Sabtu, 15 Dec 2018
radarkediri
icon-featured
Events
Catatan Ekspedisi Wilis I

Kisah Menarik di Era Kolonial dan Kemerdekaan (1)

Landas Pacunya Langsung menuju Jurang

05 Desember 2018, 17: 32: 28 WIB | editor : Adi Nugroho

ekspedisi wilis

MENURUN: Kontur tanah di Gunung Wilis yang diduga menjadi lokasi landasan pacu Jepang pada Perang Dunia II. (M ARIF HANAFI - RadarKediri.JawaPos.com)

Pegunungan Wilis tak lepas dari cerita-cerita di masa kolonial dan kemerdekaan. Termasuk cerita tentang bekas landas pacu pesawat terbang di era penjajahan Jepang.

Kontur tanah di lokasi yang diperkirakan sebagai landasan pesawat perang Jepang tersebut tergolong landai. Namun jangan dibayangkan datar seperti landasan pesawat pada umumnya. Kondisinya saat ini juga tak bersahabat.  Rimbun ilalang cukup menyusahkan jalan kami. Tangan harus disibukkan dengan menyibak ilalang tersebut. Pasalnya, ilalang di sana agaknya mendapat nutrisi yang tak kurang-kurang. Bagaimana tidak, tingginya hampir seukuran kami.

Setelah sibuk menyibak ilalang, kontur tanah berubah menurun. Tepat menghadap lembah tebing. Tiba-tiba saja Eko Dheny Kurniawan yang memimpin rombongan menghentikan langkahnya.

“Dari sisi kontur tanah sangat memungkinkan. Karena meski menurun tapi langsung menghadap jurang,” ujarnya sambil menunjuk arah jurang tersebut.

Jika diamati lebih lanjut, landasan pesawat perang Jepang di Wilis itu sama seperti yang ada di Papua sekarang ini. Yaitu Bandara Amenggaru Laga. Sebuah bandara kecil yang berada di Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua.

Di bandara perintis tersebut, ujung landasannya juga berupa jurang. Sementara bagian ujung yang lainnya agak menanjak‎. Sehingga bisa menghambat laju pesawat ketika mendarat.

Kondisi mendarat dengan elevasi tersebut memang ada keuntungannya tersendiri. Pada saat akan lepas landas, kondisi yang menurun akan membantu gaya dorong pesawat. Belum lagi ditambah dengan daya atau power dari pesawat itu sendiri.

Sementara itu, apabila ada pesawat yang akan mendarat, tingkat elevasi juga bisa menolong. Kecepatan pesawat bisa diimbangi dengan kemiringan tersebut. Alhasil, bisa juga dijadikan sebagai alat bantu pengereman.

Apabila berkaca dari Bandara Amenggaru Laga tersebut, landasan di Wilis juga tak berbeda jauh. Dari kondisi pegunungan hingga kontur tanah yang menghadap jurang juga sama.

Hanya saja, jika dibandingkan lebih detail, tidak ada aspal di Wilis. Sedangkan di Bandara Amenggaru Laga jalannya telah diaspal. Meskipun begitu tantangan tersebut agaknya tidak akan terlalu menjadi masalah. Apalagi untuk pilot perang sekelas Jepang yang telah terlatih dalam hal kedirgantaraan.

Meskipun begitu, bukan berarti landasan dengan kemiringan tidak memiliki resiko. Tetap ada risiko yang yang harus ditanggung dan dihadapi oleh para pilot pesawat perang tersebut. Salah satu yang menjadi musuh bebuyutan adalah tingkat kelicinan landasan.

Pasalnya dengan landasan yang licin apalagi dengan kemiringan tertentu, sangat mungkin pesawat bisa tergelincir. Yang lebih parahnya lagi, jika tergelincir sudah pasti akan disambut dengan tebing dan jurang.

Namun dengan pesawat yang diduga Mitsubishi A6M Zero, nampaknya hal tersebut relatif bisa diatasi. Pada masanya, pesawat tersebut merupakan salah satu armada yang ditakuti lawan. Kehebatannya tersebar kepada lawan-lawan Negeri Matahari Terbit tersebut. Pesawat tersebut juga menjadi strategi Jepang untuk melakukan operasi kamikaze.

Pesawat terbang bersayap tunggal tersebut dilengkapi roda pendaratan yang dapat ditarik masuk dan kokpit tertutup. Zero adalah salah satu pesawat termodern di dunia ketika baru selesai dibuat.

Pesawat itu memiliki sayap kecepatan rendah dengan gaya angkat cukup besar dan beban sayap sangat rendah. Berbagai keistimewaan tersebut menjadi alasan utama pesawat Zero memiliki kemampuan manuver yang fenomenal. Hingga akhirnya, dari Zero dapat mengungguli semua pesawat tempur sekutu pada zamannya tersebut.

Beberapa kemungkinan tersebut menjadi bahan perbincangan kami bertiga kala itu. Sambil menghadap arah timur di mana jurang tersebut mengarah, kami berusaha memantapkan dugaan. Yaitu landasan tersebut memang layak dan masuk akal jika dijadikan runway pesawat Jepang.

Meskipun begitu, ketika kami berkeliling sekitar lokasi, tidak ada bukti penunjang yang kami dapatkan. Sesuatu yang berbau zaman penjajahan Jepang tak kunjung kami temukan.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia