Sabtu, 15 Dec 2018
radarkediri
icon featured
Show Case
Ainun Jaryah Bahrir (*)

Metode Identifikasi Korban pada Bencana Massal

05 Desember 2018, 17: 44: 22 WIB | editor : Adi Nugroho

Ainun Jaryah Bahrir, Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Forensik Universitas Airlangga Surabaya

Ainun Jaryah Bahrir, Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Forensik Universitas Airlangga Surabaya

Identifikasi adalah sebuah upaya dalam mengenali jati diri seorang manusia, baik yang masih hidup maupun telah meninggal. Identifikasi pada bencana massal adalah serangkaian proses pengenalan jati diri pada korban massal yang terjadi akibat bencana. Serangkaian proses identifikasi pada bencana massal tersebut meggunakan metode Disaster Victim Identification (DVI) yang direkomendasikan oleh Interpol.

DVI merupakan prosedur yang telah ditentukan untuk mengidetifikasi korban dalam sebuah insiden atau bencana yang dapat dipertanggung-jawabkan kepada masyarakat serta merupakan bagian dari investigasi, rekonstruksi tentang sebab bencana.

Serangkaian proses DVI tersebut meliputi 5 tahapan yang mana pada setiap tahapan memiliki keterkaitan satu dengan yang lainnya, tahapan pertama adalah The Scene atau Tempat Kejadian Perkara (TKP) adalah tempat terjadinya peristiwa dan akibat yang timbulkan oleh peristiwa tersebut, atau tempat-tempat lain ditemukannya korban dan barang-barang bukti yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Saat dilakukan penanganan di TKP runtutan yang dilakukan oleh tim DVI antara lain 1) Memberikan tanda dan label di TKP yang meliputi pembuatan sektor-sektor atau zona pada TKP dengan ukuran 5x5 m yang sesuai dengan situasi dan kondisi geografis, memberikan tanda pada setiap sektor, memberikan label orange pada jenazah dan potongan jenazah, label diikat pada tubuh atau ibu jari kanan jenazah, memberikan label putih pada barang-barang pemilik yang tercecer, membuat sketsa dan foto tiap sektor. 2) Evakuasi dan transportasi jenazah dan barang, memasukkan jenazah dan potongan jenazah dalam kantong jenazah dan diberi label sesuai label jenazah, memasukkan barang-barang yang terlepas dari tubuh korban dan diberi label sesuai nama jenazah, diangkut ke tempat pemeriksaan dan penyimpanan jenazah dan dibuat berita acara penyerahan kolektif.

Tahapan kedua adalah The Mortuary yaitu pengumpulan data-data post mortem, data hasil pemeriksaan forensik yang ditemukan pada jenazah korban. Dalam penanganan post mortem ini tim DVI menerima jenazah atau potongan dan barang dari unit TKP, lalu melakukan registrasi ulang dan mengelompokkan kiriman tersebut berdasarkan jenazah utuh tidak utuh, potongan jenazah dan barang-barang korban, lalu membuat foto jenazah serta mencatat ciri-ciri korban sesuai formulir yang tersedia, mengambil sidik jari korban dan golongan darah, mencatat gigi-geligi korban, membuat foto ronsen jika dibutuhkan, melakukan autopsi serta mengambil data-data ke unit pembanding data.

Tahapan ketiga adalah Ante Mortem information yaitu pengumpulan data-data yang penting dari korban sebelum bencana terjadi atau ketika korban belum meninggal, data-data tersebut yaitu nama, umur, berat badan, tinggi badan, golongan darah,  warna kulit, warna rambut, mata, cacat, tattoo, pakaian, perhiasan serta kepemilikan lainnya lalu memasukkan data-data yang ada ke formulir yang tersedia, mengelompokkan data-data ante mortem berdasarkan jenis kelamin dan umur, lalu mengirimkan data-data yang telah diperoleh ke unit pembanding data.

Tahapan ke empat adalah Reconciliation yaitu merupakan pencocokan data-data dengan berbagai metode identifikasi berupa identifikasi primer, sidik jari, catatan gigi, DNA dan identifikasi sekunder, deskripsi personal atau temuan medis dan harta benda milik korban. y Lebih detailnya pada tahapan ke empat ini team DVI mengkoordinasikan rapat-rapat penentuan identitas korban antara unit TKP, unit data ante mortem dan unit post mortem lalu mengumpulkan data-data korban yang dikenal untuk dikirim ke tim identifikasi serta mengumpulkan data-data tambahan dari unit TKP, post mortem dan ante mortem untuk korban yang identitasnya belum diketahui.

Tahapan ke lima atau tahapan terakhir adalah Debriefing yaitu merupakan evaluasi dari pelaksanaan DVI, detailnya pada tahapan ini tim meninjau kembali semua pelaksanaan yang telah dilakukan, mengetahui dampa positif dan negatif operasi DVI, menentukan keefektifan persiapan tim DVI secara psikologis, dan melaporkan temuan serta memberikan masukan untuk meningkatkan operasi berikutnya.

Pada kasus jatuhnya pesawat Lion Air JT-610, tahapan yang dilakukan oleh tim DVI dalam mengidentifikasi korban bencana menggunakan tahapan-tahapan yang sama, hanya saja dalam metode pencocokan data-data pada tahapan Reconciliation identifikasi primer ke-3 yaitu DNA adalah metode yang paling banyak digunakan, hal ini melihat badan korban yang ditemukan di perairan Kawarang, Jawa Barat tersebut tidak berbentuk utuh, hanya berupa potongan-potongan saja. (Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Forensik Universitas Airlangga Surabaya)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia