki.

Jarak itu bisa bertambah jauh lagi bila dia pindah jualan di Taman Brantas atau Taman Wisata Gunung Klotok. Yang terakhir itu jaraknya bisa mencapai lima kilometer. Dan, hebatnya, itu ditempuh dengan berjalan kaki.

Nenek ini mengakui tetap melakoni aktivitas itu karena tidak suka diam diri di rumah. Baginya, berdiam diri di rumah justru mudah mendatangkan penyakit. Apalagi di usia senja sepertinya. Perempuan yang saat itu berbaju kuning ini juga menjelaskan bila ia harus tetap memiliki uang untuk memenuhi kebutuhannya. Saat ditanya apakah anak-anaknya tidak mampu mencukupi kebutuhannya? Mbah Nem menjawab dengan senyuman. “Anak-anakku wes rumah tangga kabeh, aku emoh ngrusuhi (sudah rumah tangga semua, saya tidak mau mengganggunya, Red),” paparnya.

Baginya, anak-anaknya sudah memiliki keluarga sendiri. Dan harus membiayai kebutuhan serta anak-anaknya untuk sekolah.

Mbah Nem berjualan onde-onde sejak 65 tahun lalu. Tidak banyak yang berubah dari caranya berdagang. Masih tetap menggendong dagangannya, berkeliling dan berhenti di satu tempat keramaian.

Selain itu, Mbah Nem nyaris setiap hari berjualan. Tak peduli apa itu hari libur atau bukan. Dia baru tak berjualan bila sedang sakit. “Ya alhamdulillah jarang sakit, setiap hari obah terus (gerak terus, Red),” imbuhnya.

Mbah Nem mempersiapkan onde-ondenya secara mandiri. Pukul satu dini hari ia sudah terjaga. Membuat adonan dan memasak onde-ondenya. Tak jarang juga ia dibantu anaknya, yang juga sibuk berdagang setiap hari.

Dari berjualan onde-onde inilah ia menggantungkan nasibnya. Walau tak setiap hari selalu habis laku terjual. Mbah Nem tidak mempermasalahkan hal itu. Bila ada onde-onde tersisa ia membagikannya ke tetangganya. Atau ke anak-anak yang dia temui di jalan. Sehari, rata-rata Mbah Nem mendapatkan uang Rp 75 ribu. Kadang bisa lebih.

Tak ada pikiran Mbah Nem kapan dia berhenti dari aktivitas berdagangnya itu. Selama badan masih bisa dibuat bergerak, dia mengaku tak ingin berharap belas kasih orang lain. Apalagi dia masih ingin memberi pada anak cucunya.

Perempuan ini hanya berharap meninggal dalam kondisi baik. “Gusti ora milih-milih dino, kapan wae iso mati (Tuhan tidak memilih-milih hari. Kapan saja bisa meninggal, Red),” tegasnya.

Tak terlalu berharap lebih pada materi, ia hanya berharap agar tetap bisa memberi. Walaupun tidak dalam jumlah banyak. Ia menceritakan bila sepanjang hidupnya tidak terlalu iri dengan nasib orang lain. Baginya, bersyukur sudah melebihi segalanya. Karena Tuhan tidak membiarkan hambanya kelaparan.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia